Selasa, 29 Juni 2010

Aristoteles dan Buddha...

KOMPAS.com/ FIKRIA HIDAYAT
*Oleh Indra Gunawan M**


*KOMPAS.com —* Dua nama ini adalah orang besar dalam sejarah.
Aristoteles, hidup sekitar 300 tahun sebelum Masehi, adalah filsuf yang
bersama Socrates dan Plato meletakkan dasar-dasar filsafat Barat.
Pandangan Aristoteles jadi dogma filsafat skolastik.

Sementara Siddharta Gautama adalah pangeran yang meninggalkan istana
untuk menghayati derita dan duka kehidupan. Lewat kontemplasi dan semadi
berkepanjangan di bawah pohon bodhi, ia jadi orang yang tercerahkan
(Buddha). Ia hidup sekitar 200 tahun sebelum Aristoteles.

Kedua tokoh mempunyai sistem kepercayaan dan logika berbeda dalam
memandang persoalan. Menarik mengkaji pendekatan mereka terhadap
berbagai persoalan aktual, khususnya yang kontroversial, seperti kasus
Bibit-Chandra, Anggodo, Antasari, Century, Sri Mulyani, atau Susno Duadji.

Adapun kajian "Fuzzy Logic" atau "Logika Samar" (baca misalnya "Fuzzy
Thinking", Bart Kosko, Hyperion, 1993) coba mengontraskan perbedaan
kedua pendekatan. Dalam pandangan dunia, Aristoteles yang dikenal adalah
bivalensi, dua nilai, benar atau salah, hitam atau putih, positif atau
negatif, siang atau malam, A atau bukan A.

Tidak ada tempat untuk semu atau abu-abu, perbauran di antara keduanya.
Sementara logika Buddha menerima adanya multivalensi atau banyak nilai.
Di antara putih sampai hitam ada sekian banyak kemungkinan gradasi
warna. Dari nol hingga angka satu ada begitu banyak bilangan pecahan
yang menggambarkan berbagai derajat perkembangan.

Ada celah yang sukar disebut siang atau malam di tengah remangnya senja
atau samarnya fajar. Logika Aristoteles lebih dominan diterima di Barat.
Mereka lebih menghargai kepastian di tengah ketidakpastian seperti dalam
aritmatik sederhana (2+2>4) dan kurang menghargai kontradiksi atau paradoks.

Namun, tak semua orang Barat berpikir dalam kerangka dikotomi. Misalnya,
Heraclitus, filsuf Yunani yang hidup 500 sebelum Masehi. Ia dikenal
dengan ucapannya, "Segala sesuatunya berubah, kecuali perubahan itu
sendiri".

Sebagian perubahan dapat diprediksi, sebagian lain berlangsung acak, tak
dapat dipahami atau dikenali. Epigram lain, "Segala yang bertentangan
mendatangkan manfaat" atau "Jalan turun dan jalan naik adalah satu dan
sama". Atau Einstein yang pernah mengutarakan, "Sejauh hukum matematika
menunjuk ke realitas, maka dia tidak pasti. Dan sejauh dia pasti, dia
tak merujuk ke realitas". Logika samar tampak dalam ungkapan di atas.

*Simplisitas atau akurasi*

Logika Buddha "Fuzzy Logic" lebih dulu dikenal di dunia Timur. Selain
dalam ajaran Buddha, juga ditemukan pada Zen dan Taoisme yang menyukai
teka-teki dan paradoks kehidupan. Yin dan Yang bukan sekadar dua hal
berbeda, melainkan satu keniscayaan yang saling melengkapi,
komplementer. Dalam Yin terdapat Yang dan sebaliknya.

Oleh pengaruh pendidikan yang diterima di sekolah, kebanyakan kita lebih
terbingkai dalam logika Aristoteles. Kita perlu pegangan atau kepastian
di tengah kegalauan agar hidup lebih lancar. Kalau perlu persoalan
disederhanakan untuk menghindari keruwetan yang tak perlu. Buat
sebagian, di mana persoalan sudah terang benderang seperti dalam
aritmatika sederhana, sikap itu dapat dibenarkan.

Namun, untuk persoalan kompleks dan penuh kontroversi seperti contoh di
atas (Bibit-Chandra, Susno Duadji, Sri Mulyani, dan sebagainya)
pendekatan komprehensif dari berbagai kajian lebih menghasilkan presisi.

Sikap tak berpihak, obyektif untuk menemukan akurasi dengan berpegang
pada kepentingan umum agaknya perlu dikedepankan. Yang jadi persoalan,
kata "kepentingan umum" sudah diklaim para pihak yang bersengketa. Kalau
kita mulai memahami logika Buddha, tampaknya orang tak akan mudah
terjebak dalam dikotomi yang gencar dikembangkan sebagian politisi.

Mereka lewat "layar kaca" (TV) atau media lain berusaha membentuk opini
publik berdasar sikap subyektif, apriori, perasaan suka atau tak
sukanya. Sudah tentu argumentasinya dibungkus lewat "data" dan "fakta"
yang disaring lewat kacamata kelompoknya sendiri.

Dengan "Fuzzy Logic", kita akan lebih teliti dan kritis mengikuti rekam
jejak mereka yang memakai standar ganda. Di satu pihak, mereka lantang
menyerukan berantas korupsi khususnya yang disangkakan terhadap lawan
politiknya. Sementara di pihak lain, mereka kuncup atau diam seribu
bahasa jika tuduhan menimpa kelompoknya.

Secara ringkas, bivalensi dalam Aristoteles bertumpu pada dua pilihan
"ini" atau "itu". Ibarat sebuah film, pelaku lelakonnya terbagi hanya
dua: "orang baik" dan "orang jahat". Sementara multivalensi dalam Logika
Samar mencoba melihat nuansa-nuansa dalam menangkap kebenaran ada "orang
baik tetapi ada cacatnya" dan "orang jahat tetapi ada segi baiknya". Tak
ada yang sempurna.

"Fuzzy Logic" ini tak hanya bergerak di tataran teori, sistem
kepercayaan atau filsafat, melainkan membumi terkait dunia praktis yang
menghasilkan produk-produk. Lewat prinsip dan sistem "Fuzzy Logic",
sejumlah perusahaan seperti Matsushita, Mitsubishi, Sharp, Hitachi,
Samsung, dan Daewoo telah mampu menghasilkan produk yang sanggup
melakukan penyesuaian, tidak terbatas pada dua pilihan.

AC yang bekerja terlalu lama dan kelewat dingin akan otomatis berhenti
sementara untuk kemudian menyala kembali kalau suhu naik melewati ambang
batas yang ditentukan. Atau mesin cuci yang mampu secara adaptif
menyelaraskan diri sesuai tingkat kekotoran, jenis tekstil, serta beban
dan volume pakaian yang harus dibersihkan.

Tampaknya, "Fuzzy Logic" adalah pendekatan menarik dan penting dalam
mengubah pola pikir bukan saja dalam mencari kebenaran kasus, melainkan
juga dalam menciptakan produk inovatif yang lebih canggih dan lebih bermutu.

/*Indra Gunawan M, Penulis Buku Kisah-Kisah Kebijaksanaan Zen/


Sumber:
kompas.com

Senin, 21 Juni 2010

Marak, Plagiarisme Internet di Sekolah

*Rachmatunnisa* - detikinet

*Jakarta* - Banyak dari mahasiswa dan pelajar diketahui kerap menjiplak
sumber artikel di internet secara mentah-mentah untuk tugas mereka.

Sebuah studi di Inggris bahkan menyebutkan, saat ini praktik plagiarisme
dari internet marak dilakukan para pelajar atau mahasiswa dan jumlahnya
terus meningkat. Hal ini bisa diketahui karena sejumlah sekolah dan
universitas di negara Ratu Elizabeth itu menggunakan sebuah software
komputer khusus untuk mendeteksi murid-murid yang menjiplak sebuah karya
dari internet.

Disitat* detikINET* dari Guardian, Senin (21/6/2010), ada 90 sekolah dan
lebih dari 130 universitas menggunakan software tersebut untuk melakukan
/cross check/ ulang tugas-tugas siswa yang menggunakan bahan dari
internet. Tidak dijelaskan bagaimana cara kerja software ini, namun
laporan terbaru menyebutkan, jumlah siswa yang melakukan plagiat
meningkat dua kali lipat dibandingkan dua tahun lalu.

"Melihat hal ini, para kepala sekolah merasa perlu menanamkan pemahaman
kepada para siswa tentang bagaimana menangkap intisari dari sebuah
sumber bacaan di internet, ketimbang hanya meng/copy-paste /dan
mengakuinya sebagai karya mereka," ujar Barry Calvert, dari perusahaan
nLeraning yang menyediakan software pendeteksi praktik plagiarisme.

Calvert menambahkan, pemahaman tentang plagiarisme perlu ditanamkan
sedini mungkin. Jika bisa, ketika anak-anak mulai menginjak usia tujuh
tahun.

"Kita perlu memberikan pemahaman terhadap siswa bahwa internet bukan
sekadar gudang informasi yang bisa seenaknya dijiplak. Karena
sesungguhnya, berbagai sumber informasi yang ada di dalamnya merupakan
hasil karya orang lain yang patut dihargai," tutupnya.
* ( rns / ash ) *


Sumber:
detik.com

Kamis, 17 Juni 2010

Censorship is Advertising Paid by The Government

*Penulis: Donny BU* - detikinet

*Jakarta* - Walaupun gerakan Internet Sehat (www.internetsehat.org)
didukung pula oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
(APJII), ternyata tidak semua hal memang harus menjadi kesepakatan
bersama. Setidaknya, saya sangat tidak sepakat dengan pernyataan Ketua
Umum APJII yang mengatakan bahwa, ?kejadian penyebaran video porno
beberapa waktu lalu merupakan dampak lambatnya penyaringan konten di
Internet,? (*detikINET:* *Blokir Konten, APJII Tunggu Laporan
Masyarakat* <http://bit.ly/9cGVKc>).

Penyebaran konten negatif di Internet, termasuk video porno mirip
siapapun, bukanlah merupakan dampak dari ketiadaan ataupun kelambatan
filterisasi, penyensoran ataupun pemblokiran di Internet. Internet
hanyalah sebagai sebuah medium, yang memungkinkan siapapun untuk menjadi
prosumer, produsen sekaligus konsumer informasi dan mengolaborasikannya.
Tingginya intensitas penawaran suatu informasi di Internet, seperti kata
pepatah, tak mungkin ada asap tanpa api. Terlebih dahulu, tentu telah
tercipta suatu kebutuhan akan informasi tersebut. Bagaimanapun asal
mulanya tercipta kebutuhan (mencari video porno tersebut), pastinya
melakukan filterisasi di Internet bak menggantang asap, meninggalkan
jelaga di penyaringan, tetapi asapnya tetap mengudara.

Tulisan ini tidak dalam rangka mendukung pornografi dalam bentuk apapun.
Tetapi akan menjadi salah kaprah ketika masalah ketersediaan dan
penyebaran konten negatif di Internet lalu disikapi dengan pendekatan
filterisasi. Filterisasi bukanlah panasea super manjur untuk memerangi
pornografi di Internet. Filterisasi hanyalah parasetamol belaka, sekedar
pereda gejala (panas) saja, tetapi tidak untuk menyembuhkan penyakit
sesungguhnya.
*
Imunisasi*

Dalam konteks maraknya konten negatif film porno mirip artis, apa itu
?penyakit? sesungguhnya? Ya jelas, ?penyakit?-nya adalah perilaku
(sebagian) masyarakat Indonesia (khususnya pengguna Internetnya) yang
menggemari hal yang justru ditabukan, mengorek privasi kehidupan orang
lain dan meleburnya jati diri dalam euphoria kerumunan!

Kita tahu bahwa kuman ataupun virus penyakit selalu ada di sekitar kita,
bahkan kerap menempel di kulit kita. Yang kemudian membuat diri menjadi
lebih imun tak menjadi penyakitan adalah daya tahan tubuh. Lalu mengapa
tak kita buat imun saja diri kita atau generasi muda kita dengan
berbagai konten negatif yang merupakan ?penyakit? di Internet?

Daripada lagi dan lagi melakukan tindakan reaktif - kuratif yang
berbiaya mahal dan cenderung tidak efektif, lebih baik kita melakukan
tindakan preventif. Sejak dini anak-anak harus diberi ?imunisasi?
tentang Internet. Dengan demikian mereka akan bisa membangun antibody
(daya tahan tubuh)-nya sendiri untuk melawan hal-hal yang bisa merugikan
dirinya. Selain masalah agama dan budi pekerti, perlu juga disampaikan
kepada mereka bahwa Internet adalah hal yang mengandung hal positif dan
negatif. Berikan cara untuk melakukan eksplorasi hal positif dan
menghindari hal negatifnya dan jangan ada yang ditutup-tutupi. Karena
informasi bak air mengalir dari dataran tinggi ke tempat yang paling
rendah, selalu ada jalan bagi informasi apapun yang ada di Internet
untuk bisa sampai ke tangan mereka, cepat ataupun lambat.
*
Ampas*

Saya sering menyampaikan bahwa korban dari segala hiruk-pikuk permesuman
belakangan ini, adalah bukan si pelaku ataupun yang mirip pelaku.
Korbannya adalah anak, keponakan atau murid kita yang dengan
kepolosannya ketika mencari informasi di Internet kemudian terpapar
hal-hal yang tak dicarinya, tak dibutuhkannya dan tak layak diaksesnya.

Dan yang kemudian meninggalkan ampas informasi di Internet bagi generasi
muda kita, ya perilaku kita semua yang dengan sadar maupun tidak, secara
gegap gempita dan sorak-sorai berbagi informasi esek-esek tersebut via
twitter, blog, facebook dan berbagai layanan online yang bersifat ?/once
posted online, you can never take it back/!?

Kita semua terlibat dalam mempertebal ampas di dasar gelas Internet
kita. Untuk di Internet, ampas yang ditelan pahit dan tidak bermanfaat
tersebut, tak mungkin 100% difilter keberadaannya. Cara yang paling
mudah untuk ?menetralkan? ampas tadi, adalah dengan menggelontorkan
sebanyak-banyaknya konten lokal positif di tanah air. Ibarat ampas kopi
di dasar gelas, semakin banyak air putih yang kita gelontorkan ke dalam
gelas tersebut, maka keberadaan ampas tersebut akan semakin tidak
terlihat, dan dampaknya akan makin tidak terasa.
*
Internet Sehat*

Maka bukanlah suatu yang mengada-ada jika gerakan Internet Sehat yang
diinisiasi serta dijalankan oleh ICT Watch sejak 2002 silam, mengambil 2
(dua) hal dari sudut pandang di atas untuk pengatasi maraknya konten
negatif di Internet. Pertama, dengan vaksinasi (peningkatan daya tahan
tubuh) dan kedua, dengan netralisasi ampasnya. Seluruh materi yang
terkait dengan kiat bagaimana orangtua dan guru dapat membantu anak atau
muridnya dalam menggunakan Internet yang aman, nyaman dan bijak, telah
dirangkum dalam situs Internet Sehat. Bahkan buku panduannya dalam versi
digital dapat di-download secara bebas dan gratis.

Adapun untuk menetralisir ampas yang akan abadi di Internet, berbagai
upaya terus dikembangkan. Misalnya dengan menginisiasi kompetisi
Internet Sehat Blog Award, menggalang komunitas Internet Sehat di
Facebook hingga membuat kompetisi Twitter berhadiah iPad. Harapannya,
ketika semua orang telah melewati masa euphoria memposting (di blog,
facebook, twitter) hal-hal yang cuma menjadi ampas di Internet, maka
kini saatnya kita secara bersama-sama ?bertanggungjawab? menggelontorkan
postingan positif demi masa depan kita, masa depan generasi kita, masa
depan Internet kita. Informasi program-program di atas dapat diakses di
http://www.internetsehat.org
*
Iklan Pemerintah*

Oh ya, terkait dengan filterisasi tadi. Saya percaya dengan kata pepatah
asing, ?/censorship is advertising paid by the government/?. Konten
apapun yang kemudian dinyatakan dilarang pemerintah untuk diakses,
dimiliki, dibaca, atau ditonton oleh masyarakat, justru itulah saat
ketika konten tersebut kemudian terpublikasi sangat luas dan diburu
besar-besaran. Anda coba ingat saja, ludesnya penjualan buku,
mengularnya antrian penonton film ataupun tingginya trafik pencarian
konten Internet, yang notabene adalah terjadi sesaat setelah konten
tersebut dinyatakan ?haram? tersaji di tanah air.

Jadi pilihan kembali kembali kepada Anda. Ingin dengan pendekatan
vaksinasi + netralisasi, ataukah dengan cara filterisasi / penyensoran.
Kalaupun dengan cara penyensoran, maka pastikan bahwa yang Anda lakukan
adalah self-censorship di level diri sendiri, atau paling tinggi pada
level keluarga saja. Karena di level tersebutlah penyensoran dapat
dipantau keampuhannya. Selebihnya, percayalah tidak ada teknologi yang
dapat menjamin 100% akurat dan aman untuk menyensor. Jangan terjebak
dengan cara ?pengobatan? yang terkesan cespleng (ampuh), tetapi
sebenarnya sekedar obat-obatan ala kaki lima.


/*) Penulis adalah aktifis Internet Sehat, dapat dihubungi melalui email
dbu[at]donnybu.com. Judul tulisan ini terinspirasi dari ujaran yang
disampaikan oleh Direktur Film Italia, Frederico Fellini./

Sumber:
detikinet.com

Selasa, 08 Juni 2010

Apa Perbedaan IPv4 dan IPv6 ?

*Ardhi Suryadhi* - detikinet

*Bali* - Sebagai protokol pengalamatan internet generasi baru, IPv6
tentu hadir dengan berbagai kelebihan ketimbang sang pendahulunya, IPv4.
Mau tahu apa saja perbedaannya?

Berikut adalah perbedaan antara IPv4 dan IPv6 menurut Kementerian
Komunikasi dan Informatika (Kominfo):

*Fitur*
IPv4: Jumlah alamat menggunakan 32 bit sehingga jumlah alamat unik yang
didukung terbatas 4.294.967.296 atau di atas 4 miliar alamat IP saja.
NAT mampu untuk sekadar memperlambat habisnya jumlah alamat IPv4, namun
pada dasarnya IPv4 hanya menggunakan 32 bit sehingga tidak dapat
mengimbangi laju pertumbuhan internet dunia.

IPv6: Menggunakan 128 bit untuk mendukung 3.4 x 1038 alamat IP yang
unik. Jumlah yang masif ini lebih dari cukup untuk menyelesaikan masalah
keterbatasan jumlah alamat pada IPv4 secara permanen.

*Routing*
IPv4: Performa routing menurun seiring dengan membesarnya ukuran tabel
routing. Penyebabnya pemeriksaan header MTU di setiap router dan hop switch.

IPv6: Dengan proses routing yang jauh lebih efisien dari pendahulunya,
IPv6 memiliki kemampuan untuk mengelola tabel routing yang besar.

*Mobilitas*
IPv4: Dukungan terhadap mobilitas yang terbatas oleh kemampuan roaming
saat beralih dari satu jaringan ke jaringan lain.

IPv6: Memenuhi kebutuhan mobilitas tinggi melalui roaming dari satu
jaringan ke jaringan lain dengan tetap terjaganya kelangsungan
sambungan. Fitur ini mendukung perkembangan aplikasi-aplikasi.

*Keamanan*
IPv4: Meski umum digunakan dalam mengamankan jaringan IPv4, header IPsec
merupakan fitur tambahan pilihan pada standar IPv4.

IPv6: IPsec dikembangkan sejalan dengan IPv6. Header IPsec menjadi fitur
wajib dalam standar implementasi IPv6.

*Ukuran header*
IPv4: Ukuran header dasar 20 oktet ditambah ukuran header options yang
dapat bervariasi.

IPv6: Ukuran header tetap 40 oktet. Sejumlah header pada IPv4 seperti
Identification, Flags, Fragment offset, Header Checksum dan Padding
telah dimodifikasi.

*Header checksum*
IPv4: Terdapat header checksum yang diperiksa oleh setiap switch
(perangkat lapis ke 3), sehingga menambah delay.

IPv6: Proses checksum tidak dilakukan di tingkat header, melainkan
secara end-to-end. Header IPsec telah menjamin keamanan yang memadai

*Fragmentasi*
IPv4: Dilakukan di setiap hop yang melambatkan performa router. Proses
menjadi lebih lama lagi apabila ukuran paket data melampaui Maximum
Transmission Unit (MTU) paket dipecah-pecah sebelum disatukan kembali di
tempat tujuan.

IPv6: Hanya dilakukan oleh host yang mengirimkan paket data. Di samping
itu, terdapat fitur MTU discovery yang menentukan fragmentasi yang lebih
tepat menyesuaikan dengan nilai MTU terkecil yang terdapat dalam sebuah
jaringan dari ujung ke ujung.

*Configuration*
IPv4: Ketika sebuah host terhubung ke sebuah jaringan, konfigurasi
dilakukan secara manual.

IPv6: Memiliki fitur stateless auto configuration dimana ketika sebuah
host terhubung ke sebuah jaringan, konfigurasi dilakukan secara otomatis.

*Kualitas Layanan*
IPv4: Memakai mekanisme best effort untuk tanpa membedakan kebutuhan.

IPv6: Memakai mekanisme best level of effort yang memastikan kualitas
layanan. Header traffic class menentukan prioritas pengiriman paket data
berdasarkan kebutuhan akan kecepatan tinggi atau tingkat latency tinggi.
* ( ash / eno ) *

Sumber:
http://www.detikinet.com/read/2010/06/08/154824/1374132/398/apa-perbedaan-ipv4-dan-ipv6

Senin, 07 Juni 2010

NOKIA seri C yang akan dirilis pada kuartal ketiga dan keempat 2010

*JAKARTA, KOMPAS.com* — Setelah merilis Nokia C3 sebagai ponsel QWERTY
paling terjangkau di antara portofolio produknya, Nokia selanjutnya
bakal menggelontorkan ponsel murah meriah. Tidak tanggung-tanggung, ada
empat tipe ponsel seri C yang disiapkan dengan harga antara Rp 300.000
dan Rp 500.000.

Tiga jenis ponsel tersebut seri Nokia C1 (C1-00, C1-02, dan C1-01) serta
satu tipe Nokia C2 dengan bentuk /bar /dan /keypad /standar. Keempat
ponsel tersebut akan dirilis antara kuartal tiga dan empat 2010 dengan
harga dasar 30 euro, 35 euro, 39 euro, dan 45 euro.

Meski murah, Nokia C1 dilengkapi baterai yang tahan hingga enam minggu
pada kondisi /stand by./ Ini merupakan ponsel pertama Nokia dengan
baterai paling tahan lama. Fitur senter, radio FM, dan /jack /audio
standar menjadi pelengkap kebutuhan hiburan bagi penggunanya. Bahkan,
tipe yang paling murah, Nokia C1 (C1-00), merupakan ponsel pertama Nokia
yang mendukung SIM /card /ganda, tetapi tidak bisa diaktifkan bersama.

Ponsel tipe C1-02 dan C1-01 hanya mendukung satu kartu SIM. Namun,
ponsel-ponsel tersebut mendukung kartu memori eksternal tambahan hingga
32 GB untuk menyimpan foto, video, atau data multimedia lainnya.
Keduanya juga bisa digunakan untuk berinternet lewat jaringan GPRS dan
berkirim /e-mail /lewat Nokia Messaging. Khusus C1-01, ada kamera VGA
sebagai fitur standar.

Nokia C2 mendukung /dual /SIM /card /dan bisa diaktifkan bersama. Yang
menarik, salah satu kartu bisa ditambah dan dicabut saat ponsel sedang
menyala karena disediakan lubang di badan ponsel sebagai tempat kartu
tersebut. Selain itu, C2 dilengkapi OVI Life Tools yang menyediakan
informasi kesehatan, pertanian, pendidikan, dan hiburan berikut OVI Mail
untuk berkirim /e-mail/. Untuk kebutuhan hiburan, tersedia /music
player/, radio FM, dan dukungan kartu memori eksternal hingga 32 GB.

Keempat ponsel tersebut diumumkan dalam konferensi pers di Nairobi,
Kenya, pekan lalu bersamaan dengan pengumuman hadirnya solusi isi ulang
baterai berbasis dinamo yang akan diperkenalkan Nokia ke berbagai
belahan dunia. Asia dan Afrika akan menjadi kawasan utama kehadiran
ponsel-ponsel baru Nokia tersebut.

Sumber:
http://tekno.kompas.com/read/2010/06/07/10003792/Nokia.Siap.Gelontorkan.4.Ponsel.Murah.Meriah

Mandela, Beda antara Afsel dan Indonesia

Catatan dari Afrika Selatan (1)


*PENGANTAR*
WARTAWAN /Tribun /*Uki M Kurdi *pernah berkunjung ke Afrika Selatan
selama enam hari pada September 2005, satu tahun setelah FIFA memutuskan
negeri ini resmi menjadi penyelenggara Piala Dunia 2010. Catatannya akan
dituangkan dalam beberapa seri mulai hari ini.

*KOMPAS.com- *Dua kali Asosiasi Federasi Sepakbola Internasional (FIFA)
membuat keputusan "aneh", menunjuk negara yang tidak gila bola sebagai
tuan rumah penyelenggara pesta akbar /world cup/. Tahun 1994, mereka
menetapkan Amerika Serikat (AS), kemudian untuk 2010 FIFA memutuskan
Afrika Selatan (Afsel) sebagai tuan rumah, seusai World Cup 2006 Jerman.

Saya berkunjung ke Afrika Selatan pada akhir September 2005 lalu. Selama
lima hari di negerinya Presiden Jacob Zuma (dilantik sebagai Presiden
Afsel pada 9 Mei 2009) saya memang tidak merasakan adanya getaran demam
olahraga sepakbola. Di negera dengan penduduk 44 juta jiwa itu
sepakbola, seperti halnya di AS, menjadi olahraga nomor dua atau nomor
kesekian. Orang Afsel lebih senang bermain rugby dan cricket.

Saking gilanya mereka pada kedua cabang olahraga tersebut, dunia pun
sudah pernah menunjuk Afsel sebagai tuan rumah Rugby World Cup tahun
1995, dan Cricket World Cup 2003. Sepakbola? Aduh Gusti, sepi!
Kompetisi liga sepakbola di sana pun, South Africa Castle Premiership,
hanya diikuti 16 kesebelasan. Kurang seru dan jarang ditayangkan
televisi, tidak seperti di Indonesia.

Tapi, begitulah FIFA. Karena, bila ukurannya adalah prestasi sepakbola
kelas dunia, rasanya tidak adil bila FIFA menunjuk Afsel menjadi tuan
rumah World Cup 2010. Kalaupun FIFA berkehendak menyelenggarakannya di
benua Afrika, toh masih ada sederet negara di benua hitam itu yang
selama ini menunjukkan kedigdayaannya. Sebut saja Kamerun, Nigeria,
Mesir, Marokko, Tunusia, Ghana, Togo, Pantai Gading, dan lainnya.

Dan, keputusan memang sudah tidak bisa diubah. Tanggal 15 Mei 2004 silam
24 anggota Executive Committee FIFA, dalam sidangnya di Zurich, Swiss,
memilih dan menetapkan Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia
2010 dalam pemilihan lewat voting. Afsel mengungguli calon dari Afrika
lainnya; Maroko, Mesir, Libia, dan Tunisia. /Welcome to World Cup South
Africa 2010/.

*Tidak istimewa*

Lalu kenapa Afrika Selatan? Padahal, negeri penghasil berlian terbaik di
dunia, dan pengekspor utama dunia untuk komoditas emas dan platinium ini
tergolong pendatang baru di ajang kejuaraan sepakbola piala dunia.

Sepanjang sejarah, mereka hanya dua kali berhasil lolos ke putaran
final. Yaitu pada World Cup 1998 Prancis (dengan bintangnya Doctor
Khumalo) dan Piala Dunia 2002 di Jepang/Korea (dengan pemain bintangnya;
Shaun Bartlet).

Prestasinya di kedua even itu pun rontok di babak penyisihan grup. Di
ajang Piala Dunia terakhir tahun 2006, Afsel bahkan tak mampu lolos ke
Jerman.

Lantas? Ya, boleh jadi pilihan FIFA itu karena faktor Nelson Mandela
(91). Dalam sambutannya di markas FIFA pada 7 Juli 2006 lalu, Mandela
kelahiran 18 Juli 1918 ini mengatakan, "Untuk rakyat Maroko, Mesir,
Libia, dan Tunisia, kalian jangan bersedih. Nanti, kalau kalian
bertanding di Afrika Selatan, saya kira kalianlah yang akan lebih
beruntung."

Itulah gaya Mandela, selalu berkata bijak dan menyejukkan. Dan, Nelson
Mandela memang disegani oleh rakyat seluruh benua Afrika. Ia bukan saja
mantan Presiden Republik Afrika Selatan (yang pertama), tapi juga sudah
menjadi Bapak Bangsa bagi keseluruhan bangsa di seantero benua Afrika.
Salah satunya adalah karena kepahlawanan Mendela dalam melawan penjajah
yang menerapkan kebijakan rasis, Aprtheid (1948-1994).

Apa hubungannya Nelson Mandela dengan pilihan FIFA? Mungkin, karena
Mendela dinilai berhasil meletakkan dasar-dasar negara untuk membawa
Afrika Selatan maju di bidang pembangunan ekonomi dan stabilitas
politik, dibanding negara-negara lain di seantero Benua Afrika.

*Lebih maju dari negara Afrika lainnya*

Selama di Afrika Selatan, saya mengunjungi tiga kota besar;
Johannesburg, Pretoria dan Cape Town. Suhu udara pada bulan September
berkisar 10-15 derajat Celsius. Saat itu, masyarakat Afsel mengenakan
pakaian hangat.

Di jalan-jalan, di toko-toko, di hotel-hotel, dimana-mana, terlihat
pemandangan kulit hitam dan kulit putih hidup bersama dengan rukun. Di
hotel tempat saya menginap misalnya, para pelayan hotel berkulit hitam
dan putih, terlihat bekerjasama dengan baik dengan tidak membedakan
warna kulit.

Menempuh jalur darat sejauh 70 Km dari Johannesburg ke Pretoria dengan
menggunakan bus, rasanya seperti sedang malakukan perjalanan di Jerman
atau Belanda. Jalan raya yang saya lalui sangat lebar dua arah,
masing-masing empat jalur dengan kelas highway. Sepanjang jalur itu,
berdiri bangunan gedung bertingkat, sederet pabrik dan puluhan kompleks
real estate yang benar-benar bergaya Eropa.

Apalagi ketika terbang dan mendarat di Cape Town. Saya menangkap kesan,
kota perdagangan, turis dan industri ini, benar-benar sangat Eropa. Asap
industri memutih di udara, gedung-gedung pencakar langit menjulang
dimana-mana. Penduduknya terlihat sibuk dikejar-kejar waktu.

Afrika Selatan memang jauh lebih maju secara ekonomi dan infrastruktur
dibanding negara-negara lain di benua Afrika. Ini pula, barangkali, yang
menjadi alasan, mengapa FIFA memilih Afsel sebagai tuan rumah Piala
Dunia 2010.

Lantas, apa jasa Mandela? Ketika penjajah dan rejim Apartheid bertekuk
lutut tahun 1994, Nelson Mandela --pemimpin perlawanan-- langsung
mengambil alih kekuasaan. Ia segera menggelar pemilihan umum yang
demokratis pada tahun itu juga, dan terpilihlah dia sebagai Presiden
Republik Afrika Selatan yang pertama.

Barangkali saja, Mandela belajar pada pengalaman perjuangan rakyat dan
bangsa lain yang berhasil mengusir penjajah, seperti halnya Indonesia.
Oleh karena itu, dengan sangat bijak Mandela mengeluarkan dekrit yang
berbunyi; dasar falsafah Republik Afrika Selatan adalah /unity
/(persatuan), /equality /(persamaan), dan /humility /(hak asasi manusia).

Dengan dasar falsafah negara seperti itu, para ekspatriat (mantan
penjajah) yang terdiri atas etnis Belanda, Jerman, Inggris, sebagian
Italia dan Prancis, oleh Mandela diminta untuk tidak meninggalkan Afsel.
Mendela mengajak mereka tetap tinggal di negeri itu, dengan jaminan
dirinya, untuk bersama-sama membangun Afrika Selatan.

Hasilnya? Afrika Selatan kini maju pesat secara ekonomi dan stabil
secara politik. Itulah jasa paling besar Mandela. Sangat visioner, dan
tidak ada dendam.

Bagaimana dengan Indonesia? Ketika kita merdeka, para penjajah Belanda
diusir pulang ke negaranya, orang Jepang didepak. Lalu, kita membangun
negeri ini di atas kaki sendiri. tertatih-tatih hingga kini.


*TENTANG AFRIKA SELATAN*

* Bentuk Negara : Republik

* Falsafah Negara: Unity, Equality, Humility
* Presiden: Jacob Zuma
* Penduduk: 44 Juta jiwa
* Kepadatan penduduk: 36/Km2
* Luas wilayah: 1.219.912 Km2
* Bahasa: Ada 11 bahasa resmi termasuk Bahasa Inggris
* Income per kapita: 3.630 dolar AS/tahun
* Mata Uang : Rand (1 Rand sekitar Rp 1.800)
* Penghasil dan pengekspor utama dunia untuk berlian, emas, platinium
* Memiliki stock exchange berkategori 10 besar terbaik dunia
* Memiliki infrastruktur yang baik utamanya transportasi
* Memiliki jaringan nasional telekomunikasi sangat modern


*REKOR AFSEL DI PIALA DUNIA:*
* 1930 - 1962: belum jadi anggota FIFA
* 1966 - 1990: kena sanksi FIFA karena apartheid
* 1994: pertama kali ikut World Cup tapi kandas di babak
kualifikasi zone Afrika
* 1998: lolos ke World Cup Prancis gugur di putaran penyisihan grup
* 2002: lolos ke World Cup Jepang/Korea terhenti di babak penyesihan grup
* 2006: tidak lolos ke World Cup Jerman

* 2010 : otomatis lolos karena sebagai tuan rumah


*PRESTASI AFSEL DI PIALA AFRIKA
** 1957: terkena diskualifikasi kerena apartheid
* 1959 - 1992: terkana sanksi FIFA karena apartheid
* 1994: tidak lolos babak kualifikasi
* 1996: juaa Piala Afrika
* 1998: juara kedua
* 2000: juara ketiga
* 2002: sampai babak perempat final
* 2004: rontok di babak pertama
* 2006: tersingkir di babak pertama


Sumber:
http://bola.kompas.com/read/xml/2010/06/07/13233998/Mandela..Beda.antara.Afsel.dan.Indonesia-3

Teknologi Berbasis Ekonomi Kerakyatan

*Penulis: Dimitri Mahayana* - detikinet


*Kolom* - Dalam banyak kesempatan dan medium, terutama yang kerap
dipertontonkan oleh elite politik di negeri ini, ekonomi kerakyatan
adalah jargon yang menjadi 'dagangan' utama dalam menarik simpati publik.

Bahwa prinsip kesetaraan, keadilan, kemudahan, dan persamaan dalam akses
kesejahteraan, tanpa dominasi kelompok bahkan kartel bisnis tertentu,
adalah spirit ekonomi kerakyatan yang selalu digaungkan.

Praktiknya, masih banyak pekerjaan rumah kita. Setidaknya, hal ini
terlihat dalam perbandingan bank perkreditan rakyat (BPR) sebagai salah
satu instrumen ekonomi kerakyatan di negeri ini, dengan negara
berkembang lainnya.

Lembaga keuangan mikro ternama asal Bangladesh, Grameen Bank, memiliki
prestasi fenonemal. Penghargaan Nobel yang amat prestisius pun meluncur
ke negeri tersebut, pertanda berhasilnya ekonomi kerakyatan.

Betapa tidak. Sejak berdiri, kredit yang mereka salurkan sudah mencapai
US$6,55 miliar, yang dinikmati 7,34 juta debitor (97% di antaranya
perempuan), dengan 24.703 karyawan plus keberadaan 2.468 kantor cabang.

KIVA, sebagai contoh lembaga lainnya, adalah semacam BPR yang didirikan
oleh duo alumnus Universitas Stanford, Matt Flanery-Jessica Jackley,
dengan wilayah operasi di hampir 40 negara berkembang di dunia.

Mulai dari Kongo, Benin, Kongo, Ekuador, Republik Dominika, Afghanistan,
dst. Total kredit mereka hingga November 2009 mencapai Rp 1,7 triliun,
dengan hampir 700 ribu kreditor, dan kisaran pinjaman Rp 3,5 juta per
individu.

Yang lebih hebat, tingkat pengembalian kredit KIVA mencapai 98,48%! Dan
tahukah Anda, baik Grameen Bank maupun KIVA, benang merah keberhasilan
keduanya, jika ditelisik, salah satunya karena implementasi perangkat
teknologi informasi (TI).

Ambil contoh Grameen di cabang Koota, India yang konsisten menerapkan
peranti lunak kode terbuka bernama MIFOS atau Microfinance Opensource.
Ini ditunjang baterai cadangan di tiap komputer, sehubungan listrik yang
kerap mati di wilayah tersebut.

Melalui konsep /web based /management information system, cara ini
memungkinkan antar cabang di Grameen Koota, India melakukan operasional
secara real time, efisien, dan tidak kalah handal.

Selain perangkat lunak cuma-cuma, mereka menyediakan komputer, baterai,
dan akses Internet 56 s.d 512 Kbps. Karenanya, seperti ditulis
www.mifos.org, MIFOS berhasil diinstalasi di 120 cabang kantor mencakup
280.000 nasabah.

Sementara KIVA menerapkan konsep pinjam-meminjam mikro secara online.
Dalam portalnya, tersedia data ribuan pengusaha mikro yang siap
memfasilitasi pemberian pinjaman kepada masyarakat kurang mampu.

Dengan tipikal wilayah dan situasi ekonomi yang tak jauh berbeda dengan
Indonesia, baik Grameen maupun KIVA, keduanya terbukti bisa
mengembangkan lembaga keuangan mikro dengan fasilitator utama perangkat TI.

*BPR di Indonesia
*
Aplikasi TI bagi BPR di Indonesia, sebenarnya tidak kalah maju dengan
paparan data di atas tadi. Setidaknya begitulah hasil survei yang kami
lalukan kepada 43 responden pada April 2010 lalu.

100% dari responden kami menyatakan telah menggunakan solusi TI dalam
operasional sehari BPR/BPR Syariah, seluruh responden juga menekankan
peranan penting TI bagi operasional bank.

Dalam jawaban terbukanya, responden bahkan menyebutkan sejumlah aplikasi
perbankan berbasis perangkat lunak yang sistematikanya hampir setara
dengan yang dimiliki dari standar sebuah perbankan nasional.

Dalam jawaban terbukanya, aplikasi TI digunakan untuk akuntasi dan
pelaporan (88,4%), core banking system (67,4%), manajemen informasi
nasabah (39,5%), data warehouse (23,3%), web site bank (20,9%),
pengelolaan kantor cabang (18,6%), dst.

Persoalannya kemudian, di tengah upaya ini, berdasarkan opini penulis,
masih ada ganjalan dalam mengorbitkan teknologi ekonomi kerakyatan ini.
Pertama, pengadaan TI di perbankan mikro masih belum seutuhnya dianggap
investasi (invest).

Sebagai hal yang klise di Indonesia, alih-alih invest, namun lebih
banyak dianggap sebagai beban biaya (cost). Mayoritas pola pikir ini
yang membuat sistem akhirnya tak berkembang optimal.

Simak data CGAP Microfinance Technologi Survey pada 2008 lalu yang
menyebutkan 60% dari institusi perbankan mikro merasa pembiayaan
investasi TI sebagai sebuah kendala utama.

Terkait hal itu, Sharing Vision berkeinginan belajar langsung dari
ahlinya, Grameen Bank, dalam helatan Microfinance Business & Information
Technology di Royal Plaza, Singapura, pada 18-19 Juni ini.

Kedua, hingga saat ini, belum ada regulasi spesifik dari Bank Indonesa
yang mengatur pemanfaatan TI bagi BPR/BPRS. Hal ini membuat proses
standarisasi dan pengembangan belum terpayungi panduan aturan yang terarah.

Hal ini membuat belum jelasnya produk/layanan berbasis TI apa saja yang
dapat diberikan BPR/BPRS serta belum jelasnya jenis laporan ke Bank
Indonesia terkait produk/layanan berbasis TI di BPR/BPRS.

Karenanya, ketentuan manajemen resiko TI bagi bank perkreditan rakyat
sendiri belum ada. Adakah situasi ini yang membuat tingkat kesadaran
jadi kurang? Ingat, menurut www.techoeconomy.com, 90% BPR tidak terlalu
mementingkan aspek keamanan TI.

Maka, jikalah dua inti persoalan ini bisa segera dituntaskan, maka BPR
di negeri ini kiranya bisa bermanfaat sedahsyat KIVA dan Grameen Bank.
Dan, tak ada lagi jargon basi ekonomi kerakyatan. Yang ada hanya konsep
riil teknologi ekonomi kerakyatan.


/Penulis adalah Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision. Bisa
dihubungi melalui redaksi@detikinet.com./

Sumber:
http://www.detikinet.com/read/2010/06/07/075546/1371071/328/teknologi-berbasis-ekonomi-kerakyatan

Pernikahan di Mata Pria

*KOMPAS.com - *Pria dan perempuan memiliki pandangan yang berbeda
tentang pernikahan. Dalam bayangan kita, pernikahan adalah hari-hari
penuh kebersamaan. Mulai dari sarapan pagi dan berakhir dengan makan
malam romantis di sudut ruangan rumah. Mengerjakan sesuatu bersama, dan
berbagai hal yang biasa dilihat di film-film dongeng ala Cinderella.
Sayangnya, hal-hal seperti ini jauh dari bayangan pria tentang
pernikahan. Kepala mereka lebih banyak diisi oleh bayangan-bayangan ini:

*Takut Salah Memilih Pasangan*
Siapa sih yang tidak takut berakhir dengan pasangan yang salah? Semua
orang pasti memiliki ketakutan yang sama. Apalagi bila hubungan pacaran
terhitung singkat. Persoalannya, perempuan lebih mudah mengikis
kekhawatiran ini ketimbang pria. Tapi sebenarnya ketakutan pria masih
dalam batas wajar. Apa yang paling ditakutkan? Dia sangat takut
seseorang yang di masa pacaran dianggapnya sebagai putri yang baik hati,
ternyata menjadi seorang "nenek sihir" ketika menikah. Mungkin karena
itu, dia terkesan santai dan tidak buru-buru menentukan target. Bukan
karena tidak berminat terhadap pernikahan, dia hanya ingin benar-benar
mengenal dan menyeleksi perempuan yang akan menjadi calon istrinya.

*Siap Bertanggung Jawab*
Tanggung jawab, itulah yang ada di kepala pria mendengar kata
pernikahan. Segala hal yang berkaitan dengan pasangan resmi menjadi
tanggung jawabnya ketika dia menikah. Itu berarti dia harus menjadi
nahkoda dan memberikan materi yang cukup, bahkan berlebih untuk
keluarganya. Dengan alasan ini, banyak pria mengaku memilih mengejar
karier lebih dulu, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya sebelum
memutuskan menikah.

*Takut Bosan *
"Menikah? Duuh, ketemunya dia lagi, dia lagi dong, bosan aah." Ya,
inilah yang terlintas di kepala pria tentang pernikahan. Membayangkan
bahwa dia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang sama,
seringkali membuat hatinya gentar. Tapi Anda tak perlu khawatir, tidak
semua pria memiliki bayangan seperti ini. Biasanya, yang bisa mengatasi
kecemasan ini adalah pria yang merasa telah menemukan belahan jiwa yang
bisa dia cintai selamanya. Dia juga berharap, perempuan yang akan
dinikahinya tak sekadar menjadi istri tapi juga teman yang menyenangkan.
Sssst, diam-diam pria juga memiliki ketakutan pasangannya merasa jenuh
dan memilih berselingkuh.

*Menjadi Ayah*
Status yang berubah dari lajang menjadi ayah, menjadi perhatian pria.
Ada yang merasa takut membayangkan bakal ada mahluk mungil yang
memanggilnya "ayah". Namun, bagi yang merasa telah siap, bayangan
tentang ini sangat menyenangkan. Sama seperti Anda, pria juga menanti
kehadiran teman baru dalam hidupnya. Tak sabar untuk mengajak anak
prianya bermain bola atau membelikan anak perempuannya sebuah boneka
cantik. Dan dia selalu ingin menjadi ayah yang bisa dibanggakan oleh
anak-anaknya.

*Hidup Sehat dan Terawat*
Menikah berarti ada yang merawat dan mengurus semua kebutuhannya di
rumah. Ada yang menyediakan makanan, menyiapkan makanan, pakaian kerja,
hingga merawatnya saat sakit. Bagi pria, bayangan ini akan terasa
sempurna, ketika yang melakukannya adalah orang yang ia cintai. Hmm,
enggak heran ya, kalau banyak pria yang berat badannya bertambah setelah
menikah.

*Dapat Teman Hidup*
Bagi pria, menikah berarti memiliki teman hidup yang siap berbagi saat
senang dan sedih. Pria berharap, pasangannya dapat menjadi seseorang
yang bisa memberikan dukungan dalam segala kondisi. Serta bisa menerima
segala kekurangan dan kelebihannya. Tenang, ia takkan menuntut Anda
untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan kantor yang sangat banyak. Ia
hanya membutuhkan Anda sebagai teman untuk berkeluh kesah dan
berdiskusi. Perempuan seperti apa yang ia butuhkan? Yang pasti perempuan
yang bisa diajak bicara, sekaligus mau mendengarkan.

*(Bestari Kumala Dewi/Majalah Chic)*

Sumber:
http://female.kompas.com/read/xml/2010/06/07/13154399/Pernikahan.di.Mata.Pria-5

Kamis, 03 Juni 2010

Saat Apple Melengserkan Microsoft dari Takhta Teknologi

LAPORAN IPTEK
Saat Apple Melengserkan Microsoft dari Takhta Teknologi

Oleh *NINOK LEKSONO*

Banyak ungkapan menarik terkait berita lengsernya raksasa teknologi
informasi (TI) Microsoft dari statusnya sebagai perusahaan teknologi
paling bernilai di dunia, Rabu (26/5). Dari San Francisco, harian
International Herald Tribune (IHT) pada Jumat (28/5) menurunkan judul
"Dethroning Microsoft with a Swipe of a Finger" atau "Melengserkan
Microsoft dengan Satu Usapan Jari". Kita tahu, perusahaan Apple yang
melengserkan Microsoft dikenal sebagai pembuat gadget iPod, iPhone, dan
terakhir iPad yang menggunakan layar sentuh sehingga perintah cukup
diberikan dengan menggeser jari.

Laporan IHT dibuka dengan mengutip Wall Street bahwa satu era telah
berakhir dan era baru dimulai: bahwa produk teknologi yang paling
penting tidak lagi duduk di atas meja Anda, tetapi pas di genggaman Anda.

Kita tidak lupa, betapa produk-produk Microsoft berjaya dalam dua dekade
terakhir. Setiap kali pasar dan konsumen hanya mendengar betapa
gegap-gempitanya saat generasi baru Windows dan Office muncul. Selain
itu, kita mendengar pula bagaimana pendiri perusahaan ini tampil sebagai
orang paling kaya di dunia, sebelum dibayangi oleh muka baru pada
satu-dua tahun terakhir.

Perusahaan yang menyusulnya justru dikenal sebaliknya. Apple sepuluh
tahun silam justru diberitakan sedang sekarat. Titik balik juga berlaku
bagi pimpinan eksekutif dan salah seorang pendiri perusahaan ini yang
dikenal visioner, yakni Steven P Jobs.

Satu hal yang dapat segera disimpulkan adalah cita rasa konsumen
berhasil mengalahkan faktor kebutuhan bisnis sebagai kekuatan utama
pembentuk teknologi. Namun, kebiasaan klak-klik di papan ketik komputer
yang sudah mewarnai kehidupan TI selama dua dasawarsa harus takluk pada
gesar-geser jari di layar sentuh telepon pintar.

Memang, Apple kini masih menjual komputer, tahun lalu sebanyak 306 juta
unit, sementara ponsel pintar hanya 172 juta unit. Akan tetapi, laju
penjualan ponsel pintar tumbuh lima kali lebih cepat dari komputer.
Penghasilan Apple sendiri dua pertiga berasal dari ponsel pintar dan
penjualan musik.

Boleh jadi tanda-tanda bakal tergesernya Microsoft dari singgasana
teknologi ini dapat kita indera saat munculnya karya terbaru Apple,
yakni iPad. Apple store di berbagai kota di AS diserbu peminat iPad dan
sempat menimbulkan kekecewaan di kalangan pengantre karena stok tak ada
dan harga barang naik sekitar 200 dollar AS.

*Buah inovasi*

IHT mengutip salah seorang pendiri PayPal, Peter A Thiel, menambahkan,
apabila Microsoft lebih banyak mempertahankan status quo, Apple justru
terus bersemangat menghasilkan sesuatu yang baru.

Sebenarnya, menghasilkan sesuatu yang baru terkesan lebih berat karena
pasti membutuhkan penelitian dan pengembangan lebih yang menantang. Di
sinilah Apple memperlihatkan keunggulan, bahkan Steve Jobs sering
disebut sebagai Empu Inovasi.

Seperti pernah disinggung di kolom ini, Apple yang pernah mau tamat
riwayatnya lalu berhasil bangkit dan, lebih dari itu, malah menjadi
perusahaan yang ikonik. Saat melihat iPod, misalnya, kita hanya melihat
nama perusahaan tertulis kecil saja. Akan tetapi, di seluruh dunia,
melihat gambar buah apel yang tampak baru digigit itu orang sudah tahu
bahwa gadget itu buatan Apple.

Steve Jobs sendiri pernah meninggalkan perusahaan yang ikut ia dirikan
bertahun-tahun, tetapi ia kembali pada tahun 1997 dan membuat
langkah-langkah hebat untuk menyelamatkan perusahaan. Dengan itu,
tradisi Apple untuk menjadi perusahaan inovatif tetap terpelihara
setelah ia memunculkan komputer pertama tahun 1977 hingga Macintosh yang
dilengkapi tetikus lahir tahun 1984, sampai pada lahirnya iPod tahun
2001, iPhone tahun 2007, dan terakhir iPad pada 2010.

Menyimak perjalanan itu, majalah Inggris The Economist (9/6/07) menulis,
ada empat pelajaran tentang inovasi yang dapat disimak dari Apple.
Tentang iPod, misalnya, meski Apple masih memelihara tradisi inovasi
yang dikembangkan dari sejak Thomas Alva Edison dan Bell Laboratories,
Apple tak canggung mengadopsi ide dari luar untuk digabung dengan ide
sendiri. Yang penting, hasil akhirnya adalah produk yang cantik dan
mengesankan penggunanya.

Yang tak kalah penting, Apple membuat produk tidak berdasarkan pada
tuntutan teknologi, melainkan kebutuhan pengguna. iPod dan iPhone
menjadi buktinya. Dengan iPod, iPhone, dan iPad, Apple telah membuktikan
dirinya sebagai perusahaan paling inovatif di dunia dan karya-karya
inovasinya bisa dikatakan yang terunggul, inovasi par excellence.

*Tanggal bersejarah*

Dengan rentetan sukses melahirkan inovasi itu, kapitalisasi saham Apple
pada 26 Mei 2010 mencapai 222,12 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.000
triliun! Memang beberapa waktu terakhir harga sahamnya sempat turun dari
posisi tertinggi 270,83 dollar AS per saham menjadi 244,11 dollar AS,
tetapi kapitalisasi saham Apple pada 26 Mei itu masih lebih tinggi
dibandingkan dengan Microsoft yang besarnya 219,18 miliar dollar AS
(Reuters/Kontan, 29/5). Nilai saham Apple melonjak 10 kali lipat selama
10 tahun terakhir dan itu disebut berkat revolusi konsumen elektronik
yang ingin lebih bergaya.

Dari pengalaman Apple ini, semestinya kita pun perlu mempelajari
berbagai hal. Pertama tentu mengembangkan kemampuan di bidang TI yang
masih akan terus mewarnai peradaban meski perkembangan nanoteknologi
mengisyaratkan pergeseran ke arah biologi lebih daripada fisika.

Berikutnya, seni inovasi yang dipraktikkan Apple dengan begitu menawan
haruslah jadi inspirasi bagi bangsa Indonesia yang sedang banyak
mewacanakan program inovasi. Masyarakat Indonesia tak harus menunggu
program pemerintah karena inovasi terbukti sukses manakala ia tumbuh
sebagai satu gerakan, sebagai satu kiprah masyarakat.

Kini, di posisi puncak perusahaan teknologi inovatif, Apple tentu juga
akan berjuang mempertahankan posisi di tengah persaingan sengit
perusahaan lain, termasuk Microsoft, yang baru dilengserkannya.


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/02/04483196/saat.apple.melengserkan.microsoft.dari.takhta.teknologi

Rabu, 02 Juni 2010

Facebook dan Twitter Rusak Bahasa

*SURABAYA, KOMPAS.com* — Pakar linguistik dari Universitas Kristen Petra
Surabaya, Prof Dr Esther Kuntjara, menilai bahwa sejumlah situs jejaring
sosial di dunia maya, seperti Facebook dan Twitter, serta sejenisnya
telah merusak bahasa.

"Hal itu karena dunia maya menggunakan bahasa lisan yang ditulis, bukan
bahasa tulis atau bahasa lisan sehingga bahasa lisan yang ditulis dapat
mengacaukan bahasa baku," katanya dalam seminar di kampus setempat,
Selasa (1/6/2010).

Setelah berbicara dalam seminar "Language in The Online and Offline
World (LOOW)" yang digagas Jurusan Sastra Inggris UK Petra Surabaya itu,
dosen UK Petra Surabaya tersebut menyatakan, bahasa lisan yang ditulis
itu dikenal dengan istilah /alay/.

"Saya sendiri tahu istilah bahasa /alay/ itu justru dari penelusuran
melalui Facebook. Yang jelas, bahasa /alay/ itu mencampur aduk antara
tulisan, lisan, dan gambar sehingga semuanya menjadi kacau," katanya.

Menurut alumni Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga itu,
kekacauan bahasa itu terlihat karena peletakan gambar yang seenaknya dan
kadang emosi juga diungkapkan secara tidak tepat.

"Misalnya, kalau menyatakan tertawa keras ditulis dengan LOL. Padahal,
mungkin saja penulis itu justru sedang marah, bukan tertawa, sehingga
semuanya menjadi kacau atau rumit," kata alumni S2 dari San Francisco
State University, AS, itu.

Anehnya, bahasa yang rusak itu katanya justru dianggap sebagai
kreativitas. "Penutur bahasa dalam dunia maya memang kreatif, tapi kalau
rusak-rusakan kok dibilang kreatif, sih," katanya sambil tersenyum.

Dosen yang juga alumni S3 dari Indiana University of Pennsylvania,
Amerika Serikat (AS), itu mengatakan bahwa dunia maya juga memunculkan
sosok yang mudah berubah dalam satu waktu. "Identitas dalam dunia maya
itu mudah diubah sehingga kalau kita mau, apa saja bisa, bahkan bicara
dengan sekian orang dengan karakter berbeda juga bisa, apalagi mengubah
status di Facebook itu juga sangat mudah," katanya.

Ia menambahkan kerusakan bahasa dan mudahnya perubahan identitas dalam
dunia maya itu melahirkan generasi yang berani bersikap dan asosial atau
individualis. "Bagaimana tidak dikatakan asosial, karena ayah, ibu, dan
anak mengetahui kegiatan masing-masing hanya lewat dunia maya. Di dalam
Facebook, si anak bilang saya sedang mandi, si ibu bilang kalau dirinya
sedang makan, dan sebagainya. Semuanya lewat BB (Blackberry)," katanya.

Di lain pihak, dalam kondisi seperti itu, katanya, Indonesia sangat
tertinggal dalam kosa kata baru dalam istilah teknologi informasi
sehingga orang mengambil bahasa aslinya, seperti komputer, /online/,
/download/, /upload/, dan /website/, serta sebagainya. "Memang sudah
diupayakan /download /diterjemahkan dengan unduh atau website dengan
laman, tapi hal itu kalah cepat sehingga hal itu tidak laku," katanya.

Sumber:
http://tekno.kompas.com/read/xml/2010/06/01/20375867/Facebook.dan.Twitter.Rusak.Bahasa-12