Kamis, 17 Juni 2010

Censorship is Advertising Paid by The Government

*Penulis: Donny BU* - detikinet

*Jakarta* - Walaupun gerakan Internet Sehat (www.internetsehat.org)
didukung pula oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
(APJII), ternyata tidak semua hal memang harus menjadi kesepakatan
bersama. Setidaknya, saya sangat tidak sepakat dengan pernyataan Ketua
Umum APJII yang mengatakan bahwa, ?kejadian penyebaran video porno
beberapa waktu lalu merupakan dampak lambatnya penyaringan konten di
Internet,? (*detikINET:* *Blokir Konten, APJII Tunggu Laporan
Masyarakat* <http://bit.ly/9cGVKc>).

Penyebaran konten negatif di Internet, termasuk video porno mirip
siapapun, bukanlah merupakan dampak dari ketiadaan ataupun kelambatan
filterisasi, penyensoran ataupun pemblokiran di Internet. Internet
hanyalah sebagai sebuah medium, yang memungkinkan siapapun untuk menjadi
prosumer, produsen sekaligus konsumer informasi dan mengolaborasikannya.
Tingginya intensitas penawaran suatu informasi di Internet, seperti kata
pepatah, tak mungkin ada asap tanpa api. Terlebih dahulu, tentu telah
tercipta suatu kebutuhan akan informasi tersebut. Bagaimanapun asal
mulanya tercipta kebutuhan (mencari video porno tersebut), pastinya
melakukan filterisasi di Internet bak menggantang asap, meninggalkan
jelaga di penyaringan, tetapi asapnya tetap mengudara.

Tulisan ini tidak dalam rangka mendukung pornografi dalam bentuk apapun.
Tetapi akan menjadi salah kaprah ketika masalah ketersediaan dan
penyebaran konten negatif di Internet lalu disikapi dengan pendekatan
filterisasi. Filterisasi bukanlah panasea super manjur untuk memerangi
pornografi di Internet. Filterisasi hanyalah parasetamol belaka, sekedar
pereda gejala (panas) saja, tetapi tidak untuk menyembuhkan penyakit
sesungguhnya.
*
Imunisasi*

Dalam konteks maraknya konten negatif film porno mirip artis, apa itu
?penyakit? sesungguhnya? Ya jelas, ?penyakit?-nya adalah perilaku
(sebagian) masyarakat Indonesia (khususnya pengguna Internetnya) yang
menggemari hal yang justru ditabukan, mengorek privasi kehidupan orang
lain dan meleburnya jati diri dalam euphoria kerumunan!

Kita tahu bahwa kuman ataupun virus penyakit selalu ada di sekitar kita,
bahkan kerap menempel di kulit kita. Yang kemudian membuat diri menjadi
lebih imun tak menjadi penyakitan adalah daya tahan tubuh. Lalu mengapa
tak kita buat imun saja diri kita atau generasi muda kita dengan
berbagai konten negatif yang merupakan ?penyakit? di Internet?

Daripada lagi dan lagi melakukan tindakan reaktif - kuratif yang
berbiaya mahal dan cenderung tidak efektif, lebih baik kita melakukan
tindakan preventif. Sejak dini anak-anak harus diberi ?imunisasi?
tentang Internet. Dengan demikian mereka akan bisa membangun antibody
(daya tahan tubuh)-nya sendiri untuk melawan hal-hal yang bisa merugikan
dirinya. Selain masalah agama dan budi pekerti, perlu juga disampaikan
kepada mereka bahwa Internet adalah hal yang mengandung hal positif dan
negatif. Berikan cara untuk melakukan eksplorasi hal positif dan
menghindari hal negatifnya dan jangan ada yang ditutup-tutupi. Karena
informasi bak air mengalir dari dataran tinggi ke tempat yang paling
rendah, selalu ada jalan bagi informasi apapun yang ada di Internet
untuk bisa sampai ke tangan mereka, cepat ataupun lambat.
*
Ampas*

Saya sering menyampaikan bahwa korban dari segala hiruk-pikuk permesuman
belakangan ini, adalah bukan si pelaku ataupun yang mirip pelaku.
Korbannya adalah anak, keponakan atau murid kita yang dengan
kepolosannya ketika mencari informasi di Internet kemudian terpapar
hal-hal yang tak dicarinya, tak dibutuhkannya dan tak layak diaksesnya.

Dan yang kemudian meninggalkan ampas informasi di Internet bagi generasi
muda kita, ya perilaku kita semua yang dengan sadar maupun tidak, secara
gegap gempita dan sorak-sorai berbagi informasi esek-esek tersebut via
twitter, blog, facebook dan berbagai layanan online yang bersifat ?/once
posted online, you can never take it back/!?

Kita semua terlibat dalam mempertebal ampas di dasar gelas Internet
kita. Untuk di Internet, ampas yang ditelan pahit dan tidak bermanfaat
tersebut, tak mungkin 100% difilter keberadaannya. Cara yang paling
mudah untuk ?menetralkan? ampas tadi, adalah dengan menggelontorkan
sebanyak-banyaknya konten lokal positif di tanah air. Ibarat ampas kopi
di dasar gelas, semakin banyak air putih yang kita gelontorkan ke dalam
gelas tersebut, maka keberadaan ampas tersebut akan semakin tidak
terlihat, dan dampaknya akan makin tidak terasa.
*
Internet Sehat*

Maka bukanlah suatu yang mengada-ada jika gerakan Internet Sehat yang
diinisiasi serta dijalankan oleh ICT Watch sejak 2002 silam, mengambil 2
(dua) hal dari sudut pandang di atas untuk pengatasi maraknya konten
negatif di Internet. Pertama, dengan vaksinasi (peningkatan daya tahan
tubuh) dan kedua, dengan netralisasi ampasnya. Seluruh materi yang
terkait dengan kiat bagaimana orangtua dan guru dapat membantu anak atau
muridnya dalam menggunakan Internet yang aman, nyaman dan bijak, telah
dirangkum dalam situs Internet Sehat. Bahkan buku panduannya dalam versi
digital dapat di-download secara bebas dan gratis.

Adapun untuk menetralisir ampas yang akan abadi di Internet, berbagai
upaya terus dikembangkan. Misalnya dengan menginisiasi kompetisi
Internet Sehat Blog Award, menggalang komunitas Internet Sehat di
Facebook hingga membuat kompetisi Twitter berhadiah iPad. Harapannya,
ketika semua orang telah melewati masa euphoria memposting (di blog,
facebook, twitter) hal-hal yang cuma menjadi ampas di Internet, maka
kini saatnya kita secara bersama-sama ?bertanggungjawab? menggelontorkan
postingan positif demi masa depan kita, masa depan generasi kita, masa
depan Internet kita. Informasi program-program di atas dapat diakses di
http://www.internetsehat.org
*
Iklan Pemerintah*

Oh ya, terkait dengan filterisasi tadi. Saya percaya dengan kata pepatah
asing, ?/censorship is advertising paid by the government/?. Konten
apapun yang kemudian dinyatakan dilarang pemerintah untuk diakses,
dimiliki, dibaca, atau ditonton oleh masyarakat, justru itulah saat
ketika konten tersebut kemudian terpublikasi sangat luas dan diburu
besar-besaran. Anda coba ingat saja, ludesnya penjualan buku,
mengularnya antrian penonton film ataupun tingginya trafik pencarian
konten Internet, yang notabene adalah terjadi sesaat setelah konten
tersebut dinyatakan ?haram? tersaji di tanah air.

Jadi pilihan kembali kembali kepada Anda. Ingin dengan pendekatan
vaksinasi + netralisasi, ataukah dengan cara filterisasi / penyensoran.
Kalaupun dengan cara penyensoran, maka pastikan bahwa yang Anda lakukan
adalah self-censorship di level diri sendiri, atau paling tinggi pada
level keluarga saja. Karena di level tersebutlah penyensoran dapat
dipantau keampuhannya. Selebihnya, percayalah tidak ada teknologi yang
dapat menjamin 100% akurat dan aman untuk menyensor. Jangan terjebak
dengan cara ?pengobatan? yang terkesan cespleng (ampuh), tetapi
sebenarnya sekedar obat-obatan ala kaki lima.


/*) Penulis adalah aktifis Internet Sehat, dapat dihubungi melalui email
dbu[at]donnybu.com. Judul tulisan ini terinspirasi dari ujaran yang
disampaikan oleh Direktur Film Italia, Frederico Fellini./

Sumber:
detikinet.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar