Terry Mart
Apakah Anda termasuk pencandu Facebook, Twitter, Youtube, atau selancar
di internet? Atau Anda pelanggan Kompas e-paper? Jika ya, tahukah Anda
bahwa itu semua berkat world wide web yang pertama kali ditemukan di
laboratorium fisika nuklir Eropa, CERN?
World wide web yang disingkat WWW sebenarnya adalah produk sampingan
riset dasar yang bertujuan memajukan pengetahuan manusia tentang jagat
raya serta isinya.
Hingga saat ini, CERN yang menjadi pemimpin dunia untuk riset eksperimen
fisika partikel telah menghasilkan banyak produk sampingan, yang tanpa
disadari sudah dipakai masyarakat awam sekalipun.
Berbeda dengan riset aplikatif yang memiliki target pasti, riset dasar
umumnya dilatarbelakangi oleh rasa ingin tahu (curiosity). Riset
aplikatif dapat diartikan sebagai inovasi atau pengembangan dari suatu
metode yang sudah ada, sedangkan riset dasar memiliki problem yang tidak
dapat dipecahkan dengan metode atau teknologi yang tersedia saat ini.
Jadi, riset aplikatif dapat dianalogikan sebagai pisau bermata satu,
sedangkan riset dasar seperti pisau bermata dua. Di satu sisi riset
dasar menjawab keingintahuan manusia yang berarti memajukan pengetahuan,
sementara di sisi lain riset dasar harus mengembangkan metode baru untuk
menjawab keingintahuan tadi. Metode atau teknologi baru ini sering
memiliki aplikasi revolusioner yang sifatnya tak terduga.
Bukan rahasia lagi jika mayoritas pemberi dana, terutama swasta, enggan
membiayai riset dasar. Ini karena tiga sifat intrinsik yang tidak
disenangi, yaitu penerapan hasil penelitian yang sifatnya tak terduga,
rentang waktu antara penemuan dan penerapan yang sangat panjang, serta
hasil temuan yang tak dapat dipatenkan sehingga tidak akan membuat
penemunya kaya.
Meskipun demikian, temuan riset dasar banyak yang menyebabkan revolusi
pemikiran, metode, teknologi, bahkan budaya dan politik. Ambil contoh
penemuan WWW yang didasari oleh kebutuhan fisikawan partikel untuk
memecahkan masalah penelitian mereka dengan komunikasi data lewat komputer.
Adalah Tim Berners-Lee yang berhasil memecahkan masalah ini pada tahun
1989 dengan membuat jejaring komunikasi komputer di CERN, yang kini kita
kenal sebagai WWW. Jika Mark Zuckerberg mengklaim bahwa Facebook telah
memiliki 750 juta anggota, jelas bahwa WWW telah menghubungkan lebih
dari semiliar manusia melalui komputer desktop, laptop, tablet, ataupun
telepon seluler.
Mengubah budaya
Selain berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi (diperkirakan
meningkatkan 20 persen penjualan di sektor bisnis), jejaring ini juga
telah mengubah budaya kaum muda melalui jejaring sosial semacam Facebook
dan Twitter. Tidak cuma berhenti di situ, WWW juga telah memberikan
dampak luar biasa kepada dunia politis, mulai dari penggalangan massa,
penolakan terhadap suatu kebijakan, hingga kasus beberapa tokoh
masyarakat dan politisi karena mengunggah atau mengunduh gambar tak
layak melalui jejaring ini. Dampak semacam ini tentu saja tidak pernah
direncanakan dan tidak diduga oleh Berners-Lee ataupun peneliti riset
dasar CERN.
Masalah kedua yang tidak disenangi oleh sektor swasta adalah panjangnya
rentang waktu antara penemuan dan penerapannya. Jika WWW memerlukan
waktu 10 tahunan untuk sampai ke sektor bisnis, penemuan jam atom yang
semula untuk menyelidiki keabsahan teori relativitas khusus Einstein
memerlukan waktu lebih lama hingga digunakan untuk Global Positioning
System (GPS), yang saat ini telah menjadi bisnis miliaran dollar. Selain
jam atom, teori relativitas khusus dan umum Einstein tampaknya juga
diperlukan karena gerak relatif serta medan gravitasi bumi memengaruhi
akurasi data GPS.
Mungkin, yang memerlukan waktu lebih lama lagi adalah teori mekanika
kuantum. Penemuan transistor, sel surya, dan energi nuklir tidak akan
terjadi jika teori kuantum tidak pernah lahir.
Masalah ketiga adalah yang paling sensitif di dunia bisnis, yaitu hasil
temuan riset dasar menjadi milik publik. Penjelasan tentang hukum alam
beserta turunannya tidak dapat dipatenkan. Begitu juga dengan WWW yang
tentu saja akan menghasilkan keuntungan miliaran dollar jika semua
pemakai kena biaya royalti. Berbeda dengan peneliti riset dasar yang
berlomba-lomba memublikasikan temuan mereka, hasil-hasil riset aplikatif
kebanyakan dipatenkan atau bahkan disembunyikan.
Mantan Direktur CERN Llewellyn Smith mengatakan bahwa hasil temuan riset
dasar umumnya bermanfaat secara global dan tidak dapat "ditangkap"
langsung oleh satu perusahaan saja. CERN, yang berperan dalam penemuan
WWW serta positron emission tomography (PET) pada masa lalu, kini
memimpin dalam bidang teknologi informasi.
Eksperimen pencarian partikel Higgs saat ini menghasilkan data 1
petabyte (1.000 gigabyte) per detik! Tentu saja sangat mustahil
menyimpan seluruh data ini di dalam hard disk. Data itu harus diolah
secara realtime sehingga memunculkan teknologi grid- computing yang
menangani gunungan data tersebut secara efisien serta mengalirkannya ke
komputer-komputer super di muka bumi. Robert Aymar yang juga mantan
Direktur CERN sangat yakin jika ke depan teknologi ini sangat diperlukan
untuk riset bioinformatika, ramalan cuaca, eksplorasi minyak, dan
penemuan obat.
Tanggungan pemerintah
Fakta yang sangat menarik adalah dari sekitar 10.000 pemercepat partikel
di dunia, hanya sekitar 100 yang dipakai untuk penelitian fisika
partikel. Mayoritas sisanya dipakai di rumah sakit serta untuk tujuan
medis lain. Lebih dari 90 persen radiasi sinkrotron yang dihasilkan oleh
sinkrotron SPRING8 di Osaka, Jepang, dipakai untuk riset industri,
farmasi, medis, dan material. Untuk penelitian fisika nuklir dan
partikel hanya 5 persen.
Karena hasilnya menjadi milik publik, riset dasar harus didanai
pemerintah. Bagaimana jika dilepas ke swasta?
Llewellyn Smith menyatakan tidak bisa. Contoh yang paling bagus adalah
Jepang, Korea Selatan, dan Singapura sebagai negara yang berhasil
mengembangkan ekonomi berbasis pengetahuan. Sektor swasta di ketiga
negara tersebut memang mengembangkan riset aplikatif yang mendorong
industri. Namun, analisis jumlah investasi dan pertumbuhan ekonomi di
ketiga negara tersebut menunjukkan bahwa perekonomian mereka kurang
efisien dibandingkan Amerika. Penyebabnya adalah riset aplikatif yang
tidak didukung riset dasar sehingga banyak input riset aplikatif belum
dikuasai.
Tentu saja problem ini segera terendus oleh Jepang dan Korea Selatan
yang sejak dekade terakhir menggelontorkan dana besar-besaran untuk
mengembangkan riset dasar. Hasilnya? Berita terakhir menguak isu bahwa
salah satu penyebab mundurnya ekonomi Amerika saat ini adalah akibat
generasi mudanya yang kalah bersaing dengan generasi muda Asia dalam
penguasaan sains dasar!
Sumber:
www.kompas.com/cetak
Terry Mart Pengajar pada Departemen Fisika FMIPA UI