Rabu, 02 Juni 2010

Facebook dan Twitter Rusak Bahasa

*SURABAYA, KOMPAS.com* — Pakar linguistik dari Universitas Kristen Petra
Surabaya, Prof Dr Esther Kuntjara, menilai bahwa sejumlah situs jejaring
sosial di dunia maya, seperti Facebook dan Twitter, serta sejenisnya
telah merusak bahasa.

"Hal itu karena dunia maya menggunakan bahasa lisan yang ditulis, bukan
bahasa tulis atau bahasa lisan sehingga bahasa lisan yang ditulis dapat
mengacaukan bahasa baku," katanya dalam seminar di kampus setempat,
Selasa (1/6/2010).

Setelah berbicara dalam seminar "Language in The Online and Offline
World (LOOW)" yang digagas Jurusan Sastra Inggris UK Petra Surabaya itu,
dosen UK Petra Surabaya tersebut menyatakan, bahasa lisan yang ditulis
itu dikenal dengan istilah /alay/.

"Saya sendiri tahu istilah bahasa /alay/ itu justru dari penelusuran
melalui Facebook. Yang jelas, bahasa /alay/ itu mencampur aduk antara
tulisan, lisan, dan gambar sehingga semuanya menjadi kacau," katanya.

Menurut alumni Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga itu,
kekacauan bahasa itu terlihat karena peletakan gambar yang seenaknya dan
kadang emosi juga diungkapkan secara tidak tepat.

"Misalnya, kalau menyatakan tertawa keras ditulis dengan LOL. Padahal,
mungkin saja penulis itu justru sedang marah, bukan tertawa, sehingga
semuanya menjadi kacau atau rumit," kata alumni S2 dari San Francisco
State University, AS, itu.

Anehnya, bahasa yang rusak itu katanya justru dianggap sebagai
kreativitas. "Penutur bahasa dalam dunia maya memang kreatif, tapi kalau
rusak-rusakan kok dibilang kreatif, sih," katanya sambil tersenyum.

Dosen yang juga alumni S3 dari Indiana University of Pennsylvania,
Amerika Serikat (AS), itu mengatakan bahwa dunia maya juga memunculkan
sosok yang mudah berubah dalam satu waktu. "Identitas dalam dunia maya
itu mudah diubah sehingga kalau kita mau, apa saja bisa, bahkan bicara
dengan sekian orang dengan karakter berbeda juga bisa, apalagi mengubah
status di Facebook itu juga sangat mudah," katanya.

Ia menambahkan kerusakan bahasa dan mudahnya perubahan identitas dalam
dunia maya itu melahirkan generasi yang berani bersikap dan asosial atau
individualis. "Bagaimana tidak dikatakan asosial, karena ayah, ibu, dan
anak mengetahui kegiatan masing-masing hanya lewat dunia maya. Di dalam
Facebook, si anak bilang saya sedang mandi, si ibu bilang kalau dirinya
sedang makan, dan sebagainya. Semuanya lewat BB (Blackberry)," katanya.

Di lain pihak, dalam kondisi seperti itu, katanya, Indonesia sangat
tertinggal dalam kosa kata baru dalam istilah teknologi informasi
sehingga orang mengambil bahasa aslinya, seperti komputer, /online/,
/download/, /upload/, dan /website/, serta sebagainya. "Memang sudah
diupayakan /download /diterjemahkan dengan unduh atau website dengan
laman, tapi hal itu kalah cepat sehingga hal itu tidak laku," katanya.

Sumber:
http://tekno.kompas.com/read/xml/2010/06/01/20375867/Facebook.dan.Twitter.Rusak.Bahasa-12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar