Sabtu, 24 April 2010

Menjalankan Opera Mobile di Komputer

Menjalankan Opera Mobile di Komputer

23 April 2010

Apakah Anda ingin mencoba kemampuan Opera Mobile 10 tanpa perlu menggunakan ponsel symbian/windows mobile?  Berikut ini sebuah info untuk menjalankan Opera Mobile 10 dan Opera Widgets Mobile melalui komputer Anda, baik Pc, Mac maupun Linux.

Opera merilis sebuah software yang dapat mengemulasikan Opera Mobile 10 di komputer Anda. Berikut ini tampilannya. Sama seperti saat Anda mengakses dengan menggunakan ponsel symbian/windows mobile.

Download (Untuk windows sekitar 11 Mega ukurannya):

Setelah diinstal akan ada Opera Mobile Emulator dan Opera Widgets Mobile Emulator. Ukuran jendela emulator dapat Anda ubah bahkan bisa difull screen sebesar layar komputer. Di Opera Mobile Emulator terdapat pula virtual keyboard untuk memasukkan text.


Opera Widget Mobile adalah aplikasi yang berisi aplikasi2 kecil misalnya ping.fm, wikipedia, google translator dsb. Dimana widget dapat ditambah atau dikurangi. Hampir mirip seperti Snaptu. Anda bisa mengunduh opera widgets mobile (bukan emulator) untuk ponsel symbian atau windows mobile melalui link dibawah ini:

Sumber:
http://darmawanku.com/2010/04/23/menjalankan-opera-mobile-di-komputer/

Jumat, 16 April 2010

Telkom Luncurkan 'i-Chat' untuk Siswa ABK

shutterstock
Aplikasi dibuat dalam dua mode, yakni mode offline, yaitu user harus
melakukan instalasi program di komputernya dan mode online, yang
mengharuskan user menjalankan aplikasinya dengan mengakses situs
http://www.i-chat.web.id.
*TERKAIT:*

* Betapa Susahnya Saya Cari Sekolah

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/20/1005310/Betapa.Susahnya.Saya.Cari.Sekolah>
* Wow, Dua SLB 1 Jakarta Pamerkan CDI Sepeda Motor Rakitannya!

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/08/12/1411368/Wow..Dua.SLB.1.Jakarta.Pamerkan.CDI.Sepeda.Motor.Rakitannya..>

*BANDUNG, KOMPAS.com* - PT Telekomunikasi Indonesia meluncurkan aplikasi
dan portal yang akan membantu guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Tuna Rungu
dan orang tuanya dalam proses belajar bagi anak berkebutuhan khusus
dalam hal pendengaran. Untuk pengembangan aplikasi itu, Telkom
menginvestasikan dana senilai Rp 1 miliar.

*Kami berharap aplikasi ini dapat membantu meningkatkan kapasitas para
guru di Indonesia. *
-- Rinaldi Firmansyah

Pengembangan aplikasi bernama /i-CHAT /yang dilakukan sejak 2007 ini
bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan
SLB Cicendo untuk pembelajaran bahasa dan komunikasi tuna rungu dengan
fokus pada penyusunan kalimat berstruktur. Pada 2009 lalu, aplikasi
tersebut dikembangkan kembali dengan menambahkan beberapa modul, di
antaranya modul kamus.

/i-CHAT /sendiri merupakan kepanjangan dari "I Can Hear and Talk".
Sasarannya untuk memberikan sarana media bagi komunitas tuna rungu di
Indonesia untuk berinteraksi dan saling berbagi ilmu dan pengetahuan.

Program ini terbagi ke dalam lima modul utama, yakni modul kamis,
isyarat abjad, isyarat bilangan, modul tematik, serta modul menyusun
kalimat. Aplikasi dibuat dalam dua mode, yakni mode /offline, /yaitu/
user /harus melakukan instalasi program di komputernya dan mode
/online/, yang mengharuskan /user /menjalankan aplikasinya dengan
mengakses situs http://www.i-chat.web.id <http://app.i-chat.web.id/>.

"Kami berharap aplikasi ini dapat membantu meningkatkan kapasitas para
guru di Indonesia, selain juga dapat menjadi metode pembelajaran bahasa
sehingga mereka yang berkebutuhan khusus pendengaran mampu
berkomunikasi, bersosialisasi, serta tumbuh dan berkembang sebagaimana
layaknya orang normal," ujar Direktur Utama PT Telkom Rinaldi Firmansyah
di Menara RDC Telkom di Kota Bandung, Jumat (16/5/2010).

Rinaldi menambahkan, gagasan penciptaan teknologi ini didasarkan pada
pemikiran bahwa teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mampu memberi
manfaat besar bagi manusia, baik itu untuk yang normal maupun yang
berkebutuhan khusus.

"Pengembangan bahasa untuk para siswa tuna rungu ini agar mereka mampu
berprestasi dan mandiri seperti anak-anak normal serta mampu
mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya termasuk dalam
sosialisasi," ujarnya.

Sumber:
http://edukasi.kompas.com/read/2010/04/16/12522081/Telkom.Luncurkan.i-Chat.untuk.Siswa.ABK.-5

Pesan Gabrielle untuk Para Pemimpin Bangsa

KOMPAS/RATIH P SUDARSONO
Gabrielle Tatia (kedua dari kanan) adalah pemenang penghargaan Penulis
Muda Indonesia 2009 di Bogor, Kamis (19/11). Gabi adalah siswi SMA Santa
Maria Cirebon.
*TERKAIT:*

* Betapa Susahnya Saya Cari Sekolah

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/20/1005310/Betapa.Susahnya.Saya.Cari.Sekolah>
* Pelajar Surabaya dan Cirebon Sabet Penulis Muda Indonesia 2009

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/19/18293189/Pelajar.Surabaya.dan.Cirebon.Sabet.Penulis.Muda.Indonesia.2009.>
* Penulis Muda Belum Memperoleh Perhatian

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/10/25/20515213/Penulis.Muda.Belum.Memperoleh.Perhatian.>

*JAKARTA, KOMPAS.com-* /Tulisan ini adalah karya Gabrielle Tatia, siswi
SMA Santa Maria Cirebon, yang memenangkan penghargaan Penulis Muda
Indonesia 2009 yang diselenggarakan oleh Kementerian Negara Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak, Perwakilan UNICEF di Indonesia, serta
YKAI. *(Redaksi)*/

PERJALANAN terasa sangat panjang bagi Panji Anggara, seorang calon
legislatif. Duduk termenung di dalam mobil, memandangi hijaunya
pepohonan serta indahnya pemandangan sawah. Sebuah spanduk besar
membentang; "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Bersama Panji
Anggara, kita raih gemilangnya masa depan".

Kini, Panji sedang menepati sebuah janji kepada sang istri, yang
memintanya mendatangi sebuah desa terpencil jika kelak terpilih menjadi
calon legislatif. Dan, perjalanan ini adalah dalam rangka menepati janji
tersebut.

Setelah hampir tujuh jam perjalanan, Panji beserta beberapa rekan dan
istrinya sampai ke sebuah desa yang terletak di pinggiran Kota Solo,
Jawa Tengah. Panji langsung terpana dengan keadaan sekelilingnya. "Ini
sangat jauh dari yang kau bayangkan Panji," jelas sang istri.

Panji hanya menghela napas panjang dan mencoba menerima yang sedang
terjadi. Tiba- tiba, seorang anak kecil datang ke arah rombongan Panji
dan memberi ucapan selamat datang. "Apakah anak ini kepala desanya?"
tanya Panji kebingungan.

Tentu saja, bukan. Karena dari kejauhan, tampak seorang pria separuh
baya berlari ke arah Panji, lalu segera menjabat tangannya.
"Perkenalkan, saya Joko, Kepala Desa Sukoharjo," kata pria itu.

"Saya Panji Anggara, ini istri saya Ayubi, dan ini rekan-rekan saya,"
jawab Panji.

Kemudian, Pak Joko beserta rombongan Panji berjalan menuju rumahnya.
Bagi Panji, inilah kali pertama ia melangkahkan kaki di pedesaan. Dan,
untuk kesekian kalinya ia kembali kebingungan akan pemandangan yang
dilihat di sekitar desa itu. Banyak sekali anak kecil yang bermain atau
hanya berdiri di depan pintu rumah.

"Pak, apakah di sini memang banyak anak kecil?" tanya Panji.

"Ya, banyak Pak, di sini hampir setengah penduduknya adalah anak kecil.
Makanya, tadi kita disambut anak kecil," sela Joko.

Setidaknya, hal itu menjelaskan sedikit dari pertanyaan dalam benak
Panji. Setelah beristirahat sejenak, Ayubi dan rekan-rekan Panji
berpamitan untuk kembali ke Ibu Kota. Hanya Panji yang akan menetap di
sini selama seminggu.

"Ji, kamu akan tahu jawaban bagaimana nantinya kamu akan menjalankan
pemerintahan di sini," ucap Ayubi, sebelum meninggalkan Panji.

*Hari ke hari*

Panji melepaskan kepergian istri dan rekan-rekanya dengan hati yang
gelisah. Penduduk di sini berjumlah 1.679 jiwa, terdiri dari 821
laki-laki dan 858 wanita. Setengahnya adalah anak-anak.

Raka, putra Pak Joko, mencoba menjelaskan. Panji kagum akan pengetahuan
Raka tentang desanya. Ia meminta Raka untuk menjadi asisten pribadinya,
yang akan menemani hari-harinya selama berada di desa itu.

Keesokan harinya, Panji terbangun oleh suara ayam berkokok. Ia bersiap
lagi menjalani hari keduanya di Desa Sukoharjo. Tampak Raka sudah
berdiri dengan tegapnya di depan kamar. Ia sudah siap menemani Panji,
menjelajahi kembali pedesaan ini.

Kebetulan, Raka sedang menjalani liburan sekolah. Ia bebas
berjalan-jalan, apalagi ayahnya pun sudah memercayai Panji.

Kemudian, keduanya melangkahkan kaki menyusuri pedesaan. Namun, belum
lama kaki keduanya melangkah, pandangan Panji terarah pada anak-anak
perempuan yang sedang melenggak-lenggok menari di sebuah pondok kecil.

"Kakak!" seru Raka, memanggil Seruni.

Ternyata, di antara anak-anak itu ada Seruni, kakak perempuan Raka.
Panji, yang baru menyadarinya, hanya bisa tersenyum menyapa Seruni.

"Tarian apa ini?" tanya Panji penasaran.

"Ini adalah /Tari Golek Tirto Kencono /yang berasal dari Surakarta.
Paman, kami ini sedang mencoba melestarikan kebudayaan Indonesia, supaya
tidak diakui Negara tetangga lagi," ucap Raka, menyela dengan polosnya.

Panji terhentak mendengar ucapan yang keluar dari anak yang baru berusia
7 tahun itu. Panji lalu memilih untuk tinggal sejenak di pondok tempat
berlatih tari itu. Ia mengagumi setiap gerakan dari tarian tersebut.

Sore harinya, Panji memilih untuk berada di rumah. Rupanya, ia masih
menyimpan perasaan tidak nyaman berada di pedesaan itu, tetapi entah apa
alasanya. Ia merenung seorang diri di pelataran rumah, sampai tiba-tiba
ponselnya berdering. Ternyata Rico, teman Panji yang menelpon.

"Halo Panji, lagi di mana, /lu/? Gue ada di Desa Sukoharjo. Dari pada
/lu /di situ, mendingan ikut /gue/, /have fun/. Mumpung lagi di Solo,
/gue /jemput, ya?" kata Rico.

"Jangan! Nggak usah, nggak apa-apa. /Lu/ tadi ada di desa mana?" tanya
Panji, sambil langsung menutup ponselnya.

*Sebuah jawaban*

Kini, Panji memikirkan keadaannya. Berada di kediaman sederhana, dengan
lingkungan sekitar yang jauh dari kata mewah. Jika ia masih memilih
untuk bertahan, semua itu ia lakukan untuk Ayubi.

Pagi hari datang lagi. Mentari telah menyambut Panji untuk yang ketiga
kalinya. Setelah sarapan, ia dan Raka kembali bersiap menjelajahi
pedesaan. Kali ini, yang menjadi pusat perhatian Panji adalah kehidupan
masyarakat sekitar yang ternyata dipenuhi oleh kekurangan.

Hati Panji sangat tersentuh ketika melihat seorang ibu yang sedang
menyusui bayinya. Bayi itu menangis, karena anak-anaknya yang lain
meminta makan. Namun, sang ibu mengatakan, mereka tak mempunyai beras
sama sekali.

Perlahan, Panji menghampiri ibu tersebut dan dan memberikan sejumlah
uang, sambil berkata, "Ibu, ini sedekah, mohon diterima, anggap ini
adalah rejeki dari Yang Maha Kuasa".

Ibu tersebut menerima uang dengan senyum yang memancarkan kebahagiaan.
Ia mengucapkan banyak terima kasih kepada Panji. Sebaliknya bagi Panji,
hari itu membuatnya tersadar akan kehidupan rakyat kecil.

Hari berlalu begitu cepat. Tak terasa, Panji telah melewati lima hari
berada di Desa Sukoharjo. Dan secara tiba-tiba, Raka meminta pertolongan
Panji untuk membetulkan saluran air di desanya.

Akhirnya, Panji pergi bersama Raka ke tempat yang dituju. Sesampainya di
sana, Panji langsung berbaur dengan penduduk yang sedang bergotong
royong memperbaiki saluran air. Di situ, Panji melihat arti kebersamaan
dan kerja sama dalam bergotong royong.

Dua jam berlalu, pekerjaan tersebut terselesaikan dengan baik. Panji,
yang lelah segera kembali ke rumah dan beristirahat, rupanya masih
mempertanyakan tujuannya di tempat ini dalam kegundahan hati dirasakannya.

Namun, ia mengingat ucapan sang istri, bahwa ia akan menemukan jawaban
untuk menjalankan pemerintahan di sini. Maka, Panji mencoba untuk
menemukan setiap jawaban itu.

Ketika berganti pakaian, Panji baru tersadar bahwa tidak terdapat dompet
di saku celananya. Namun, sebelum ia sempat melaporkan kejadian itu pada
pak Joko, terdenga suara ketukan pintu. Panji langsung membuka dan
melihat sesosok anak lelaki.

"Pak, saya menemukan dompet. Benarkah Bapak ini adalah Panji Anggara,
dan ini dompet Bapak?" tanya anak itu, sambil menyerahkan dompet tersebut.

"Ya, benar ini dompet saya," jawab Panji.

Panji menghembuskan napas lega. Panji lalu membuka dompet itu dan
memeriksa isinya. Ternyata, semuanya masih sangat lengkap.

Anak tersebut langsung pergi dari hadapan Panji. Dan serta-merta, Panji
memberhentikan langkahnya. "Siapa namamu, Nak?" tanya Panji.

"Saya Adi," jawab anak itu.

Panji langsung mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan memberikannya
pada Adi.

Adi ternyata menolak. Ya, walaupun sudah dipaksa oleh Panji sekalipun,
anak itu tetap menolaknya. Akhirnya, Panji hanya bisa mengucapkan terima
kasih.

"Tadi paman hampir saja kehilangan dompet, namun ada seorang anak yang
mengembalikan dompet ini. Kau, kenal Adi?" tanya Panji pada Raka.

"Ya, dia teman baikku, Paman. Dia memang sangat jujur, mungkin karena
cita-citanya ingin menjadi Presiden yang jujur dan adil," ujar Raka.

Melalui percakapan tadi, Panji menyadari sesuatu yang akan menjadi
jawaban akan pertanyaannya. Dia merenungkan setiap kejadian dari hari ke
hari dan semakin menemukan banyak pelajaran.

*Sebuah Hikmah*

Malam itu, adalah malam terakhir Panji berada di tengah penduduk Desa
Sukoharjo. Pak Joko mempersiapkan acara perpisahan untuknya, yaitu
dengan menggelar acara makan malam bersama seluruh penduduk desa.
Sepertinya, kebersamaan mereka sangat membekas di hati Panji.

Di akhir acara, Pak Joko memberikan kenang-kenangan berupa papan nama
yang berukirkan namanya. Mereka berharap, dengan benda itu Panji dapat
mengenang mereka.

Melihat itu, Panji sadar akan satu hal, bahwa mereka adalah orang-orang
yang tulus, memberi tanpa mengharap pamrih.

"Pak, saya ucapkan terima kasih banyak. Saya mendapatkan pelajaran
berharga dari sini," ucap Panji.

"Sama-sama, Nak Panji, saya juga senang akan keberadaan Nak Panji.
Terima kasih banyak telah membantu penduduk di sini," balas Pak Joko.

"Itu tidak seberapa Pak, dibandingkan hikmah yang bisa saya ambil dari
setiap kejadian di desa ini," balas Panji, lagi.

"Syukurlah kalau begitu. Saya dan keluarga hanya bisa berdoa untuk
keselamatan dan kesuksesan Nak Panji. Amin," kata Pak Joko.

"Seruni, Paman bangga denganmu. Tarianmu sangat indah. Paman janji,
suatu hari kamu akan menari di depan pejabat. Lanjutkan misimu untuk
melestarikan budaya Indonesia!" pesan Panji pada Seruni.

"Ya, paman, saya akan selalu berusaha yang terbaik untuk Indonesia,"
ujar Seruni.

Sebelum Panji pergi, ia masih menanti kedatangan Raka yang menghilang
entah kemana. Langkahnya terhenti ketika dari kejauhan terdengar
teriakan Raka memanggil Panji.

Bersama Adi, Raka berlari ke hadapan Panji. " Paman, ada yang ingin dia
sampaikan," kata Raka. "Baik, katakanlah, Nak!" kata Panji.

"Semoga Paman dapat memerintah Negara ini dengan baik. Kami berharap,
Paman bisa membuat Negara ini menjadi lebih baik," kata Adi.

"Apa yang menjadi tujuan Paman merupakan ketentuan nasib bagi bangsa
kita. Paman yakin, suatu hari nanti kamu akan duduk di kursi
pemerintahan dengan kerja keras dan ketulusan hati. Kau anak yang
hebat," kata Panji

Seketika, mata Panji berlinang air mata. "Paman, selamat jalan. Semoga
apa yang paman cita-citakan tercapai," ucap Raka.

"Raka, Paman kagum dengan sosokmu. Kau mengajarkanku banyak hal, terima
kasih atas segalanya. Dan, kalian semua, anak-anak di desa ini,
merupakan cermin manusia yang baik, tulus, jujur, dan rendah hati.
Semuanya menjadi pelajaran untuk Paman," ujar Panji.

Dua tahun kemudian, Panji telah duduk di kursi pemerintahan selama
hampir dua tahun lamanya. Tak ia pungkiri, terkadang cobaan datang untuk
membuat kecurangan dalam pemerintahan.

Namun, Panji selalu sadar, bahwa yang ia lakukan akan menentukan nasib
rakyat. Jika ia melihat papan nama di mejanya, ia akan selalu mengingat
Raka, Seruni, Adi, serta seluruh warga Desa Sukoharjo. Dan selama itu
pula, ia membangun Desa Sukoharjo.

Kini, keadaan desa tersebut sudah jauh berbeda berkat hasil kerja Panji.
Bahkan, bukan hanya Desa Sukoharjo, melainkan juga desa-desa lainnya di
Indonesia.

Panji pun telah menepati janjinya pada Seruni. Panji mengundang kelompok
tari anak tersebut untuk pentas pada berbagai acara kenegaraan.

Kiranya, semua memang akan kembali pada kesadaran diri masing-masing.
Seorang pejabat pemerintah, selayaknya melakukan segala sesuatu untuk
nasib kesejahteraan bangsanya. Karena segalanya adalah dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat.


* Ada 8 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda *

*

roesdan
Sabtu, 21 November 2009 | 10:45 WIB
Luar biasa. Sederhana tapi sangat menyentuh.
*Balas tanggapan <#>*
*

D.Marulloh H.Y
Jumat, 20 November 2009 | 13:45 WIB
cerita yang sangat nyentuh di hati..... semoga pejabat2 pemerintah
baca cerita ini dan sadar ...untuk selalu memikirkan rakyat kecil
aminn
*Balas tanggapan <#>*
*

puja
Jumat, 20 November 2009 | 13:19 WIB
cerita yang mengkisahkan sebuah cita-cita sekaligus menyindir
kondisi indonesia saat ini.. saya sangat menikmati cerita ini...
*Balas tanggapan <#>*
*

Witya
Jumat, 20 November 2009 | 13:05 WIB
mari dimulai dari kita dulu...dilingkungan sehari-hari...dan dalam
kegiatan sehari-hari
*Balas tanggapan <#>*
*

Watcher
Jumat, 20 November 2009 | 13:03 WIB
Cerita yg menarik. Seandainya semua pejabat bisa meniru Panji
pasti negara ini akan maju. Itu semua tergantung dr hati nurani yg
kuat dan dpt menolak cobaan2x. Diantara 10-15 orang paling2x hanya
ada 1 yg baik dan jujur.
*Balas tanggapan <#>*

Sumber:
http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/20/11541133/.quot.Siluet.quot...Pesan.Gabrielle.untuk.Para.Pemimpin.Bangsa

Pelajar Surabaya dan Cirebon Sabet Penulis Muda Indonesia 2009

DOK UNICEF
Dalam acara pemberian penghargaan Penulis Muda Indonesia 2009 di
Jakarta, Kamis (19/11), diisi juga diskusi tentang anak dan pemimpin
bangsa dengan anggota DPRD Nurul Arifin. Moderatornya adalah Alfida
Agyputri (paling kiri, pemenang lomba itu tahun 2008). Dua remaja
lainnya adalah Gabriella Tatia dari Cirebon dan Sri Andiani dari
Surabaya, pemenang Penulis Muda Indonesia 2009.
*TERKAIT:*

* Penulis Muda Belum Memperoleh Perhatian

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/10/25/20515213/Penulis.Muda.Belum.Memperoleh.Perhatian.>

*JAKARTA, KOMPAS.com* - Sri Andiani, pelajar SMP Alam Insan Mulia
Surabaya, dan Gabriel Tatia, pelajar SMA Santa Maria Cirebon, menyabet
penghargaan Penulis Muda Indonesia 2009, Kamis (19/11). Lomba menulis
dengan tema Anak dan Pemimpin Bangsa itu, diikuti 1.528 penulis remaja
di bawah usia 18 tahun dari 33 provinsi di Indonesia.

Dalam siaran pers yang dikeluarkan Lely Dujari dari UNICEF di Jakarta,
Kamis (19/11) siang, disebutkan, lomba tahunan ini diselenggarakan oleh
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (PPPA), UNICEF,
dan YKAI, dengan sejumlah sponsor perusahaan swasta. "Lomba tahun 2009
ini adalah yang keenam kali. Karangan pemenang dan finalis akan
dibukukan," kata Lely.

Acara pemberian penghargaan tersebut berlangsung di Hotel Le Meridien
Jakarta dan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk menandai 20
tahun peringatan Konvensi Hak-hak Anak. "Lomba ini sangat relevan dengan
itikad pemerintah untuk sedini mungkin melatih generasi kita turut serta
dan peduli dengan lingkungannya serta melatih mereka berekspresi cecara
jelas. Sebab, mereka lah akan dan dapat menjadi pemimpin bangsa yang
lebih baik di masa depan," kata Sri Pardiana Pudiastuti, Asisten Deputi
Kementerian PPPA.

Angela Kearney dari Perwakilan UNICEF di Indonesia, mengatakan, pihaknya
sangat bangga bahwa 20 tahun setelah dunia mengadopsi Konvensi PBB untuk
hak-hak anak, mereka turut pula dalam pemenuhan hak-hak tersebut,
terutama hak untuk didengar.

Karangan Sri Andiani yang memenangi lomba ini berjudul Sulitnya Mencari
Sekolah bagi Mereka. Karangan tersebut menceritakan bagaimana
keluarganya berjuang agar dirinya dapat sekolah. Dalam karangannya dia
mengutip pernyataan ibunya, "Dibutuhkan hanpir dua tahun untuk mencari
SD yang mau menerimamu." Sri adalah penyandang tuna rungu.

Sedangkan karangan Gabriella Tantia dengan judul Siluet memakai tokoh
fiktif bernama Panji Anggara untuk menceritakan seseorang calon anggota
DPRD yang secara rutin mendengarkan anggota konstituennya di desa.

Selain mendapat plakat dan sertifikat dari Kementerian PPPA dan UNICEF
Perwakilan Indonesia, Sri dan Gabriel masing-masing mendapat hadiah uang
Rp 5 juta dan berbagai hadiah barang dari para sponsor.

Sumber:
http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/19/18293189/Pelajar.Surabaya.dan.Cirebon.Sabet.Penulis.Muda.Indonesia.2009.

Betapa Susahnya Saya Cari Sekolah

KOMPAS/RATIH P SUDARSONO

Sri Andiani (paling kanan berrjilbab) adalah pemenang penghargaan
Penulis Muda Indonesia 2009 yang diselenggarakan oleh Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Perwakilan UNICEF di Indonesia, serta
YKAI, di Bogor, Kamis (19/11) kemarin. Sri adalah siswa SMP Alam Insan
Mulia Surabaya.

*TERKAIT:*

* "Siluet", Pesan Gabrielle untuk Para Pemimpin Bangsa

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/20/11541133/.quot.Siluet.quot...Pesan.Gabrielle.untuk.Para.Pemimpin.Bangsa>
* Pelajar Surabaya dan Cirebon Sabet Penulis Muda Indonesia 2009

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/19/18293189/Pelajar.Surabaya.dan.Cirebon.Sabet.Penulis.Muda.Indonesia.2009.>
* Penulis Muda Belum Memperoleh Perhatian

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/10/25/20515213/Penulis.Muda.Belum.Memperoleh.Perhatian.>

*KOMPAS.com* - /Tulisan ini adalah karangan Sri Andiani, pelajar SMP
Alam Insan Mulia Surabaya, yang memenangkan penghargaan Penulis Muda
Indonesia 2009 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Anak, Perwakilan UNICEF di Indonesia, serta YKAI. *(Redaksi)*/

SEKILAS, orang-orang yang melihat saya berfikir bahwa tidak ada yang
salah pada diri saya. Saya bisa berbicara dengan lancar, mendengar
dengan baik, fisik saya juga tidak ada yang cacat. Tapi, saya
sesungguhnya adalah seorang tuna rungu.

Percaya atau tidak, inilah saya. Saya seorang tuna rungu sejak lahir.
Saya didiagnosa tuli berat, yang kemampuan mendengarnya di atas 90 db
(desibel). Para dokter menyarankan Mama saya untuk mengajari bahasa
isyarat dan menyekolahkan saya di SLB. Namun, Mama justru melatih saya
untuk mendengar dan berbicara seperti orang normal lainnya, agar saya
bisa bersekolah di sekolah umum.

Menurut Mama, jika bersekolah di sekolah umum, peluang saya kelak untuk
bisa bekerja dan berbaur dengan masyarakat umum semakin luas. Mama
berharap, kelak saya bisa mendapatkan kesempatan untuk memberikan
sumbangsih saya pada masyarakat. Ya, sebagaimana warga negara lain yang
mandiri, berkarya, dan berprestasi di tengah-tengah masyarakat!

Bermodal alat bantu dengar dan semangat tinggi, Mama melatih saya
belajar mendengar dan berbicara. Ia mendampingi saya setiap saat, terus
melatih saya untuk mengembangkan bahasa verbal.

Kurang lebih di usia 3 tahun, saya dioperasi /cochlear implant,/ yaitu
operasi yang bertujuan menanamkan suatu alat atau disebut /implant /ke
dalam /cochlear /atau rumah siput. Tujuannya, agar saya bisa mendengar
lebih jelas.

Setelah dioperasi, Mama semakin intensif melatih saya mendengar,
berbicara, dan berkomunikasi secara verbal. Kerja keras Mama dan
semangat saya belajar akhirnya berbuah. Saya bisa berbicara dan
mendengar dengan baik, bahkan saya mulai belajar mendengarkan radio dan
berkomunikasi lewat telepon.

Selain belajar berbahasa verbal, Mama juga mengajarkan banyak
keterampilan pada saya. Saat duduk di bangku TK, saya sudah lancar
membaca dan menulis. Saya juga diajarkan berbagai kerajinan tangan dan
diikutkan kursus Matematika dan menggambar.

Saat saya duduk di TK A, Mama mulai mencari SD yang cocok dengan kondisi
saya. Mama sengaja mencari SD jauh-jauh hari, untuk mengantisipasi
sulitnya mencari SD yang mau menerima saya.

Dugaan mama terbukti. Keterampilan dan kepandaian saya ternyata tidak
cukup untuk membuat saya diterima. Pada awalnya, sebelum mereka tahu
bahwa saya seorang tuna rungu, mereka mau menerima saya setelah
dilakukan serangkaian wawancara singkat. Saya diberikan beberapa
pertanyaan sederhana sebelum akhirnya diputuskan untuk diterima.

Namun, setelah Mama memberitahu kondisi pendengaran saya, pihak sekolah
mulai ragu-ragu. Memang, ada beberapa sekolah yang secara
terang-terangan menolak. Tetapi, ada juga yang menyatakan keberatannya
secara halus.

Ada saja alasan sekolah-sekolah itu untuk mengatakan tidak pada saya.
Saya tidak boleh masuk sekolah umum, tetapi dianjurkan masuk SLB.
Pendeknya, saya dianggap tidak mampu dan hanya akan menjadi beban di
sekolah umum.

Kiranya, butuh waktu, tenaga dan usaha keras, sebelum akhirnya Mama
menemukan sekolah yang mau menerima saya dengan lapang dada. Mama
bilang, "Butuh waktu hampir 2 tahun untuk mencari SD yang mau menerimamu".

Ada saatnya, Mama hampir putus asa dan menyuruh saya menunjukkan
kebolehan saya. Saya disuruh mama membaca keras di depan mereka, disuruh
menerima telepon hanya sekadar untuk menunjukan, bahwa saya memang bisa
mendengar. Bahkan, ditanya beberapa kosa kata dalam Bahasa Inggris, dan
lain-lain. Tapi, toh, mereka tetap saja kukuh pada pendiriannya; tidak
menerima saya untuk bersekolah di sana.

Menjelang lulus TK B, Mama menerima kabar, ada sekolah yang tidak
mempersoalkan kondisi saya. Sekolah tersebut memberi kesempatan bahwa
siapapun yang lulus tes kepribadian dan kemandirian akan diterima
menjadi siswa.

Dengan penuh percaya diri, Mama mendaftarkan saya. Beberapa hari
kemudian, kami sekeluarga bersyukur setelah mendapat kabar bahwa saya
berhasil diterima. Ya, saya diberi kesempatan oleh sekolah itu.

Lalu, apa yang terjadi kemudian? Apakah saya mengalami kesulitan di
sana? Ya, saya akui, ketika di awal bersekolah, saya agak kesulitan
menyerap pelajaran dan dalam bersosialisasi dengan teman sebaya. Karena,
terkadang guru-gurunya terlalu cepat menerangkan suatu pelajaran.
Situasi kelas agak ribut, sehingga saya harus ekstra konsentrasi untuk
mendengarkan guru.

Teman-teman juga menganggap saya aneh. Itu karena melihat ada alat bantu
dengar di telinga kanan saya.

Seiring perjalanan waktu, akhirnya teman-teman saya mulai mengerti dan
mau menerima saya. Bahkan, mereka mau membantu apabila saya mengalami
kesulitan.

Hari ke hari, saya semakin menikmati sekolah saya. Saya berhasil meraih
beberapa prestasi di sekolah. Dalam pelajaran sains, saya selalu
mendapat nilai tertinggi, sampai akhirnya dijuluki "professor sains"
oleh teman-teman saya.

Saat duduk kelas 3 SD, saya mendapat beasiswa dari AG Bell Foundation
atas prestasi saya di sekolah umum. AG Bell Foundation memberikan
beasiswa bagi anak tuna rungu yang berhasil berprestasi di sekolah umum
dalam bidang akademis, olahraga, atau seni.

Selain itu, saya juga dipercaya menjadi perwakilan kelas dalam lomba Dai
Cilik antar Kelas. Lomba dakwah cilik yang diselenggarakan oleh sekolah
itu memberikan kepercayaan yang luar biasa pada saya, bahwa yang tuna
rungu ini mampu berpidato dan berdakwah di depan guru dan teman-teman
sekolahnya.

Saya juga sering meraih prestasi dan juara yang diselenggarakan oleh
sekolah dalam memperingati suatu momen atau perayaan seperti pada Hari
Kartini dan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ya, saya berhasil meraih juara 1 dalam lomba menulis riwayat Nabi
Muhammad SAW, juara 2 dalam lomba menggambar wajah Ibu Kartini, dan
juara 3 dalam lomba menggambar kaligrafi. Kebetulan, saya memang senang
menulis puisi, sehingga jika sekolah saya kedatangan tamu, bersama
beberapa teman kami menampilkan kebolehan kami. Kerapkali, sayalah yang
membacakan puisi karangan saya atau diminta untuk menuliskan puisi untuk
ditampilkan.

Saya juga pernah ikut menyanyi bersama teman-teman ketika ada tamu yang
berkunjung. Di rumah, Bapak dan Mama terus memotivasi saya untuk
menggali potensi saya. Saya, yang memang senang menggambar sejak kecil,
diberi kesempatan oleh Mama untuk memajangnya di rumah atau di kantor Mama.

Mama dan Bapak punya sebuah yayasan yang mengajarkan anak tuna rungu
berbicara dan berbahasa verbal. Suatu saat, kantor Mama kedatangan tamu
dari Australia bernama Ms. Vikki dan kebetulan, saat itu saya sedang ada
di kantor Mama.

Saya berbincang-bincang dengan Ms.Vikki. Di akhir pembicaraan, Ms. Vikki
membeli lukisan saya dan memesan dua buah lukisan lagi untuk dibawanya
pulang ke Australia.

Rasanya, saya seperti sedang di atas awan! Sangat senang, hati saya
sangat senang. Ada orang yang membeli lukisan saya, dan menganggap bahwa
karya saya indah.

Ya, saya membuatkan lukisan lagi untuknya, yang gambarnya adalah
anak-anak sedang tersenyum bahagia dengan pelangi di atasnya. Ms. Vikki
juga senang menerima lukisan saya.

Di awal SMP, saya diberangkatkan bersama beberapa teman oleh sekolah
saya untuk menjadi wakil sekolah dalam olimpiade se-Surabaya dan
sekitarnya. Meskipun akhirnya saya tidak menang, tetapi pengalaman
tersebut sangat berkesan buat saya.

Belajar dari pengalaman, pada 1990 orang tua saya bersama orang tua lain
yang senasib sepenanggungan ini membentuk suatu komunitas. Tujuannya,
kami bisa saling membantu dan berbagi cerita tentang pengalamannya
bersama anak-anak yang tuna rungu.

Akhirnya, pada tahun 2004, komunitas ini mulai dilegalkan dengan nama
Yayasan Aurica. Tujuan yayasan ini, seperti yang sudah disebutkan di
atas, untuk mengajarkan anak tuna rungu berbicara, mendengar dan
berbahasa verbal, serta mendorong mereka untuk mampu bersosialisasi
dengan masyarakat luas, serta kelak mampu menjadi warga masyarakat yang
aktif memberikan kontribusinya bagi Negara.

Murid-murid yayasan itu berasal dari berbagai daerah di penjuru
Indonesia, terutama dari Indonesia bagian timur. Ada yang datang dari
Bali, Madura, Yogjakarta, Semarang, bahkan dari Kalimantan. Berbekal
harapan dan semangat, para orangtua yang tidak semuanya mampu itu datang
ke Aurica dan melatih anak-anak mereka agar kelak bisa bersekolah di
sekolah umum dan kemudian meraih mimpi-mimpi mereka.

Tentunya, usaha para orangtua itu tidaklah mudah. Dibutuhkan suatu
proses yang panjang dan sulit. Jadi, jangan menyangka bahwa anak yang
awalnya tuli itu tiba-tiba bisa menjadi seperti orang normal yang bisa
mendengar dan berbicara.

Ada waktu, ada usaha keras, ada semangat yang tidak boleh padam. Ada air
mata, ada tetesan peluh, serta doa-doa berkepanjangan yang menyertai
setiap usaha orangtua.

Hasil memang menyertai usaha yang dilakukan. Banyak anak-anak Aurica
yang kemudian mampu berbicara dan berbahasa dengan baik. Ada yang mampu
menyanyi dengan merdu, ada yang mampu bermain musik, ada juga yang
akhirnya menguasai 2 atau 3 bahasa sekaligus.

Namun ironisnya, kami para tuna rungu tetap saja menjadi kaum minoritas
yang hak-haknya tidak selalu mendapat perhatian. Mereka, anak-anak
tersebut tetap kesulitan mencari sekolah umum yang mau menerima mereka.
Untuk yang berkantong tebal tidak terlalu menjadi masalah, karena
sekolah-sekolah swasta masih banyak yang mau menerima asalkan mereka
bersedia membayar SPP dengan lebih mahal.

Terus terang, saya bisa menjadi seperti ini karena sekolah saya mau
memberi kesempatan pada saya untuk berkarya dan berprestasi. Tetapi,
berapa banyak sekolah yang mau memberi kesempatan seperti itu?

Tentu saja ada, tapi jumlah sekolah yang mau melakukan itu hanya
sedikit. Masih bisa dihitung dengan jari. Sementara itu, anak-anak yang
tidak beruntung tersebut sangatlah banyak, hingga tak bisa lagi dihitung
dengan jari.

Sekolah-sekolah umum biasanya selalu menolak anak-anak seperti saya dan
anak-anak yang cacat lain dengan berbagai alasan. Ada beberapa sekolah
umum yang mau menerima dengan mensyaratkan adanya guru pendamping, yang
biaya untuk membayarnya seringkali lebih mahal dari SPP-nya.

Ada pula beberapa sekolah yang meminta biaya SPP, uang gedung dan uang
ekstra yang jumlahnya 2 kali lipat dibanding teman-temannya yang normal.
Misalnya, normalnya harga SPP senilai Rp 500.000, tetapi karena si anak
ini cacat, maka orangtuanya harus membayar 2 kali lipatnya atau sebesar
Rp 1.000.000.

Jadi, memang hanya orang-orang yang berduit alias kaya saja yang bisa
bersekolah. Sementara itu, orang-orang yang standar hidupnya menengah,
apalagi yang rendah, itu tidak bisa bersekolah lantaran banyak sekolah
umum yang tidak mau menerima mereka.

Terpaksa, anak-anak itu bersekolah di sekolah umum yang kekurangan
murid, yang akhirnya terpaksa menerima. Padahal, tugas anak-anak itu
adalah sebagai penerus bangsa kita yang harus dibekali pendidikan dan
keterampilan sesuai dengan potensinya. Kalau anak-anak itu tidak
mendapatkan ilmu atau tidak diberi kesempatan untuk berprestasi,
bagaimana mereka bisa menggantikan generasi tua?

Ternyata, kami, anak-anak tuna rungu, jika diberi kesempatan juga mampu
mengembangkan potensi diri kami. Alangkah indahnya, seandainya
pemerintah memberi kami kesempatan seluas-luasnya untuk berkarya. Semoga
harapan kami tercapai, agar kami juga mampu mengharumkan bangsa dengan
tangan-tangan istimewa kami.

* Ada 12 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda *

*

SYIFA
Selasa, 24 November 2009 | 19:49 WIB
WAH... pengalamn.a sgat mengharukan smpai" mw nangis,,,, saya
orang normal sja tdak smua prestasi di dapat kpada sya,,, ketika
mmbaca pengalaman kmu sya ingin menjadi ank yang berprestasi kya
kmu,,, smuga kmu bsa menambah prestasi kmu lbih byak lgi ya!!! aq
dkung kmu, kmu dkung aq!! ^_^
*Balas tanggapan <#>*
*

angelcilik
Senin, 23 November 2009 | 08:30 WIB
waawh...LUAR BIASA!!!! bnr2 menggugah..sampe g tau mau bilang apa
lagi. saya sebagai orang normal, merasa tertohok. prestasi apa yg
udah aq peroleh jk dibandingkan dengan Sri ini...
*Balas tanggapan <#>*
*

Bismar Tampubolon
Senin, 23 November 2009 | 06:36 WIB
Pengalaman yang mengharukan menurut saya. hal ini menjadi cerminan
agar pemerintah semakin memperhatikan bagi mereka yang menderita
tuna rungu. mereka layak mendapatkan pendidikan. mereka juga
memiliki potensi. pemerintah harus mengembangkan karakter mereka
dan tanpamembunuh kreativitas mereka...Selamat berjuang..
*Balas tanggapan <#>*
*

kee
Jumat, 20 November 2009 | 17:06 WIB
salut bwt Sri Andiani, kedua orang tuanya dan teman-teman
senasib,..kadang manusia yg sehat fisiknya, malah lebih "tuli"
daripada saudara yg tuna runggu Semoga pemerintah perduli dengan
masa depan anak-anak penerus bangsa dan negara kita.
*Balas tanggapan <#>*
*

lina
Jumat, 20 November 2009 | 16:18 WIB
aspresiasi yang luar biasa buat sang mama, memang kedepan sudah
saatnya sistem pendidikan qt direformasi menjadi lebih bijak dan
merata..
*Balas tanggapan <#>*

Sumber:
http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/20/1005310/Betapa.Susahnya.Saya.Cari.Sekolah

Wow, Dua SLB 1 Jakarta Pamerkan CDI Sepeda Motor Rakitannya

shutterstock
Ilustrasi: Dua siswa tuna rungu Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri I
Jakarta memamerkan Condensor Discharged Ignition (CDI) atau perangkat
pengatur pengapian sepeda motor hasil rakitan mereka sendiri di Pameran
Pendidikan Nasional 2009 di Jakarta, Rabu (12/8).
*TERKAIT:*

* Bahkan, Siswi SLB Pun Berani Adu Piawai Berbisnis

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/06/29/10420624/Bahkan..Siswi.SLB.Pun.Berani.Adu.Piawai.Berbisnis>
* Beban SLB Kian Berat

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/01/31/06280842/Beban.SLB.Kian.Berat>
* Penyandang Cacat pun Bisa Berkesenian

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/01/13/19244677/Penyandang.Cacat.pun.Bisa.Berkesenian.>
* Satrio, Siswa Tuna Rungu yang Kritik Bambang Sudibyo

<http://edukasi.kompas.com/read/2008/04/24/13182823/Satrio..Siswa.Tuna.Rungu.yang.Kritik.Bambang.Sudibyo>

*JAKARTA, KOMPAS.com *- Dua siswa tuna rungu Sekolah Luar Biasa (SLB)
Negeri I Jakarta memamerkan /Condensor Discharged Ignition/ (CDI) atau
perangkat pengatur pengapian sepeda motor hasil rakitan mereka sendiri
di Pameran Pendidikan Nasional 2009 di Jakarta, Rabu (12/8).

Kedua siswa tuna rungu itu adalah Ibnu dan A. Syaudi Rodfan. Menurut
guru pembina kelas mayor otomotif SLBN I Jakarta Andi Palantino, kedua
siswanya itu memang sejak SMP sudah menekuni dunia otomotif.

"Sejak peminatan di tingkat kelas 1 SMP keduanya sudah mengambil
spesialisasi otomotif untuk keahlian non akademisnya, sehingga begitu
masuk tingkat SMA mereka semakin ahli untuk praktik," ujar Andi ditemui
di stand pamerannya, Rabu (12/8).

Andi menuturkan, saat ini ada 12 murid tuna rungu SLB Negeri I Jakarta
yang mengikuti kelas mayor otomotif. Untuk kebutuhan praktik luar kelas
bagi para siswa tersebut, pihak sekolahnya menggandeng mitra swasta
yaitu dengan PT Eka Jaya Berindo yang berada di Cirebon, Jawa Barat.

"Untuk magang praktik kerja kami dan pihak perusahaan itu saling
membantu, dan hal itu sangat membantu para siswa untuk mendalami
keahlian yang memang diminatinya sendiri," ujar Andi. "Tahun lalu sudah
ada siswa kami yang ditarik bekerja di perusahaan otomotif," tambahnya,
bangga.

* Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda *

*

Khristina
Rabu, 12 Agustus 2009 | 14:44 WIB
Walau tuna rungu, mereka tetap bisa belajar membaca. Dan inilah
hasilnya! Salut!
*Balas tanggapan <#>*

Sumber:
http://edukasi.kompas.com/read/2009/08/12/1411368/Wow..Dua.SLB.1.Jakarta.Pamerkan.CDI.Sepeda.Motor.Rakitannya..

Selasa, 13 April 2010

Ponsel Bagi Difabel

YANKODESIGN.COM

*KOMPAS.com* - Kaum difabel (/people with different ability-red/) adalah
salah satu kaum minoritas yang masih terpinggirkan hak-haknya, termasuk
dalam hal ini pemenuhan atas kebutuhan teknologi. Teknologi yang semakin
hari semakin canggih tidak sejalan dengan penyesuaian teknologi tersebut
terhadap perbedaan yang mereka miliki. Padahal, sebagai manusia, kaum
difabel memiliki hak yang sama untuk memperoleh edukasi dan informasi.

Beruntunglah, masih terdapat ilmuwan-ilmuwan yang peduli dengan
kebutuhan khusus mereka. Maka diciptakanlah teknologi-teknologi canggih
yang cara operasionalnya disesuaikan dengan kebutuhan mereka dengan
tujuan agar perbedaan yang dimiliki oleh kaum difabel tidak menjadi
penghalang mereka untuk menikmati kecanggihan teknologi, menjadi manusia
yang "melek teknologi".

*Visual Sound
*
Pratt, mahasiswa Suhyun Kim cukup prihatin dengan kaum difabel tunarungu
dan ingin mereka untuk menikmati teknologi seperti halnya yang kita
lakukan. Visual Sound adalah sebuah ponsel untuk tuna rungu yang
mengubah input suara ke teks dan input teks ke suara.

Desain ini memiliki dua pilar praktis yang gulir samping untuk
mengekspos tampilan /roll-out/. Untuk berkomunikasi, difabel cukup
memasukkan teks ke dalam layar /touch screen/, yang akan dikonversi
menjadi suara simulasi untuk orang di ujung telepon dan sebaliknya.

Kelemahannya terdapat pada waktu yang dibutuhkan untuk input teks dan
mengkonversi ke suara. Hal itu dapat mencegah panggilan jarak jauh, tapi
satu sisi jauh lebih baik dan manusiawi dibandingkan meminta orang lain
untuk menjadi penerjemah.

*Squibble
*
Proyek ini disebut "Squibble Portable Braille Interface". Pada dasarnya
adalah mesin pesan teks untuk difabel tunanetra. Perangkat ini berfungsi
dengan baik menggunakan karakter braille dan simbol-simbol lain mudah
dikenali pada grid titik sentuhan unik. Setiap titik singgung dengan
bekerja di lain yang menghadirkan keypad interaktif yang sangat baik.
Pad juga bekerja dengan pewarnaan kontras tinggi untuk membantu dalam
belajar jika pengguna secara bertahap kehilangan penglihatan. sangat
fashionable. Saat ini sedang diteliti dan dikembangkan untuk produksi.

Dampak kehadiran ponsel bagi kaum difabel tersebut akan menghadirkan
manfaat-manfaat yang sangat terasa bagi kehidupan mereka sehari-hari.
Dalam bidang komunikasi, perbedaan yang mereka miliki tidak akan menjadi
hambatan yang berarti bagi proses komunikasi yang mereka lakukan dalam
kehidupan sehari-hari. Kehadiran ponsel bagi difabel ini juga akan
menumbuhkan rasa percaya diri bagi mereka serta menumbuhkan keyakinan
bahwa mereka dapat menikmati kecanggihan teknologi seperti halnya kaum
mayoritas pada umumnya.

Penciptaan teknologi bagi difabel juga adalah bukti bahwa perbedaan yang
mereka miliki tidak dapat dijadikan alasan untuk perlakuan diskriminasi,
termasuk dalam hal minimnya pengadaan alat teknologi dan informatika
bagi mereka.

Di bidang ekonomi, munculnya satu perusahaan yang peduli terhadap
penyediaan teknologi bagi difabel akan memunculkan "gairah" persaingan
bisnis yang baru di antara perusahaan-perusahaan teknologi lainnya. Hal
tersebut akan menghasilkan efek positif terhadap difabel, yakni dengan
maraknya bermunculan barang-barang teknologi terbaru yang sesuai dengan
kebutuhan mereka.

Di bidang politik, kehadiran teknologi bagi difabel akan memungkinkan
para calon elite politik untuk berkampanye politik melalui media-media
yang tidak hanya dapat diakses oleh kaum mayoritas (baca: "normal"),
tetapi juga kaum minoritas seperti difabel. Dengan adanya teknologi bagi
kaum difabel dapat memicu peningkatan partisipasi difabel dalam kegiatan
politik seperti pemilu.(*Deandra Syarizka*)
*
Sumber: Kompasiana*
<http://teknologi.kompasiana.com/2010/04/06/ponsel-bagi-difabel/>
http://tekno.kompas.com/read/xml/2010/04/13/12280183/Ponsel.Bagi.Difabel

Senin, 12 April 2010

Peristiwa Kematian Yesus

*A Sudiarja*

Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely, demikian
tulis Lord Acton dalam Letter to Bishop Mandell Creigh- ton (1887).
Raja-raja kecil berkuasa. Ketika kekuasaannya bertambah, muncul ambisi
ekspansi, menaklukkan yang lain. Pejabat kecil melakukan korupsi
kecil-kecilan, pejabat tinggi melakukan korupsi yang lebih besar.

Lahirlah diktator-diktator dunia yang tidak mau turun dari takhta karena
mengira tidak ada orang lain yang mampu menggantikan kedudukannya. Louis
XIV terkenal sebagai raja Perancis yang sewenang-wenang. Kata-katanya
yang keras, 'l'état c'est moi' sudah menjadi adagium yang lazim untuk
absolutisme monarki hingga sekarang. Adapun Louis XV, cucunya, yang
melanjutkan kekuasaannya, tak kalah kejinya dari sang kakek yang tega
menikmati kemewahan di atas penderitaan rakyatnya. Kata-katanya yang
terkenal, 'après moi le deluge' , menyiratkan ramalan munculnya Revolusi
Perancis pada tahun 1789, yang memporak-porandakan negara.

Tentu saja "power tends to corrupt, and absolute power corrupts
absolutely" menjadi problematis untuk teologi, yang meyakini Tuhan
sebagai mahakuasa. Apakah cara berpikir analogis dari Thomas Aquinas,
yang menyiratkan kesamaan kekuasaan Tuhan dan manusia di satu pihak,
tetapi menambahkan awalan 'maha' untuk memperlihatkan sifat superlatif
pada Tuhan bisa diterapkan di sini? Bukankah raja-raja Eropa pada zaman
dulu dianggap mengambil bagian dari pemerintahan Tuhan? Bukankah hal itu
menjadi legitimasi kekuasaan mereka dan menjadi alasan agar rakyat
tunduk kepada pemerintahan raja?

Zaman berubah, legitimasi berubah, dan kekuasaan Tuhan digantikan oleh
kekuasaan manusia 'belaka', teokrasi menjadi demokrasi. Apakah kekuasaan
Tuhan masih diakui di dunia? Lewat fenomen apa? Agama-agama pada zaman
dahulu masih menafsirkan musibah dan gejala alam yang dahsyat sebagai
tanda langsung kuasa Tuhan yang menghukum umat yang berdosa. Namun,
bayi-bayi tak bersalah yang ikut jadi korban menjadi alasan A Camus
untuk meledek pemuka agama yang berpendirian naif (La Peste, 1947).

Kuasa Tuhan di dunia tidak masuk akal, tidak bisa diterima. Bagi A Camus
hal itu berarti Tuhan tidak ada. Akan tetapi, John de Caputo dan banyak
filsuf maupun teolog posmodern lain mencoba memecahkan persoalan ini
secara berbeda.

Secara lugas, dengan menggunakan dekonstruksi Derrida, Caputo
menyatakan, Tuhan tidak berkuasa (cf The Weakness of God, 2006).
Pernyataan ini berbeda dari 'Tuhan tidak ada', bukan dalam hal isi
pernyataannya, melainkan cara memahami. Lebih lanjut Tuhan diterangkan—
andai kata bisa diterangkan—lebih sebagai 'peristiwa' daripada sesuatu
sosok pribadi berkuasa. Maka, ulasannya dia sebut sebagai sebuah
'Teologi Peristiwa' (a theology of the Event), suatu istilah yang tentu
saja tidak lazim.

*Kedudukan Tuhan*

Kedudukan Tuhan menurut cara berteologi ini berbeda jauh dari teologi
lazimnya. Teologi yang lazim berbicara tentang Tuhan, dengan nada
meyakinkan mengenai eksistensinya, keesaan atau kemahakuasaan-Nya, Tuhan
sebagai causa prima, asal- usul segala sesuatu, prinsip abadi dan tak
tergoyahkan, tak ada tandingannya, dan sebagainya. Semuanya serba
superlatif, luar biasa, kuat, dan kuasa. Begitulah cara membaca
peristiwa Tuhan dalam teologi yang kuat. Dalam 'Teologi Peristiwa'
Caputo memperlihatkan sisi-sisi lain dari Tuhan sebagai peristiwa.

Dengan nada berandai-andai, Caputo mempertanyakan: "(Bagaimana)
seandainya kita bayangkan Tuhan sebagai anak jalanan dengan badan dan
bau tertentu, ... andai kata pikiran kita tentang Tuhan tidak dijinakkan
oleh khotbah-khotbah hari Minggu oleh pastor... Malah kita bayangkan
...kita arahkan pikiran tentang Tuhan dari gambaran orang pinggiran yang
paling tak berkuasa dan termarjinalisasi, ... Andai kata Tuhan memasang
tendanya di antara mereka yang tak punya rumah sehingga Tuhan tidak
mempunyai tempat untuk membaringkan kepalanya?...dan sebagainya." (The
Weakness of God, halaman 33).

Tentu saja Caputo tidak bermaksud menjelaskan eksistensi Tuhan di sini,
melainkan peristiwa ketuhanan. Dengan pemahaman semacam itu, Caputo
menghindari penggambaran Tuhan secara ontoteologi, yang diwariskan
pemikiran logosentrisme. Salah satu lagu yang pernah dinyanyikan Joan
Osborne dan populer pada tahun 1995 berjudul One of Us. Liriknya seperti
mengingatkan kembali pada teologi lemah ini. "What if God was one of us?
Just a slob like one of us, Just a stranger on the bus, Trying to make
his way home...".

Teologi lemah membaca peristiwa ketuhanan dalam berbagai kemungkinan.
Pluralitas tafsir dari teologi ini merupakan salah satu ciri
kelemahannya karena tidak mempunyai ortodoksi. Dengan berandai-andai,
Caputo juga memperlihatkan kelemahan lain dari teologi yang tidak
berpijak pada realitas ontis (keberadaan). Tuhan tidak dipikirkan
adanya, ataupun dibuktikan, tetapi dirasakan peristiwanya.

Pada hari Jumat suci ini, orang-orang Kristen mengenangkan kematian
Yesus. Mereka memercayainya sebagai Tuhan, yang menjadi manusia dan
menderita sengsara. Peristiwa tersebut dapat dijelaskan baik oleh
teologi ortodoks yang kuat dengan argumentasi yang kompleks dan rujukan
Kitab Suci. Namun, barangkali bisa juga ditafsir atau dibaca dengan
teologi lemah yang tidak lazim. Maknanya tentu saja menjadi tergantung
pada masing-masing pembaca.

Dalam majalah Time, 29 Maret 2010, Desmond Tutu, Uskup Agung Afrika
Selatan, menjawab seorang penanya berkenaan dengan buku barunya, Made
for Goodness, apakah dia sungguh- sungguh optimistis seperti yang dia
tulis. Dia menjawab, "Saya tidak optimistis... tetapi saya penuh
harapan. Ini berbeda...". Bisa dibayangkan. Optimisme merupakan jargon
modern untuk memandang hasil ke depan berdasarkan kalkulasi dan
pertimbangan akurat, sementara harapan adalah sesuatu yang lain,
mengandalkan relasi dengan orang lain. Optimisme dipromosikan oleh
teologi kuat, harapan oleh teologi lemah. Harapan tidak berorientasi
pada mekanisme sukses dengan perhitungan masuk akal, melainkan dinamika
cinta dan kepercayaan.

Melihat kebobrokan dunia karena penyelewengan-penyelewengan para
penguasa, barangkali kita tidak optimistis. Kata- kata Lord Acton di
atas telah memperingatkan kita. Namun, seperti Desmond Tutu, barangkali
kita masih bisa berharap. Bagi orang-orang Kristen, harapan itu
ditaruhkan pada peristiwa penderitaan serta kematian Yesus di kayu
salib. Ia kelihatan sangat lemah menghadapi penguasa-penguasa agama
ataupun penguasa politik Romawi pada zamannya. Namun, dilihat dari sudut
teologi lemah, barangkali dia adalah Tuhan sebagai "one of us" yang bisa
memberi harapan.

*A Sudiarja */Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma/


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/01/03475163/peristiwa.kematian.yesus

Lewat Twitter, Jonathan Schwartz Mundur dari Sun

Pesan pengunduran diri Jonathan Schwartz di Twitter.

*SANTA CLARA, KOMPAS.com* — Pejabat tetinggi di Sun Microsystems,
Jonathan Schwartz, punya cara unik tersendiri untuk menyatakan
pengunduran dirinya. Bukan lewat konferensi pers atau sebuah forum
resmi, melainkan lewat situs /microblogging/ Twitter.

Rabu (3/2/2010) malam, Schwartz menyatakan mundur dari Sun yang baru
saja diakuisisi Oracle. Meski singkat, pesan perpisahannya di Twitter
sangat dalam karena disampaikan dengan cara /haiku/, gaya puisi khas
Jepang dengan tiga frasa yang biasanya menggambarkan alam atau pesan
spiritual.

"Hari ini hari terakhir saya di Sun. Saya akan merindukannya.
Kelihatannya hanya bisa diakhiri dengan sebuah /haiku/. Krisis
keuangan/pusing dengan terlalu banyaknya pelanggan/CEO, tidak lagi,"
kata Schwartz dalam bahasa Inggris di akun Twitter-nya.

Ia kini mungkin tercatat sebagai CEO perusahaan besar pertama yang
menggunakan Twitter untuk menyatakan pengunduran diri. Selama ini, ia
memang dikenal aktif di internet lewat blognya untuk menyebarkan
perspektifnya soal teknologi.

Sun diakuisisi Oracle dengan nilai total 7,4 miliar dollar AS pada April
2009 lalu. Proses akuisisi tersebut akhirnya diselesaikan setelah
beberapa hari lalu akhirnya telah disetujui regulator di Eropa.

Kini Jonathan Schwartz mungkin bisa menghabiskan waktu lebih banyak
dengan keluarganya dan bahkan menulis di internet. Pada tulisan terakhir
di blognya, ia meminta para pembaca untuk tetap berteman lewat akun
Twitter-nya di @openjonathan <http://www.twitter.com/openjonathan>. Ia
juga berjanji akan terus /nge/-blog dan mengarsip dan memindahkan konten
blognya ke alamat yang baru segera.


Sumber:
http://tekno.kompas.com/read/2010/02/04/17025124/Lewat.Twitter..Jonathan.Schwartz.Mundur.dari.Sun

Pencipta Java, James Gosling, Mundur dari Oracle

*WASHINGTON, KOMPAS.com* - Setelah diakusisi Oracle, Sun kembali
ditinggalkan orang-orang penting yang turut membesarkannya. Menyusul
sang CEO Sun Jonathan Schwartz, James Gosling yang dikenal sebagai
pencipta bahasa pemrograman Java juga menyatakan mengundurkan diri.

"Ya, rumornya benar. Saya mengundurkan diri dari Oracle satu minggu lalu
(2 April)," ujar James Gosling dalam blog barunya yang beralamat di
www.nighthacks.com <http://nighthacks.com>, Jumat (9/4/2010) lalu. Ia
mengaku berat menjelaskan alasannya keluar dari Oracle karena kalau
bicara jujur, ia takut lebih banyak membicarakan hal buruk.

Namun, yang pasti setelah kaluar dari Oracle kini ia bisa bebas ngeblog
lagi. Semua isi blog yang pernah ditulisnya di Sun kini dialihkan ke
alamat baru karena sesuai kebiajakan Sun semua hasil tulisan di blog
menjadi hak penulisnya.

"Beberapa tulisan di blog yang saya tulis di blogs.sun.com
<http://blogs.sun.com/jag/> ditulis dengan kebijakan yang bisa dibilang
lebih ketat :)," katanya. Apakah gara-gara tak bisa bebas ngeblog
menjadi salah satu alasannya keluar Oracle?

Tak lupa, ia meminta maaf kepada semua orang yang hadir dalam acara
TechDays di St Petersburg, Russia pada Kamis sebelumnya. Seharusnya,
Gosling menjadi salah satu pembicara yang selalu ditunggu-tunggu para
pengembang Java. "Hal yang paling berat adalah tak lagi bersama
orang-orang hebat yang telah bekerja sama selama bertahun-tahun," lanjut
Gosling.

Gosling mengatakan kelak mungkin mencari pekerjaan baru. Namun, sejauh
ia mengaku belum punya rencana apapun kecuali beristirahat barang
sebentar sebelum mulai bekerja lagi.

Lahir di Calgary, Kanada, 19 Mei 1955, James Gosling menamatkan kuliah
di Imlu Komputer Universitas Clagary tahun 1977. Ia kemudian meraih
gelar PhD di bidang yang sama dari Universitas Carnegie Mellon. Sebelum
bergabung dengan Sun, Gosling pernah membuat beberapa software seperti
NeWS dan Emacs. Namun, yang membuatnya sangat terkenal adalah saat
menciptakan bahasa pemrograman Java.


Sumber:
http://tekno.kompas.com/read/xml/2010/04/12/06482165/Pencipta.Java..James.Gosling..Mundur.dari.Oracle

Jumat, 09 April 2010

Alamat Resmi Penjualan BlackBerry

PT. Teletama Artha Mandiri

Pusat Niaga Roxy Mas Blok C4 No.6-7
Jl. K.H. Hasyim Ashari, Jakarta 10150

------------------------------------------------------------------------
List of Authorized BlackBerry Retailers :
Jakarta
Toko PDA
1 Plaza Surabaya New Handphone Centre Lt.2/6D
2 Emporium Mall Emporium Pluit Mall Lt.2 Blok 2-35A
3 Pondok Indah Mall (PDA) Pondok Indah Mall North Skywalk Lt.2
no.N207B
4 ITC Kuningan ITC Kuningan Lt.3 Jembatan No.20B
5 Mall Puri Indah Mall Puri Indah Lt.1 No.144A
6 Grand Indonesia Grand Indonesia West Mall Lt.3 No.2
7 Pondok Indah Mall (Notebook Gear) Pondok Indah Mall North Skywalk
LT.2 No.N203A
8 Mangga Dua Mall Mangga Dua Mall Lt.3 No.20B
9 Mall Taman Anggrek Mall Taman Anggrek Ground Floor No.A17
10 Surabaya Town Square Town Square Surabaya Lt.1 No.75
11 Mall Kelapa Gading I Mall Kelapa Gading I Lt.2 No.362
12 EX - Plaza Indonesia Plaza EX Lt.1 EX 43
13 Plaza Semanggi Plaza Semanggi Lt.2 No.17C

POINT 2000
1 P2K Mega Mall Pluit Village Lt.3 No.65
2 P2K Bogor Plaza Jambu Dua Lt.1 Blok B4 No.2
3 P2K Roxy Mas ITC Roxy Mas Lt.3 No.95
4 P2K ITC Cempaka Mas ITC Cempaka Mas Lt.4 Blok L No.993
5 P2K Bekasi Mega Bekasi Hypermall Lt.UG No.28-29
6 P2K Permata Hijau Grand ITC Permata Hijau Lt.3 Blok D09 No.1
7 P2K ITC Cibinong ITC Cibinong Lt.1 Blok D3 No.1
8 P2K SGC Cikarang Sentra Grosir Cikarang LG/Kuning No.8-9
9 P2K Cempaka Mas 2 ITC Cempaka Mas Lt.4 Blok L No.1039
10 P2K Karawaci E-Center Supermal Karawaci Upper Ground H3 No.1-2

C-Palm / Inve-Store
1 Plaza Senayan Plaza Senayan Lt.1 No.108C, Jl. Asia Afrika No.8
2 Ratu Plaza Ratu Plaza Computer Center Lt.3 No.32B
3 Plaza Indonesia Plaza Indonesia LB#59, Jl.M.H. Thamrin Kav 28-30

Erafone
1 Erafone Samarinda Jl. Ahmad Yani No.40B RT.09, Samarinda
2 Erafone Tanjung Karang Jl. Wolter Mongonsidi No.32A, Tanjung
Karang,
Bandar Lampung
3 Multibrand - ITC Roxy Mas 1 Plaza Indonesia LB#59, Jl.M.H. Thamrin
Kav 28-30
4 Multibrand - WTC Matahari WTC Matahari Serpong Lt.Dasar Blok.G
No.39, Tangerang
5 Multibrand - Cempaka Mas ITC Cempaka Mas Lt.4 Blok.O No.208
6 Multibrand - Karawaci E-Center Supermal Karawaci LG No.E3A
7 ITC BSD ITC BSD Lt.1 Blok.C5 No.7, Tangerang
8 Multibrand - TAMINI Square TAMINI Square Lt.2 SS7 No.5-6 Lot E
07-08
9 Multibrand - ITC Depok ITC Depok Lt.2 No.132, Depok
10 Multibrand - Ambasador Mall Ambasador Lt.3A No.6
11 Multibrand - Plaza Semanggi Plaza Semanggi Lt.2 Blok B No.20
12 Multibrand - Hyper Bekasi Mega Bekasi Giant Hypermall Lt.1
No.266-267
13 Multibrand - Metropolitan Mall 2 Bekasi Metropolitan Mall 2 Lt.3
No.330
14 Multibrand - Ekalokasari Plaza Ekalokasari Lt.3 No.8, Jl.
Siliwangi
No.123, Bogor
15 Multibrand - Point Square Point Square Giant Lebak Bulus Lantai
Dasar No.38

Bandung
Rukun Handal
1 Mega Cell Jl. Abdul Rachman Saleh No.30
2 Atlantic Cell BEC LG F01
3 Dukomsel Jl. Ir.H.Juanda No.71
4 Royal Cell BEC LG B02
5 Kingkong Cell Jl. Lodaya No.99
6 Mitra Cell BEC LG F02
7 CellStar Jl. Lengkong No.73B
8 Gadget Anda BEC UG C17
9 Media Cell BEC UG E12
10 Qiqi Cell BEC LU F01
11 Options BEC UG G08-09
12 Perdana Handphone Jl. Soekarno Hatta 590 MTC Mall Blok FF
1301-1302
13 Gemilang Jl. Mekar Makmur No.35, Mekar Wangi
14 Indi Cell BEC UG C05
15 Gadtorade BEC LU H.15, Jl. Purnawarman 13-15, Bandung 40117

Surabaya
Bumilindo
1 Delta Plaza Mall Delta Plaza Lt.2 EC-R/3 No.18D-19D
2 WTC-D WTC Lt.1 Bawah Elevator No.176
3 WTC-109 WTC Lt.1 No.109-110
4 PM-2 Plaza Marina Pusat Ponsel Lt.2 Blok H No.201
5 TP Tunjungan Plaza Lt.2 No.3A
6 SPM Supermall Lt.LG No.106
7 Galaxy Galaxy Mall Techno Zone Lt.2 No.TZ12A-14

Tristar
1 Tristar - WTC WTC Galeria Lt. 1 No. 8732

Makasar
Eratama
1 Universal JL.G.BAWAKARAENG NO.5
2 T-Fone MTC KAREBOSI LT.3 BLOK K-8
3 MMS JL.G.BAWAKARAENG NO.10

Palembang
Telemarco
1 Telemarco Jl. Perintis Kemerdekaan No.68 RT.02, 5 ilir-ilir
Timur II

Bali
Pyramid
1 Rajawali Cellular Jl. Teuku Umar No.14A

Medan
Selular 1
1 Selular 1 Jl. Guru Patimpus No.1 GG, Medan

Jawa Tengah
Smart Phone
1 Puri Anjasmoro - Jogja Puri Anjasmoro B2/15 Lt.2
2 Solo Square Solo Square Lt.1-01B
3 Mall Ciputra - Semarang Mall Ciputra East Extention No.IX

Sumber: http://www.teletama.com