Minggu, 30 Januari 2011
Meja Sembayang Antik Abad 18
Panjang meja : 124 cm, lebar 57 cm dan tingginya 184 cm.
Marmer nya yang di tengah sebagai alas meja nya 120 cm X 53 cm (di foto yang terlihat bercahaya itu),kalau lampu senter di sorot kan maka sinar akan tembus ke bawah dan sebaliknya.
Bisa cek langsung dari abad ke berapa meja tsb, sebab kami tak paham dari dinasti mana. Yang jelas kakek saya kecil meja tsb sudah ada.
Hubungi saya dulu di:
Nama: Agus Priyanto
Facebook: http://www.facebook.com/profile.php?id=1168580433
Alamat: Jalan Urip Sumoharjo 19, Ponorogo 63413, Jawa Timur, Indonesia
No HP: +6281803415551 (Ponsel) / 0352-481923 (Telepon)
Kamis, 27 Januari 2011
Jangan Pragmatis Jika Ingin Sukses Berwirausaha
*KOMPAS.com* - Semangat /entrepreneurship/ perlu ditanamkan dalam diri
anak muda sejak dini, baik melalui sistem pendidikan, maupun pola asuh
di rumah. Anak muda perlu ditularkan cara berpikir yang tidak pragmatis.
Orangtua juga perlu membiasakan anak-anak untuk berpikir /out of the
box/. Salah satunya dengan tidak menggiring pola pikir anak, bahwa
begitu lulus sekolah anak harus mencari kerja, menjadi karyawan, dan
bekerja mengumpulkan uang atau aset lainnya. Perubahan /mindset/ adalah
mutlak, jika menginginkan kehidupan yang lebih sejahtera, bukan hanya
untuk diri sendiri namun juga bagi banyak orang.
Tri Mumpuni Wiyatno (46), Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi
Kerakyatan (Ibeka) Subang, mengatakan dari total populasi orang
Indonesia, 2,50 persennya adalah orang yang mampu namun pragmatis.
"Bekerja mengabdi pada kapitalis, memiliki rumah bagus, istri cantik,
sah saja, tetapi pragmatis," kata Mumpuni, dalam diskusi mengenai
lingkungan dan kewirausahaan bersama sejumlah mahasiswa di @america
(pusat informasi dan budaya Amerika Serikat) di Mal Pacific Place,
Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut Mumpuni, banyak celah dan potensi bisnis berbasis masyarakat
yang bisa digali oleh anak muda. Mumpuni menyatakan pengharapannya
kepada generasi muda untuk membangun /entrepeneurship/ sosial yang
memberikan manfaat bagi banyak orang. Baginya, tak mudah mengubah
paradigma dan juga cara pandang generasi tua untuk menggali potensi
/entrepreneurship/ sosial ini. Di tangan anak muda, /entrepreneurship/
sosial yang lebih mencari manfaat daripada profit bisa lebih berkembang.
Inovasi bisnis sosial yang dijalankan Mumpuni dengan suaminya, Ir
Iskandar Budisaroso Kuntoadji, menjadi contoh sukses.
Mumpuni dan suami serta tim Ibeka membangun fasilitas listrik tenaga air
(mikrohidro) di Desa Cinta Mekar, Subang. Melalui bisnis berbasis
masyarakat ini, Mumpuni tak hanya berhasil memberikan pasokan listrik
desa secara mandiri. Namun, upayanya ini juga membuat desa dengan 445
kepala keluarga ini mampu meningkatkan kesejahteraannya.
"Setelah beroperasi satu tahun, desa punya tabungan senilai Rp 50 juta.
Desa punya pendapatan karena membangun pembangkit listrik yang dijual ke
Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dari pendapatan ini, desa bisa
meminjamkan modal usaha mulai Rp 500.000 hingga Rp 2 juta kepada
masyarakat, memberikan biaya pendidikan dan kesehatan," jelas ibu dua
anak yang dinobatkan World Wildlife Fund for Nature (WWF) sebagai
Climate Hero pada 2005 lalu, karena usahanya melistriki puluhan desa di
seluruh Indonesia.
/Entrepreneurship/ sosial memberikan manfaat yang jauh lebih besar.
Selain itu juga mengajarkan, bahwa hidup lebih bermakna dan bermanfaat
dengan berbagi. "Paradigma bisnis harus diubah. Dari bisnis komersial
yang memaksimalkan profit menjadi bisnis sosial yang memaksimalkan
manfaat," jelasnya.
Mengambil contoh dari bisnis sosial yang digelutinya sejak 18 tahun
lalu, Mumpuni mengajak generasi muda untuk tidak menjadi bagian dari
golongan yang berpikir pragmatis. Tidak juga menjadi bagian orang mampu,
namun miskin moral yang jumlahnya mencapai 45 juta di seluruh Indonesia.
Apalagi menjadi bagian dari golongan tidak mampu dan miskin yang
jumlahnya 185 juta. Mumpuni mengajak generasi muda menggali berbagai
potensi bisnis sosial, dan menjadi bagian dari kurang dari satu juta
orang yang mampu, dan mau berbagi dengan orang lain.
"Banyak orang yang mampu namun miskin moral. Mereka egois, serakah, dan
rakus. Mengejar rejeki adalah kesalahan. Yang betul adalah menata diri,
berbuat baik, dan berbagi. Lalu yakin, bahwa Tuhan memberikan jaminan
berupa rezeki," jelasnya penuh semangat.
Sumber:
Editor: Dini
http://female.kompas.com/read/xml/2011/01/27/17171790/Jangan.Pragmatis.Jika.Ingin.Sukses.Berwirausaha
Rabu, 26 Januari 2011
Duet Maut Makanan Sehat
gizi menyarankan kita mengonsumsi aneka jenis makanan sehat yang
berganti-ganti setiap hari. Berikut ini ide paduan yang hebat:
*1. Ikan dan brokoli*
Paduan ikan dan brokoli berkhasiat memerangi kanker 13 kali lebih kuat
dibandingkan dengan hanya dimakan sendiri-sendiri. Begitu kata ahli gizi
dari Inggris. Sulfophrane dalam brokoli dan selenium dari ikan membantu
menghalangi pembentukan dan penyebaran sel kanker.
*2. Pisang dan yoghurt*
Zat probiotik dalam yoghurt menyehatkan pencernaan dan mengurangi
kolesterol jahat. Sementara pisang adalah sumber zat prebiotik yang
memberi makan bakteri probiotik. Keduanya bekerja sama menyehatkan
pencernaan kita.
*3. Merica hitam dan kunyit*
Kunyit memiliki kandungan antiinflamasi. Dipadukan dengan merica hitam,
kemampuan kunyit mencegah peradangan jadi makin dahsyat.
*4. Bayam dan cabai merah*
Sayuran mengandung zat besi seperti bayam hanya diserap tubuh kurang
dari 10 persen. Supaya penyerapannya optimal, tambahkan sumber vitamin C
seperti cabai merah.
*5. Apel dan anggur*
Tambahan beberapa buah anggur ungu pada potongan apel bermanfaat
mengurangi risiko serangan jantung. Itu karena apel dan anggur sama-sama
kaya flavonoid. Zat bernama quercetin di dalam apel bekerja secara
sinergi dengan ketekin di dalam anggur untuk mencegah penyumbatan
pembuluh arteri.
*6. Tomat dan alpukat*
Tomat dikenal kaya akan antioksidan bernama betakaroten dan likopen.
Tomat merupakan sumber vitamin yang larut lemak, sehingga perlu paduan
sumber zat lemak yang sehat. Alpukat atau minyak zaitun adalah paduan
bagus untuk tomat. *(GHS/diy)*
Sumber : Tabloid Gaya Hidup Sehat <http://www.gayahidupsehatonline.com>
Editor: Lusia Kus Anna
Duet Maut Makanan Sehat
http://health.kompas.com/index.php/read/2011/01/26/1008032/Duet.Maut.Makanan.Sehat
Rabu, 19 Januari 2011
Pornografi Merusak Otak Anak
*Indira Permanasari*
Pornografi menjadi keprihatinan para orangtua. Betapa tidak? Kecanggihan
teknologi seperti internet, bahkan telepon seluler berperangkat
multimedia, membuat pornografi dengan mudah berada dalam genggaman
tangan dan masuk ruang pribadi anak. Keprihatinan tersebut tidak
berlebihan mengingat pornografi menimbulkan kerusakan.
Sejauh mana pornografi mengganggu otak anak? Kepala Subbidang
Pemeliharaan dan Peningkatan Kemampuan Intelegensia Anak Kementerian
Kesehatan yang juga meneliti tentang itu, Gunawan Bambang, mencatat, ada
dua sistem dalam otak manusia, yakni responder (pada sistem limbik) dan
director (bagian otak depan atau prefrontal cortex/PFC).
Sistem direktori (director) terkait dengan kemampuan berpikir rasional.
PFC, antara lain, bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan,
menentukan prioritas, menimbang risiko, kemampuan penilaian, dan
analisis. Namun, PFC belum sepenuhnya berkembang pada masa remaja.
Bagian itu baru sepenuhnya berkembang saat seseorang mencapai usia 24-25
tahun.
Sementara sistem limbik yang berada di perbatasan dengan struktur di
sekeliling regio basal serebrum bertanggung jawab, antara lain, mengatur
perilaku, hasrat, emosi, memori, motivasi, dan homeostasis.
Sistem responder antara lain mengajak seseorang untuk senang, memuaskan
diri, dan merasakan kenikmatan. "Bagi anak, stimulasi sangat mudah
karena anak dominan belajar dengan melihat ketimbang rangsang berpikir.
Itu pula yang membuat anak sulit membedakan antara fakta dan fantasi
serta tindakan yang boleh dan tidak boleh," ujar Gunawan, akhir pekan lalu.
Saat seorang anak menyaksikan materi pornografi, sistem responder lebih
banyak berperan dan jauh lebih besar peluang berkembangnya. Hal itu
karena pornografi lebih ke arah kesenangan, sedangkan otak depan masih
kurang berkembang. Dalam pembuatan keputusan pada otak anak terkait
pornografi bisa diibaratkan pertarungan antara sistem responder dan
direktori yang belum komplet berkembang.
Dalam sebuah seminar internasional dan pelatihan bertajuk
"Penanggulangan Adiksi Pornografi; Meningkatkan Kesadaran Masyarakat
untuk Memelihara Kesehatan Otak dari Bahaya Pornografi", pakar adiksi
pornografi dari Amerika, Mark Kastleman, mengungkapkan, stimulasi oleh
pornografi merangsang pelepasan hormon dopamin dan endorfin. Jumlah
reseptor di dalam otak juga terus bertambah yang dapat menggiring
seseorang menjadi kecanduan.
Kedua bahan kimia otak itu menimbulkan perasaan senang dan lebih baik
melalui repetisi dan stimulasi neurotransmiter. Jika paparan pornografi
diteruskan, otak akan membutuhkan dopamin semakin besar guna
mempertahankan kadar rasa senang yang sama. "Sama saja dengan adiksi
lain, seperti alkohol dan heroin. Mereka menjadi mengidamkan kembali
perasaan itu. Keadaan normal (tanpa pornografi) membuat mereka 'sakau'
dan depresi. Biasanya mereka merasa malu dan bersalah sehingga ingin
berhenti tetapi tidak bisa," ujarnya.
Dopamin dan endorfin akan sangat bermanfaat untuk membuat orang sehat
dan menjalankan hidup dengan lebih baik saat normal. Namun, terkait
pornografi, otak mengalami rangsangan berlebihan. Otak tak bekerja
dengan normal dan tidak dapat merespons lagi, akibatnya otak mengecil.
Pada anak dan remaja yang bagian otak logikanya belum berkembang,
pornografi akan sangat berpengaruh dan rentan menyebabkan adiksi
(kecanduan) serta merusak tumbuh kembang otak anak.
*Tanda tanda*
Dalam sebuah seminar yang sama, Randall F Hyde PhD dari Department of
Clinical Psychology, Brigham Young University, Amerika, mengatakan,
terdapat perubahan-perubahan pada anak yang mengalami masalah dengan
pornografi. Tanda-tanda adanya pornografi dalam kehidupan anak antara
lain anak menjadi depresi, mudah tersinggung, menarik diri, dalam
berbahasa menjadi lebih mengarah pada seks, dan mengisolasi diri.
Randall mengatakan, dapat dikatakan seseorang kecanduan jika seks atau
pornografi menjadi faktor menentukan untuk membentuk hidup seseorang.
Adiksi terjadi jika kebutuhan itu harus dipenuhi secara reguler dan
pengurangan tak lagi dapat ditoleransi. Orang adiksi tak dapat merasakan
kesenangan normal dan harus mendapatkan "candu"-nya agar dapat senang
kembali. "Saat itu, seseorang ingin berhenti, tetapi tidak bisa," ujarnya.
Namun, menurut Randall, kecanduan pornografi dan keseimbangan fungsi
otak dapat dipulihkan melalui berbagai terapi dan biasanya tidak
dibutuhkan obat-obatan. "Berbeda dengan kecanduan narkotika yang
bersifat toksik sehingga racun harus dikeluarkan dari tubuh," ujarnya.
Mark berpendapat senada, pada dasarnya otak dapat dibentuk dan berubah
(neuro-plastic). Orang yang sudah kecanduan pornografi biasanya merasa
cuma ada dua pilihan, yakni melawan keinginan itu atau menyerah pada
pornografi. Kedua cara itu tidak efektif dan membuat mereka justru
semakin terjebak.
Adiksi merupakan gejala permukaan. Harus dipelajari pemicu yang berasal
dari lingkungan dan emosi. Setelah pemicu tersebut diketahui dan dapat
dikontrol, orang itu dapat mulai menggali permasalahan yang lebih dalam,
seperti citra diri, perawatan diri, masalah relasi, dan memotivasi kerja
sistem responder otak antara lain dengan mencari aktivitas pengganti
lebih baik guna mengalihkan diri dari godaan.
Guna menangkal pornografi, pendidikan dan pola asuh juga sangat
berpengaruh untuk melatih sistem direktori anak agar memahami kesehatan
seksual, batasan-batasan, akuntabilitas, dan keamanan. Di sisi lain,
kebutuhan sistem responder juga perlu dipenuhi agar anak tidak
mendapatkannya dari tempat lain, termasuk pornografi.
Kebutuhan ini dapat dipenuhi, antara lain, dengan koneksi dan relasi
yang baik antara individu dan orang lain sekitarnya. Perlu juga
disediakan outlet kesenangan yang positif, pengalaman yang kaya, dan
yang menyenangkan bagi anak.
Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/01/18/04093180/pornografi.merusak.otak.anak>
Kamis, 06 Januari 2011
Pengaruh Gadget pada Otak Anak
merusak bagian otak PFC (preFrontalCortecs)." Demikian bunyi suatu
pernyataan di Facebook yang dikutip seseorang dari Twitter. Sekarang
ini, /smartphone/ seperti BlackBerry memang sudah menjadi "mainan"
anak-anak SD. Namun, benarkah dampaknya bisa sejauh itu?
Ternyata, psikolog Elly Risman dari Yayasan Kita dan Buah Hati, bisa
menjelaskan kebenaran mengenai kerusakan otak ini, yang berkaitan dengan
konten pornografi jika diakses menggunakan /smartphone/. Kerusakan pada
bagian di otak akibat pornografi pernah diungkap oleh seorang psikiater
dari Amerika Serikat, Mark Kastleman.
*Otak depan*
Elly mengatakan, otak depan pada anak sebetulnya belum berkembang baik.
Bagian otak depan ini akan matang pada usia 25 tahun. Otak depan
merupakan pusat yang memerintahkan tubuh untuk melakukan sesuatu.
Sementara reseptornya yang mendukung otak depan adalah otak belakang,
yang menghasilkan dopamin, yaitu hormon yang menghasilkan perasaan
nyaman atau rileks pada seseorang.
Bila sejak dini anak sudah terpapar oleh pornografi, rekamannya akan
sulit dihapus dari ingatan dan pikiran untuk jangka waktu yang lama.
Bila tidak diantisipasi, anak bisa kecanduan karena pengaruh hormon
dopamin yang dihasilkan ketika anak menikmati pornografi. Akibatnya,
sistem pada bagian otak depan mengalami kekacauan dan tubuh jadi tak
lagi memiliki kontrol diri.
Hasil riset /neuroscience/ lainnya dari Donald Hilton Jr, ahli bedah
otak dan dokter terkemuka dari Texas, menemukan bahwa pornografi
sesungguhnya adalah penyakit, karena dapat mengubah struktur dan fungsi
otak, dengan kata lain merusak otak di lima bagian. Kecanduan pornografi
ini menurutnya lebih berat ketimbang kecanduan kokain.
Penelitian dari American Academic of Child Psychology juga memaparkan
kemungkinan buruknya /smartphone/, yakni hilangnya kreativitas di usia
muda karena dalam pengerjaan tugas-tugas yang sifatnya akademis,
anak-anak cenderung mengandalkan mesin pencari dalam internet yang
memungkinkan mereka melakukan /copy-paste/.
*Menyaring info*
/Smartphone/ memang memiliki banyak kelebihan. Dunia bagai dalam
genggaman tangan. Selain bertelepon, anak-anak bisa mencari apa pun
dengan bantuan situs pencari seperti Google atau Yahoo!. Anak juga
dimungkinkan selalu terhubung dengan jejaring sosial seperti Facebook,
Friendster, Twitter, Kaskus, dan sebagainya.
Fasilitas-fasilitas ini, di satu sisi menyimpan potensi menyebarkan
aneka informasi yang belum layak diakses oleh anak. Misalnya saja, anak
mencari situs-situs dewasa lewat Google atau Yahoo!. Atau setiap hari
sibuk berjejaring sosial yang membuatnya lupa keluarga dan lupa belajar.
Belum lagi di jejaring sosial ini sudah banyak terdengar anak-anak
menjadi korban pelecehan orang dewasa, baik secara emosional maupun
fisik (anak dibawa kabur oleh kenalannya di dunia maya).
Sayangnya, tak sedikit orangtua yang justru memberikan /smartphone/
kepada anak-anaknya yang masih terbilang polos. Alasannya, agar orangtua
dapat berkomunikasi kapanpun dengan anak, ingin anaknya ikut tren dan
percaya diri dalam bergaul, atau sekadar menuruti rengekannya.
Fenomena yang kemudian terjadi, anak tampak begitu lekat dengan
/smartphone/-nya. Ia baru merasa aman dan eksis bila selalu terhubung
dengan orang lain. Kalau tidak, ia khawatir dirinya dikucilkan, sehingga
anak selalu membawa kemanapun /smartphone/-nya. Ia lebih mementingkan
berkomunikasi dengan orang-orang "nun jauh" di sana ketimbang dengan
orang-orang di sekelilingnya.
Narasumber: Ani Fegda, MPi, Psi, dari Esensi Mitra Solusi, Konsultan
SDM, dan Daniel Kusnadi, Web Developer, Digital Campaign Consultant
Sumber:
(Tabloid Nakita/Dedeh Kurniasih)
Editor: Dini*
http://female.kompas.com/read/xml/2011/01/06/14083113/Pengaruh.Gadget.pada.Otak.Anak>


