Senin, 07 Juni 2010

Mandela, Beda antara Afsel dan Indonesia

Catatan dari Afrika Selatan (1)


*PENGANTAR*
WARTAWAN /Tribun /*Uki M Kurdi *pernah berkunjung ke Afrika Selatan
selama enam hari pada September 2005, satu tahun setelah FIFA memutuskan
negeri ini resmi menjadi penyelenggara Piala Dunia 2010. Catatannya akan
dituangkan dalam beberapa seri mulai hari ini.

*KOMPAS.com- *Dua kali Asosiasi Federasi Sepakbola Internasional (FIFA)
membuat keputusan "aneh", menunjuk negara yang tidak gila bola sebagai
tuan rumah penyelenggara pesta akbar /world cup/. Tahun 1994, mereka
menetapkan Amerika Serikat (AS), kemudian untuk 2010 FIFA memutuskan
Afrika Selatan (Afsel) sebagai tuan rumah, seusai World Cup 2006 Jerman.

Saya berkunjung ke Afrika Selatan pada akhir September 2005 lalu. Selama
lima hari di negerinya Presiden Jacob Zuma (dilantik sebagai Presiden
Afsel pada 9 Mei 2009) saya memang tidak merasakan adanya getaran demam
olahraga sepakbola. Di negera dengan penduduk 44 juta jiwa itu
sepakbola, seperti halnya di AS, menjadi olahraga nomor dua atau nomor
kesekian. Orang Afsel lebih senang bermain rugby dan cricket.

Saking gilanya mereka pada kedua cabang olahraga tersebut, dunia pun
sudah pernah menunjuk Afsel sebagai tuan rumah Rugby World Cup tahun
1995, dan Cricket World Cup 2003. Sepakbola? Aduh Gusti, sepi!
Kompetisi liga sepakbola di sana pun, South Africa Castle Premiership,
hanya diikuti 16 kesebelasan. Kurang seru dan jarang ditayangkan
televisi, tidak seperti di Indonesia.

Tapi, begitulah FIFA. Karena, bila ukurannya adalah prestasi sepakbola
kelas dunia, rasanya tidak adil bila FIFA menunjuk Afsel menjadi tuan
rumah World Cup 2010. Kalaupun FIFA berkehendak menyelenggarakannya di
benua Afrika, toh masih ada sederet negara di benua hitam itu yang
selama ini menunjukkan kedigdayaannya. Sebut saja Kamerun, Nigeria,
Mesir, Marokko, Tunusia, Ghana, Togo, Pantai Gading, dan lainnya.

Dan, keputusan memang sudah tidak bisa diubah. Tanggal 15 Mei 2004 silam
24 anggota Executive Committee FIFA, dalam sidangnya di Zurich, Swiss,
memilih dan menetapkan Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia
2010 dalam pemilihan lewat voting. Afsel mengungguli calon dari Afrika
lainnya; Maroko, Mesir, Libia, dan Tunisia. /Welcome to World Cup South
Africa 2010/.

*Tidak istimewa*

Lalu kenapa Afrika Selatan? Padahal, negeri penghasil berlian terbaik di
dunia, dan pengekspor utama dunia untuk komoditas emas dan platinium ini
tergolong pendatang baru di ajang kejuaraan sepakbola piala dunia.

Sepanjang sejarah, mereka hanya dua kali berhasil lolos ke putaran
final. Yaitu pada World Cup 1998 Prancis (dengan bintangnya Doctor
Khumalo) dan Piala Dunia 2002 di Jepang/Korea (dengan pemain bintangnya;
Shaun Bartlet).

Prestasinya di kedua even itu pun rontok di babak penyisihan grup. Di
ajang Piala Dunia terakhir tahun 2006, Afsel bahkan tak mampu lolos ke
Jerman.

Lantas? Ya, boleh jadi pilihan FIFA itu karena faktor Nelson Mandela
(91). Dalam sambutannya di markas FIFA pada 7 Juli 2006 lalu, Mandela
kelahiran 18 Juli 1918 ini mengatakan, "Untuk rakyat Maroko, Mesir,
Libia, dan Tunisia, kalian jangan bersedih. Nanti, kalau kalian
bertanding di Afrika Selatan, saya kira kalianlah yang akan lebih
beruntung."

Itulah gaya Mandela, selalu berkata bijak dan menyejukkan. Dan, Nelson
Mandela memang disegani oleh rakyat seluruh benua Afrika. Ia bukan saja
mantan Presiden Republik Afrika Selatan (yang pertama), tapi juga sudah
menjadi Bapak Bangsa bagi keseluruhan bangsa di seantero benua Afrika.
Salah satunya adalah karena kepahlawanan Mendela dalam melawan penjajah
yang menerapkan kebijakan rasis, Aprtheid (1948-1994).

Apa hubungannya Nelson Mandela dengan pilihan FIFA? Mungkin, karena
Mendela dinilai berhasil meletakkan dasar-dasar negara untuk membawa
Afrika Selatan maju di bidang pembangunan ekonomi dan stabilitas
politik, dibanding negara-negara lain di seantero Benua Afrika.

*Lebih maju dari negara Afrika lainnya*

Selama di Afrika Selatan, saya mengunjungi tiga kota besar;
Johannesburg, Pretoria dan Cape Town. Suhu udara pada bulan September
berkisar 10-15 derajat Celsius. Saat itu, masyarakat Afsel mengenakan
pakaian hangat.

Di jalan-jalan, di toko-toko, di hotel-hotel, dimana-mana, terlihat
pemandangan kulit hitam dan kulit putih hidup bersama dengan rukun. Di
hotel tempat saya menginap misalnya, para pelayan hotel berkulit hitam
dan putih, terlihat bekerjasama dengan baik dengan tidak membedakan
warna kulit.

Menempuh jalur darat sejauh 70 Km dari Johannesburg ke Pretoria dengan
menggunakan bus, rasanya seperti sedang malakukan perjalanan di Jerman
atau Belanda. Jalan raya yang saya lalui sangat lebar dua arah,
masing-masing empat jalur dengan kelas highway. Sepanjang jalur itu,
berdiri bangunan gedung bertingkat, sederet pabrik dan puluhan kompleks
real estate yang benar-benar bergaya Eropa.

Apalagi ketika terbang dan mendarat di Cape Town. Saya menangkap kesan,
kota perdagangan, turis dan industri ini, benar-benar sangat Eropa. Asap
industri memutih di udara, gedung-gedung pencakar langit menjulang
dimana-mana. Penduduknya terlihat sibuk dikejar-kejar waktu.

Afrika Selatan memang jauh lebih maju secara ekonomi dan infrastruktur
dibanding negara-negara lain di benua Afrika. Ini pula, barangkali, yang
menjadi alasan, mengapa FIFA memilih Afsel sebagai tuan rumah Piala
Dunia 2010.

Lantas, apa jasa Mandela? Ketika penjajah dan rejim Apartheid bertekuk
lutut tahun 1994, Nelson Mandela --pemimpin perlawanan-- langsung
mengambil alih kekuasaan. Ia segera menggelar pemilihan umum yang
demokratis pada tahun itu juga, dan terpilihlah dia sebagai Presiden
Republik Afrika Selatan yang pertama.

Barangkali saja, Mandela belajar pada pengalaman perjuangan rakyat dan
bangsa lain yang berhasil mengusir penjajah, seperti halnya Indonesia.
Oleh karena itu, dengan sangat bijak Mandela mengeluarkan dekrit yang
berbunyi; dasar falsafah Republik Afrika Selatan adalah /unity
/(persatuan), /equality /(persamaan), dan /humility /(hak asasi manusia).

Dengan dasar falsafah negara seperti itu, para ekspatriat (mantan
penjajah) yang terdiri atas etnis Belanda, Jerman, Inggris, sebagian
Italia dan Prancis, oleh Mandela diminta untuk tidak meninggalkan Afsel.
Mendela mengajak mereka tetap tinggal di negeri itu, dengan jaminan
dirinya, untuk bersama-sama membangun Afrika Selatan.

Hasilnya? Afrika Selatan kini maju pesat secara ekonomi dan stabil
secara politik. Itulah jasa paling besar Mandela. Sangat visioner, dan
tidak ada dendam.

Bagaimana dengan Indonesia? Ketika kita merdeka, para penjajah Belanda
diusir pulang ke negaranya, orang Jepang didepak. Lalu, kita membangun
negeri ini di atas kaki sendiri. tertatih-tatih hingga kini.


*TENTANG AFRIKA SELATAN*

* Bentuk Negara : Republik

* Falsafah Negara: Unity, Equality, Humility
* Presiden: Jacob Zuma
* Penduduk: 44 Juta jiwa
* Kepadatan penduduk: 36/Km2
* Luas wilayah: 1.219.912 Km2
* Bahasa: Ada 11 bahasa resmi termasuk Bahasa Inggris
* Income per kapita: 3.630 dolar AS/tahun
* Mata Uang : Rand (1 Rand sekitar Rp 1.800)
* Penghasil dan pengekspor utama dunia untuk berlian, emas, platinium
* Memiliki stock exchange berkategori 10 besar terbaik dunia
* Memiliki infrastruktur yang baik utamanya transportasi
* Memiliki jaringan nasional telekomunikasi sangat modern


*REKOR AFSEL DI PIALA DUNIA:*
* 1930 - 1962: belum jadi anggota FIFA
* 1966 - 1990: kena sanksi FIFA karena apartheid
* 1994: pertama kali ikut World Cup tapi kandas di babak
kualifikasi zone Afrika
* 1998: lolos ke World Cup Prancis gugur di putaran penyisihan grup
* 2002: lolos ke World Cup Jepang/Korea terhenti di babak penyesihan grup
* 2006: tidak lolos ke World Cup Jerman

* 2010 : otomatis lolos karena sebagai tuan rumah


*PRESTASI AFSEL DI PIALA AFRIKA
** 1957: terkena diskualifikasi kerena apartheid
* 1959 - 1992: terkana sanksi FIFA karena apartheid
* 1994: tidak lolos babak kualifikasi
* 1996: juaa Piala Afrika
* 1998: juara kedua
* 2000: juara ketiga
* 2002: sampai babak perempat final
* 2004: rontok di babak pertama
* 2006: tersingkir di babak pertama


Sumber:
http://bola.kompas.com/read/xml/2010/06/07/13233998/Mandela..Beda.antara.Afsel.dan.Indonesia-3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar