Kamis, 29 Juli 2010

3 Cara Mencegah Human Trafficking

Penyebab utama dari adanya perdagangan anak dan perempuan ini adalah
tingkat pendidikan yang rendah.

*KOMPAS.com* - Masalah perdagangan manusia (/human trafficking/) sudah
lama terjadi. Namun apakah orang sudah menyadari adanya isu tersebut?
Apa yang sudah dilakukan masyarakat, dengan dukungan pemerintah, untuk
menghentikannya?

"Ini merupakan isu yang harus disosialisasikan. Karena, tidak banyak
orang mengetahui dan menyadari adanya masalah ini," kata Zannuba Ariffah
Chafsoh Rahman Wahid, aktivis Islam dan politisi Indonesia, pada
sosialisasi kampanye "Stop The Trafficking of Children & Young People"
di Hongkong Cafe, Jakarta, Rabu (28/7/2010) lalu.

Ada beberapa hal yang dapat dikategorikan sebagai perdagangan manusia,
seperti bekerja tanpa dibayar, dan yang paling populer adalah
eksploitasi seksual. Biasanya, anak atau perempuan dijanjikan pekerjaan
tertentu, namun akhirnya mereka malah dipekerjakan sebagai pekerja seks
komersial. Penculikan anak melalui situs jejaring sosial yang terjadi
akhir-akhir ini juga bisa memicu perdagangan anak, oleh karena itu
perkembangan teknologi seharusnya diiringi dengan pemahaman yang cukup
mengenai baik-buruknya.

Melihat fakta semacam itu, tidak mengherankan bila Prof Irwanto, Ketua
ECPAT Affiliate Group of Indonesia, mengatakan bahwa penyebab utama dari
adanya perdagangan anak dan perempuan ini adalah tingkat pendidikan yang
rendah. Di Indonesia, pendidikan yang cenderung rendah membuat anak
susah untuk mengatakan "tidak". Orangtua yang berpendidikan rendah,
ditambah dengan desakan ekonomi, membuat mereka bersedia melakukan apa
saja untuk meningkatkan taraf hidupnya. Termasuk, "menjual" anak mereka
sendiri.

Untuk menanggulangi masalah perdagangan anak dan perempuan ini, ada
beberapa hal yang bisa kita lakukan:
*1. Memberi pengetahuan*
Untuk dapat mencegah masalah ini, perlu diadakan penyuluhan dan
sosialisasi masalah kepada masyarakat. Dengan sosialisasi secara
terus-menerus, masyarakat akan mengetahui bahayanya masalah ini, dan
bagaimana solusinya.

Pendidikan tentu saja tidak hanya diberikan pada masyarakat menengah
atas saja. Yang paling penting adalah masyarakat kelas bawah. Mengapa?
Karena perdagangan manusia banyak terjadi pada masyarakat dengan kelas
pendidikan yang cukup rendah. Pendidikan harus diberikan dengan bahasa
yang lebih mudah dimengerti oleh semua lapisan masyarakat.

*2. Memberitahu orang lain*
Ketika kita telah mengetahui masalah ini dan bagaimana solusinya, namun
tidak memberitahu orang lain, permasalahan ini tidak akan selesai.
Sebagai orang yang telah mengetahuinya, maka menjadi kewajiban Anda
untuk menyampaikan apa yang terjadi pada orang lain, khususnya yang Anda
anggap berpotensi mengalami perdagangan manusia. Sebab, orang yang tidak
mengetahui adanya permasalahan ini, tidak menyadari bahwa hal ini
mungkin telah terjadi pada orang-orang di sekitar kita.

*3. Berperan aktif untuk mencegah*
Setelah mengetahui dan mencoba memberitahu orang lain, Anda juga dapat
berperan aktif untuk menanggulangi permasalahan ini. Berperan aktif
tersebut dapat dilakukan dengan cara melaporkan kasus yang Anda ketahui
kepada yang berwajib. Anda juga bisa mengarahkan anak, keponakan, atau
anak muda lain yang gemar beraktivitas di situs jejaring sosial, untuk
lebih berhati-hati dalam berteman, misalnya. Yang Anda lakukan mungkin
hanya sesuatu yang kecil, namun bila semua orang tergerak untuk turut
melakukannya, bukan tak mungkin masalah yang berkepanjangan ini akan
teratasi.

Jika Anda melihat sesuatu yang mencurigakan atau Anda sendiri menjadi
korban dan memerlukan bantuan atau nasihat, segera hubungi:

* Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ECPAT
Affiliated in Indonesia), Telp: (061) 820 0170, Fax (061) 821 3009.

* Komisi Nasional Perlindungan Anak, Telp: (021) 8779 1818.

* Mabes Polri, Secretary at the National Central Bureau of INTERPOL,
jalan Trunojoyo 3, Kebayoran Baru, Jakarta. Telp: (021) 721 8098/739
3650, Fax (021) 720 1402.

*M05-10*
*Editor: din*


Sumber:
http://female.kompas.com/read/xml/2010/07/29/09450559/3.Cara.Mencegah.Human.Trafficking

Rabu, 14 Juli 2010

Cinta yang Menyehatkan

*JAKARTA, KOMPAS.com *— Cinta cenderung bermakna luar biasa bagi
seseorang. Luar biasa indah rasanya menurut mereka yang hidup dalam
pelukan cinta, tetapi dapat juga luar biasa menyakitkan bagi mereka yang
merasa dikhianati atau dikecewakan oleh cinta. Entah itu terhadap
orangtua, anak, lawan jenis (pasangan), dan lainnya, cinta memang luar
biasa.

Seorang guru besar Psikologi Klinis dari Fakultas Psikologi UGM yang
telah melanglang buana di berbagai penjuru dunia untuk mengajar, Prof
Yohana E Prawitasari, dalam sebuah semiloka psikologi mengungkapkan,
"Apa sih sebenarnya yang dibutuhkan oleh setiap orang? Pada dasarnya
dalam hidup ini yang diperlukan oleh setiap orang adalah cinta."

Ungkapan di atas mungkin terasa melankolis. Lho, kok, seorang profesor
psikologi menyatakan sesuatu yang tidak berbeda dengan para seniman? Ya,
memang tidak berbeda dengan para seniman. Secara empiris, psikologi
menemukan bahwa untuk dapat sehat secara mental, yang diperlukan
seseorang adalah cinta. Lebih dari itu, dengan transendensi, kita dapat
menemukan kebenaran universal bahwa memang kita ini hidup dari cinta,
hidup oleh cinta, dan juga untuk cinta.

Viktor Frankl, seorang psikiatris yang riwayat dan karyanya luar biasa
mengagumkan, dalam bukunya /Man's Search for Meaning/ berkata: "Suatu
pemikiran mengubah saya: Untuk pertama kali dalam hidup, saya menyadari
kebenaran dalam syair kebanyakan penyair, kebijaksanaan akhir para ahli
pikir. Kebenaran bahwa cinta adalah tujuan utama dan tertinggi yang
dapat dicapai manusia. Lalu, saya menangkap makna rahasia terbesar yang
melingkar dalam syair, dalam pikiran dan keyakinan manusia, yaitu
penyelamatan manusia diperoleh lewat cinta dan di dalam cinta."

Seorang psikolog lain, Meninger, menulis: "Cinta itu menyembuhkan. Cinta
menyembuhkan mereka yang memberikan cinta, dan juga mereka yang
menerimanya."

Berikut ini kita belajar mengenai cinta yang menyembuhkan, cinta yang
sehat, yang diungkapkan oleh para ahli psikologi pada masa lampau.

*Cinta tak bersyarat*
Dalam mencinta, yang terjadi adalah: cinta bersyarat atau cinta tak
bersyarat. "Tidak ada kemungkinan ketiga!" kata John Powell, konselor
dan penasihat spiritual.

Bila untuk mencintai kita memerlukan syarat, maka cinta itu bukan cinta
sejati. Cinta sejati adalah harus dan merupakan hadiah yang diberikan
secara cuma-cuma.

Kita benar-benar cinta bila orang yang kita cintai mendapatkan cinta
kita, bukan karena ia pantas menerima cinta kita. Disebut pantas karena
cantik, anggun, ganteng, baik hati, dan sebagainya. Kita sadar bahwa
orang yang kita cintai bukanlah orang yang terbaik, bukan orang yang
paling hebat, bukan yang paling cocok.

Namun, itu semua tidak menjadi persoalan. Yang penting adalah bahwa kita
telah memilih untuk memberikan kepada orang yang kita cintai berupa
cinta kita, dan juga telah memilih untuk mencintai kita. Dalam kondisi
inilah cinta dapat tumbuh dengan baik.

Erich Fromm, psikolog yang terkenal dengan bukunya,/ The Art of Loving/,
menulis tentang cinta tak bersyarat. Menurut Fromm, cinta tak bersyarat
berhubungan langsung dengan kerinduan yang paling dalam, bukan hanya
kerinduan pada anak, melainkan kepada setiap manusia.

Sebaliknya, orang yang dicintai karena alasan pantas atau dianggap
berhak menerima cinta selalu menimbulkan keraguan: mungkin saya tak
dapat membahagiakan orang yang saya inginkan dapat mencintai saya atau
mungkin selalu ada rasa cemas, jangan-jangan suatu waktu cinta akan lenyap.

Selain itu, cinta yang didapat karena alasan pantas menerimanya selalu
meninggalkan rasa getir dalam kesan bahwa orang dicintai bukan karena
dirinya, melainkan karena kemampuannya membuat orang lain senang. Ini
bukan cinta, melainkan manipulasi!

*Seperti binatang sirkus*
John Powell menegaskan bagaimana cinta tak bersyarat mendukung
perkembangan pribadi. Cinta yang banyak terjadi adalah cinta yang
membelenggu. Tanpa sadar, banyak orangtua memperlakukan anak seperti
binatang sirkus, yang dihukum atau diupah agar berperilaku persis
seperti yang diinginkan tuannya.

Demikian pula suami terhadap istri atau sebaliknya. Cinta seperti ini
berisiko menimbulkan luka batin dan bersifat merusak (destruktif).
Powell mengungkapkan sebagai berikut:

Kita telah lama menganggap bahwa koreksi, kritik, dan hukuman dapat
mendorong perkembangan dan pertumbuhan. Kita terbiasa membenarkan
cara-cara destruktif untuk menutupi ketidakbahagiaan dan
ketidaklengkapan kita. Contohnya, penelitian yang dilakukan akhir-akhir
ini mengungkapkan bahwa 80 persen narapidana di negeri ini menerima
perlakuan keras dan kejam ketika masa kecil.

Baru akhir-akhir inilah ilmu perilaku mengungkapkan bahwa cinta tak
bersyarat merupakan satu-satunya cara yang memungkinkan orang
mengembangkan kepribadian yang manusiawi.

Kehendak bebas merupakan salah satu faktor dalam hidup manusia. Setiap
orang harus menyatakan "ya" untuk pertumbuhan dan integritas pribadinya,
tetapi ada prasyarat: harus ada orang yang mendorong kita untuk percaya
pada diri sendiri dan menjadi diri sendiri. Ini hanya dapat dilakukan
oleh orang yang benar-benar mencintai kita.

Kalau kita bicara tentang cinta tak bersyarat, kita akan teringat
orangtua yang bersikap manipulatif. Ada orangtua yang hanya memberikan
kasih sayang dan penguatan kepada anak bila keinginannya terpenuhi: bila
nilai rapor bagus, patuh, dapat menimbulkan rasa bangga orangtua, dan
lainnya. Kita juga teringat bahwa banyak hubungan suami atau istri
seperti demikian.

Begitulah yang sering terjadi. Hubungan suami-istri atau orangtua-anak
tak lebih dari saling tukar: yang satu menjual, yang lain membayar;
bukan lagi cinta tak bersyarat.

Kita sering kali tidak menghiraukan cinta tak bersyarat yang mendasar.
Orang yang kita manipulasi kita beri hadiah tertentu karena telah
memenuhi keinginan kita. Kita meletakkan kepada mereka identitas pribadi
yang kita pilihkan. Kita letakkan mereka di sudut sempit dalam kehidupan
ini dengan hanya membolehkan mereka menjadi seperti yang kita inginkan.
Padahal, cinta tak bersyarat bersifat membebaskan. @

*M.M Nilam Widyarini M.Si
Kandidat Doktor Psikologi*

Sumber:
http://kesehatan.kompas.com/read/2010/07/14/1323066/Cinta.yang.Menyehatkan-8

Senin, 12 Juli 2010

Ibu, Bagaimana Kabarmu ???

Oleh *SINDHUNATA*

Ibu selalu menyertaimu. Ibumu adalah bisikan daun-daun, ketika kau
mencari angin berjalan-jalan. Ia adalah aroma segar yang keluar dari
kaus kakimu yang putih tercuci bersih. Ibumu hidup dalam tawamu, dan
mengkristal dalam tetes air matamu.

Ibumu adalah tempat tinggalmu yang pertama. Dari sana kamu datang, dan
dia adalah terang yang menuntun setiap langkah hidupmu. Dialah cinta
pertamamu, takkan ada yang dapat memisahkanmu darinya. Waktu, jarak,
bahkan kematian takkan memisahkan kamu dari ibumu. Kamu akan membawa dia
di dalam dirimu selalu.

Begitulah kurang lebih isi sajak yang ditulis oleh Sherry Martin. Ibu
adalah hidup kita, dia akan menyertai kita ke mana-mana. Itu berlaku
untuk siapa saja. Tak terkecuali juga pemain bola. Bagi pemain bola,
ternyata ibu juga segala-galanya.

Ibu, dialah yang pertama kali ditelepon oleh Ramires (23), ketika dalam
pertandingan uji coba menjelang Piala Dunia 2010, Brasil menaklukkan
Tanzania 5-1. Tanzania memang bukan lawan yang sepadan bagi Brasil.
Namun, itu bukan soal. Yang penting, Ramires ingin membuat Yudith,
ibunya, bangga dan bahagia. Apalagi dalam pertandingan uji coba itu,
Ramires sendiri memborong dua gol. Oleh karena itu, ia segera membagikan
kebahagiaan kepada ibunya yang tinggal jauh di seberang sana.

Demikian juga halnya dengan Samuel Eto'o. Pada masa kecil Eto'o hidup di
perkampungan kumuh wilayah Douala, kota terbesar di Kamerun. Hidupnya
sangat miskin dan ibunya harus mati-matian mencari uang untuk menghidupi
keluarganya.

"Setiap kali saya mencetak gol, apalagi gol yang amat menentukan, saya
selalu memikirkan ibu saya. Gambar ibu selalu terbayang di mata saya.
Ketika saya mencetak gol, saya terkenang, bagaimana pada pagi-pagi buta,
ibu pergi meninggalkan rumah, untuk menjual ikan, agar ia bisa
menghidupi keluarga. Tanpa dia, tak ada saya sekarang," aku Eto'o kepada
penulis Christian Ewers yang mewawancarainya.

Eto'o bilang, setiap pertandingan adalah pertarungan. Ia tak ingin
mengalah. Ia ingin bertahan seperti ibunya, yang demikian tabah bekerja
di pasar, sampai mendapatkan uang untuk keluarganya. Jadi bagi Eto'o,
setiap gol yang ia peroleh bagaikan sekeping mata uang, yang dulu dicari
dengan susah payah oleh ibunya. Gol itu terasa sebagai pembebasan dari
belenggu kemiskinannya.

Cacau ternyata juga mempunyai pengalaman yang mirip dengan Eto'o. Cacau
asli Brasil, dilahirkan dari keluarga amat miskin di desa kecil, 40
kilometer dari Sao Paulo. Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Dan Cacau sendiri pernah menjadi pedagang asongan di jalan-jalan raya
Sao Paulo.

"Waktu saya mencetak ke gawang Australia, ibulah yang datang pertama
kali ke dalam pikiran saya. Lalu saya teringat akan kedua saudara saya
dan bersamaan dengan itu timbullah segala kenangan akan kemiskinan dan
penderitaan yang pernah saya lalui," kata Cacau.

Ia tak tahu, mengapa gol itu serasa sebagai sebuah kebahagiaan yang
dapat menutupi penderitaan yang dulu harus ditanggung oleh ibunya.

Kenangan akan kasih ibu semacam itu juga terjadi pada gelandang Inggris,
Frank Lampard. Menurut bibinya, Sandra Redknapp, Lampard sangat terpukul
ketika dua tahun lalu ibunya meninggal karena pneumonia. "Ia sangat
membutuhkan dukungan ibunya sehingga dalam Piala Dunia kali ini, ia
pasti merasa sangat kehilangan dukungan itu," tutur Sandra Redknapp,
yang merupakan istri Harry Redknapp—paman Lampard—pelatih Tottenham
Hotspurs.

Kata Sandra, Pat, ibu Lampard, selalu hadir setiap kali Lampard
bertanding sejak Lampard masih anak-anak. Pada Piala Dunia di Jerman,
empat tahun lalu, Pat juga datang menyaksikan pertandingan anaknya. "Pat
sangat bangga akan anaknya. Sekarang Pat sudah tiada, padahal Frank
selalu membutuhkannya. Jadi saya yakin, dalam Piala Dunia kali ini, Pat
juga datang dan menjaga Frank, serta berharap, Frank memperoleh hasil
yang terbaik," kata Sandra pada awal perhelatan Piala Dunia 2010.

Dan bagaimana dengan Arjen Robben? Setelah Bayern Muenchen keluar
sebagai juara Liga Jerman, lalu bersiap-siap menghadapi final Liga
Champions melawan Inter Milan, Robben pernah bilang demikian, "Andaikan
nanti saya bisa menikmati juara Liga Champions dan kemudian menjadi
juara di Piala Dunia 2010, tak ada lagi yang akan saya buat, kecuali
meninggalkan semuanya lalu pulang ke rumah ibu saya."

Bagi pemain bola, ibu ternyata adalah tempat, yang selalu mengajak
mereka pulang. Ibu adalah naungan, di mana mereka merasa aman dan
tenteram. Ibu juga selalu mengikuti mereka ketika mereka bersusah payah
merebut dan memainkan bola. Juga ketika ibu telah tiada, mereka tetap
percaya akan kehadirannya.

Ibu melebihi kemampuan dan kehebatan mereka. Kalau ibu mengawal mereka,
mereka merasa pasti bahwa mereka akan menemukan jalan menuju kemenangan.
Ibu, yang lemah lembut dan penuh kasih itu, adalah puisi di tengah
lapangan bola yang keras dan penuh pertarungan. Dan gol adalah
persembahan cinta yang ingin mereka haturkan kepada ibunya. /Mother, how
are you today/? Ibu, bagaimana kabarmu? Lagu ini ternyata adalah
kata-kata cinta, yang juga menjadi isi hati para pemain bola.

Sumber:
<a
href="http://bola.kompas.com/read/xml/2010/07/12/09144253/Ibu..Bagaimana.Kabarmu-12">bola.kompas.com</a>

Minggu, 11 Juli 2010

Kenali 7 Kepribadian dalam Mengelola Keuangan

*KOMPAS.com* - Setiap orang memiliki /money archetype/ (budaya dalam
diri saat menghadapi keuangan) yang berbeda. Perbedaan /archetype/ ini
membuat cara pandang seseorang terhadap uang menjadi berbeda pula.
Termasuk bagaimana seseorang memperlakukan uang.

Tipe /archetype/ bukan menunjukkan kepribadian Anda, namun lebih dalam
mengarahkan tempat di mana anda berada. Artinya, bagaimana karakter dan
kebiasaan Anda mengenai pengelolaan keuangan bisa dikenali dari sini.
Dengan mengenali karakter ini, sebagai individu Anda bisa menghindari
dari kebocoran keuangan. Dampak positif lainnya lebih terasa pada
pasangan. Anda dan pasangan bisa lebih saling mengenali dan mampu
mencari solusi keuangan yang menyeimbangkan hubungan.

Coach Yuza Aziz dan Coach Tom MC Ifle, pemilik iCOACH, memaparkan
delapan macam /money archetype/ dan dampaknya:

*1. Innocent*
Seseorang yang memiliki tipe ini cenderung memiliki rasa takut , tidak
percaya diri, dan tidak mau memikirkan masalah keuangan. Orang-orang
tipe ini memiliki rasa ketakutan yang tinggi ketika dihadapkan dengan
hal-hal yang berhubungan dengan keuangan. Dia merasa tidak memiliki
kekuatan dan kemampuan untuk mengatur segala seuatu tentang uang.

Dampaknya, jika seseorang mendapatkan uang dalam jumlah besar, akan
mudah habis. Karena kebiasaan yang dimiliki orang dengan tipe ini
cenderung tidak bertanggungjawab dengan uang.

"Orang yang karakter /innocent/-nya aktif dalam dirinya, cenderung tidak
belajar tanggung jawab. Karena kebiasaannya, setiap mendapatkan uang
hanya akan diserahkan kepada orang lain, misalnya kepada orangtua, untuk
mengelolanya," kata Tom kepada /Kompas Female,/ di sela /workshop
"/Money Coaching" di Hotel Harris, Kelapa Gading Jakarta, Jumat (9/7/2010).

*2. Victim*
Kebanyakan orang yang memiliki tipe ini cenderung akan menyalahkan orang
lain ketika mengalami suatu masalah. Mereka akan merasa khawatir jika
masalah yang dihadapi akan berbalik menimpa diri mereka. Oleh karena
itu, untuk menyelamatkan diri, mereka akan menyalahkan orang lain
sebagai penyebab terjadinya masalah tersebut. Karakter mendasarnya,
orang tipe ini tidak mudah percaya kepada orang lain.

Dampaknya, uang menjadi tidak produktif. Karena tipe /victim/ ini tidak
mempercayakan uangnya untuk investasi atau menabung di bank, misalnya.
Uang hanya akan disimpan dalam brankas atau bahkan di bawah bantal,
karena tidak percaya lembaga keuangan.

*3. Martyr*
Orang-orang pada tipe ini memiliki kecenderungan berkorban buat orang
lain. Meskipun demikian, setelah berkorban untuk orang lain, mereka
mengharapkan suatu balasan. Sisi negatifnya, dengan banyaknya
pengorbanan yang dilakukan untuk orang lain, orang tipe ini seringkali
mengabaikan dirinya sendiri.

Dampaknya, tipe /martyr/ ini tidak pernah bisa menabung. Orang lain akan
sangat mengandalkan si /martyr/ ini untuk meminjam uang. Bahayanya lagi,
tipe ini tidak berani atau bahkan malas menagih piutang.

"Efek negatif lainnya, karena terlalu banyak menyuapi, orang lain yang
dibantunya menjadi manja dan tidak produktif," papar Tom.

*4. Fool*
Tipe ini cenderung memiliki spontanitas yang tinggi, dan bertindak tanpa
dipikirkan lebih matang. Mereka tidak berpikir tentang masa depan. Apa
yang ada sekarang, itulah yang dilakukan.

"/Fool/ di sini lebih kepada konyol. Karakternya malas, mengharap uang
cepat atau instan," kata Tom, menyebut tipe ini sebagai spekulator yang
tidak disiplin.

Dampaknya, spekulator ini berani berhutang hanya untuk kesenangan semata.

*5. Tyran*
Orang-orang yang memiliki tipe ini cenderung takut kehilangan uang.
Biasanya, orang pada tipe ini memiliki sifat yang serakah dan tidak
pernah puas. Seringkali mereka bekerja terlalu keras tanpa memperdulikan
berbagai hal lain di sekelilingnya. Bahkan tidak jarang juga, orang pada
tipe ini tidak memperhatikan kesehatannya.

Dampaknya, tipe ini selalu merasa tidak pernah cukup dengan kondisi
keuangannya. Akhirnya cenderung memanipulasi dan terlalu mengontrol.

*6. Warrior*
Berbeda dengan kelima tipe di atas, tipe ini memiliki kecenderungan
untuk menciptakan ide menjadi realitas. Orang-orang dengan tipe ini
memiliki sifat yang bijaksana, mempunyai target yang jelas untuk masa
depan, dan juga kalkulatif dalam perhitungan pemasukan dan pengeluaran.
Mereka juga memiliki kepercayaan diri dan sukses dalam masalah keuangan.

Tipe ini sangat sehat, kata Tom. Orientasinya yang jelas menuju sasaran
membuatnya sukses secara finansial. Tipe seperti ini biasanya ditemui
pada para pengusaha sukses yang disiplin dengan keuangannya.
*
7. Magician*
Orang yang memiliki tipe ini cenderung menjadikan masa lalu sebagai
suatu pembelajaran. Mereka juga berusaha untuk mengubah suatu ide
menjadi realitas walaupun terlihat tidak mungkin. Orang-orang dengan
tipe ini cenderung memiliki sifat idealis, percaya diri, dan
mengandalkan diri sendiri. Mereka percaya bahwa mereka memang dapat
mengerjakannya.

Tipe seperti inilah yang diharapkan, kata Tom. Dia menjadi tuan atas
uangnya dan tidak menjadi hamba atas uang, apalagi mendewakan uang.
*
8. Creator/Artist*
Tipe ini biasanya mengikuti panggilan hati dalam melakukan berbagai hal.
Mereka juga memiliki sifat yang idealis dan spiritual yang cukup baik.
Mereka juga terbiasa untuk menciptakan sesuatu.

Kecenderungannya, tipe ini bekerja demi /passion/ dan tidak realistis.
Bahkan terlalu ekstrem, seakan tidak membutuhkan uang.

"Orang dengan karakter seperti ini mensabotase dirinya dengan
penyangkalan. Membutuhkan uang tetapi seperti tidak butuh, bahkan mau
bekerja meski tak dibayar," jelas Tom.

Dengan mengenali berbagai tipe ini, Anda sebagai individu apalagi
bersama pasangan bisa saling menyeimbangkan diri. Dengan begitu akan
lebih mudah menemukan perencanaan dan solusi keuangan.

Sumber:
kompas.com

Jumat, 09 Juli 2010

9 Kalimat Terlarang Diucapkan di Kantor

*KOMPAS.com - *Disadari atau tidak, kalimat yang kita lontarkan pada
atasan memberi pengaruh cukup besar pada perkembangan karier. Bila
kalimat positif yang sering Anda ungkapkan, percayalah, kesempatan
promosi tidak akan pernah lepas dari genggaman. Sebaliknya, bila kalimat
negatif yang keluar maka promosi pun enggan mampir pada Anda. Nah, agar
Anda tak terpeleset gara-gara salah bicara, simak 10 kalimat yang
terlarang diucapkan pada atasan.

*"Pekerjaan ini tak bisa dilakukan"*
Semua hal adalah mungkin. Jika Anda mengatakan, sesuatu tidak mungkin
Anda lakukan, kalimat ini adalah harga mati. Atasan akan mendapat kesan,
bahwa Anda mudah menyerah dan tidak maksimal dalam berusaha. Sebelum
mengeluh, coba selidiki tujuan atasan memberikan tugas itu, apa yang
sebenarnya diinginkan atasan. Meskipun target yang diinginkan tidak
mungkin tercapai, lebih baik Anda komunikasikan mengenai tantangan yang
dihadapi ini dan mendiskusikan solusi untuk mengatasi tantangan tersebut.

*"Saya tidak suka tugas ini"*
Ketika bekerja, mungkin saja Anda mendapat tugas yang disukai atau tidak
disukai. Namun, apa pun kemungkinannya, semua itu tetap tugas yang harus
dikerjakan. Jika Anda menolak tugas atas dasar rasa suka dan
ketidaksukaan, Anda akan terlihat sebagai orang yang suka pilih-pilih
tanggung jawab, manja, dan tidak siap menghadapi dunia pekerjaan.
Nantinya, Anda akan semakin tersingkirkan dari kerja tim dan tanggung
jawab lebih besar. Sebab, atasan tak mau mengambil risiko menghadapi
penolakan Anda atas tugas yang diberikan.

*"Ini tak termasuk dalam deskripsi pekerjaan saya"*
Selama yang diminta untuk lakukan tidak jauh dari lingkup kerja
perusahaan, sebaiknya jangan mengatakan kalimat ini kepada atasan.
Sekarang ini, perusahaan menginginkan kerja tim dan fleksibilitas dari
karyawan mereka, yang kadang menuntut pekerjaan di luar tugas
sehari-hari, untuk meraih target. Jika Anda pikir tugas tersebut adalah
ide yang buruk, coba jelaskan dengan alasan yang tepat mengenai
pekerjaan tersebut lebih baik dikerjakan oleh orang lain. Hal ini lebih
efektif daripada kalimat di atas.

*"Ini bukan salah saya"*
Kalimat ini justru membuat atasan tidak mempercayai Anda dan terkesan
Anda lebih senang melimpahkan kesalahan pada orang lain daripada mencoba
bertanggung jawab. Jika memang menjadi kesalahan dalam tim, akuilah
bersama lalu berikan solusi untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan hal
ini akan lebih simpatik di mata atasan. Bila yang terjadi adalah
kesalahan individu, dan kebetulan tidak disebabkan oleh Anda, coba
jabarkan bukti bahwa Anda telah mengambil langkah yang benar.

*"Belum dikerjakan"*
Atasan mengharapkan tugas dilakukan secepat mungkin setelah diberikan.
Jika "belum" adalah jawaban Anda, akan membuat atasan Anda kecewa dan ia
akan mengira bahwa Anda suka menunda pekerjaan. Atau menganggap justru
posisi yang diberikan terlalu tinggi. Meskipun tugas tersebut belum
selesai, beri jawaban mengenai kemajuan yang telah dilakukan dan target
Anda untuk menyelesaikan tugas tersebut.

*"Saya tidak mengerti"*
Sesekali menanyakan kembali tugas yang telah diberikan atasan, boleh
saja. Namun, jika sering kali membuat Anda terlihat kurang memerhatikan
perkataan atasan, hal ini akan mengurangi poin Anda ketika tiba saatnya
evaluasi untuk promosi jabatan. Apabila ingin menghindari kesalahpahaman
mengenai tugasnya, coba ulangi pemahaman yang Anda terima. Hal ini lebih
jelas dalam menggambarkan tingkat pemahaman Anda.

*"Saya sudah tahu, tak perlu diajari"*
Mungkin Anda ingin menyampaikan bahwa Anda paham mengenai tugas yang
diberikan dan cara yang harus dilakukan. Namun, kalimat ini akan
menyinggung bagi atasan yang mendengarnya. Lagipula, kalimat seperti ini
cenderung menggambarkan orang yang keras kepala dan tidak bersikap
terbuka terhadap kritik dan kurang berusaha memperbaiki diri.

*"Pekerjaan ini sungguh melelahkan"*
Intinya adalah, jangan mengeluhkan mengenai pekerjaan kepada atau di
hadapan atasan. Hal ini membuat Anda terlihat kurang dewasa, kurang
mampu untuk diberikan tanggung jawab lebih besar dan tidak tangguh. Hal
ini memperkecil kemungkinan Anda untuk meraih promosi jabatan karena
atasan menjadi ragu-ragu terhadap kemampuan Anda.

*"Kenapa si X mendapat pekerjaan yang lebih mudah?"*
Iri hati kepada rekan kerja akan menyebabkan atasan berpikir bahwa Anda
tidak suka mendapatkan tanggung jawab lebih besar. Atasan akan berpikir
bahwa Anda tidak menyukai tantangan yang biasanya pada posisi lebih
tinggi. Lagipula, pernyataan ini seolah-olah menanyakan kebijakan yang
diberikan atasan, padahal mungkin sebenarnya atasan memiliki tujuan lain
ketika memberikan tugas itu.
*
(Primanila Serny/Majalah Chic)*


Sumber:
kompas.com