*Jakarta* - Saat ini, internet merupakan salah satu sumber utama
informasi dan pengetahuan, bahkan tunanetra (orang tak berpenglihatan)
pun telah menjadikan internet sebagai gerbang menuju akses informasi dan
pengetahuan.
Namun, tentu saja tanpa adanya penglihatan, tunanetra tak dapat
mengakses halaman website selancar mereka yang berpenglihatan. Nah,
seperti apakah hambatan yang sering ditemui tunanetra saat berselancar
di dunia maya?
Pembaca, saat mengakses artikel ini, mungkin Anda juga sedang membaca
koran, memeriksa laporan yang baru saja Anda cetak, bahkan asyik ngobrol
dengan rekan-rekan Anda di situs jejaring sosial. Semuanya dimungkinkan
karena Anda memiliki penglihatan, sehingga seluruh informasi yang ada
pada website dapat diakses dengan mata.
Hal tersebut, tentu saja, tak dapat dinikmati dengan sempurna oleh
mereka yang tidak berpenglihatan alias tunanetra. Nah, pernahkah Anda
membayangkan bagaimana tunanetra dapat mengakses informasi yang selama
ini begitu mudah Anda akses?
Dulu, akses informasi bagi tunanetra masih sangat terbatas, yaitu
diperoleh dengan cara membaca bahan bacaan yang dicetak dalam tulisan
Braille (huruf timbul yang dapat diraba), atau mendengarkan rekaman
artikel yang direkam dalam bentuk kaset.
Coba bayangkan. Berapa banyak gedung perpustakaan yang diperlukan untuk
menampung cetakan Braille seluruh informasi yang terdapat pada website?
Atau, berapa banyak kaset yang dibutuhkan untuk merekam informasi yang
terdapat di dunia maya yang jumlahnya tak terhitung itu?
Namun, "lain dulu lain sekarang." Keterbatasan akses informasi bagi
tunanetra berangsur-angsur mulai teratasi. Berkat kecanggihan teknologi
dan semakin terjangkaunya harga komputer, akses informasi bagi tunanetra
pun semakin luas dan terbuka lebar.
Dengan sebuah komputer yang dilengkapi pembaca layar (aplikasi yang
dapat mengubah teks menjadi keluaran suara), tunanetra sudah dapat
mengoperasikan komputer. Keterbatasan akan akses informasi pun dapat
diatasi, karena tunanetra juga dapat mengakses jutaan halaman web, mulai
dari situs berita, e-mail, bahkan game online.
Dengan demikian, kita dapat simpulkan bahwa keberadaan internet saat ini
dapat menjadi salah satu sumber utama akses informasi bagi tunanetra
yang haus akan pengetahuan dan informasi.
Meski demikian, tunanetra masih tetap terkendala saat browsing di
internet. Nah, lewat artikel ini penulis ingin menunjukkan beberapa
masalah yang sering dihadapi tunanetra saat mengakses halaman web.
Penulis coba memilihkan masalah yang paling sering dihadapi oleh
tunanetra berdasarkan bincang-bincang dengan sesama netter tunanetra
yang merupakan rekan penulis sendiri.
Artikel ini tentu saja tak dapat meng-cover masalah browsing tunanetra
secara keseluruhan. Namun, penulis berharap informasi ini dapat
disebarluaskan sehingga akan makin banyak pihak yang tergerak hatinya
untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi netter tunanetra,
sehingga akses informasi bagi mereka akan semakin mudah.
Sebelum lanjut menyimak artikel ini, ada baiknya Anda memahami bagaimana
cara tunanetra mengakses informasi lewat komputer. Sebuah artikel yang
cukup informatif dapat Anda baca melalui link berikut:
http://www.webbie.org.uk/webbie.htm
1. Capcha
Untuk registrasi e-mail atau posting di forum, terkadang tunanetra
berhadapan dengan proses verifikasi yang disebut Capcha, di mana mereka
harus memasukkan kode verifikasi untuk memastikan bahwa yang akan submit
informasi adalah benar-benar manusia, bukan spam. Kode verifikasi
tersebut biasanya terdiri dari huruf atau angka yang tertera dalam
gambar, yang selanjutnya harus diketik ulang dalam kolom isian yang
tersedia.
Masalahnya, sudah barang tentu tunanetra tidak dapat melihat kode apa
yang tertera pada gambar, dan hal tersebut tentu menyulitkan mereka
untuk melanjutkan ke proses berikutnya.
Untuk mengatasinya, tunanetra dapat minta bantuan orang berpenglihatan
yang ada di sekitar mereka untuk membacakan kode Capcha. Sayangnya, tak
selamanya orang berpenglihatan dapat mendampingi tunanetra, contohnya
kalau tunanetra yang bersangkutan harus posting tengah malam, atau
ketika mereka hendak posting hal yang sifatnya pribadi.
Kalau posting komentar di sebuah forum yang cukup aktif misalnya, tentu
akan sangat merepotkan, pasalnya verifikasi Capcha akan muncul tiap kali
pengguna submit komentar. Tentu saja tunanetra harus minta bantuan orang
berpenglihatan untuk membacakan kode Capcha berkali-kali, bisa jadi
tiap dua sampai lima menit sekali.
Untuk mengatasi masalah di atas, tunanetra dapat memilih opsi "Get an
audio challange" yang biasanya muncul di layar verifikasi. Dengan
mengklik opsi ini, tunanetra dapat memasukkan kode Capcha yang akan
disajikan dalam bentuk suara.
Sayangnya, tidak semua penyedia layanan web mengaktifkan fitur ini.
Selain itu, kadang suara yang terdengar tidak terlalu jelas sehingga
sulit dimengerti.
Alternatif lain adalah dengan menggunakan browser Firefox dan memasang
extension bernama Webvisum (www.webvisum.com).
Extension ini menyediakan fitur untuk mendeteksi kode Capcha, jadi saat
masuk ke halaman verifikasi Capcha, tunanetra tinggal menekan shortcut
CTRL+ALT+6 dan menunggu beberapa saat, dan Webvisum akan mengkopikan
kode Capcha ke clipboard yang selanjutnya dapat dikopikan ke kolom isian
verifikasi.
Untuk tunanetra yang lebih nyaman browsing dengan Internet Explorer juga
dapat menggunakan layanan yang sama seperti Webvisum. Layanan ini
disediakan oleh www.solona.net. Cukup mendaftar dan download aplikasi
yang dibutuhkan, dan operator Solona siap membantu.
2. Aksesibilitas Elemen Web
Yang dimaksud dengan aksesibilitas di sini adalah kemudahan dalam
mengakses berbagai elemen pada sebuah halaman website.
Untuk tunanetra, adanya shortcut navigasi, label pada gambar, dan
fitur-fitur pendukung lainnya tentu akan sangat membantu dalam proses
browsing.
Mungkin tunanetra tidak akan terlalu kesulitan mengakses blog atau
halaman web sederhana, karena komten dan elemen webnya pun tidak terlalu
banyak. Kalau tunanetra harus mengakses website yang lumayan beragam
kontennya, sebut saja www.detikinet.com, tentu mereka akan sangat
kesulitan dalam memilih dan mengakses informasi yang dibutuhkan.
Lho, kok bisa?
Ya, karena untuk orang berpenglihatan, mereka dapat dengan leluasa
memilih dan mengklik informasi yang mereka butuhkan. Meski konten webnya
banyak, adanya penglihatan dapat memandu pengguna untuk menemukan entri
yang dibutuhkan dengan cepat. Sedangkan tunanetra membutuhkan waktu yang
lebih lama, karena mereka mengakses web dengan cara mendengarkan
informasi yang disuarakan oleh pembaca layar, tidak bisa melenggangkan
pointer mouse ke kanan dan ke kiri seperti halnya rekan mereka yang
berpenglihatan.
Solusi yang mungkin dapat diterapkan adalah sebagai berikut.
* Shortcut dan Tombol Navigasi
Developer web dapat menambahkan shortcut pada menu utama (yang sifatnya
statis) di halaman web yang mereka buat. Contoh, kalau menu utamanya
adalah Home, About Us, dan Registration, maka dapat dibuat shortcut,
misalnya ALT+1 untuk mengakses Home, ALT+2 untuk mengakses About Us,
ALT+3 untuk mengakses Registration, dan seterusnya. Disarankan untuk
membuat shortcut yang urut sesuai susunan menu utama dari atas ke bawah.
Developer juga dapat menambahkan sebuah link navigasi yang tujuannya
untuk memudahkan tunanetra berpindah-pindah dari satu bagian web ke
bagian yang lain. Dalam sebuah web, fitur ini biasanya disebut "Skip
Navigation," yaitu sebuah link atau shortcut yang bila diaktifkan akan
langsung membawa kursor pembaca layar ke area yang dituju.
* Text-only dan Enlarge view
Fitur text-only akan mempermudah tunanetra dalam mengakses sebuah
halaman web, karena bila diaktifkan, maka secara otomatis browser tidak
akan me-load konten-konten visual, sehingga tunanetra dapat browsing
dengan lebih cepat. Contoh penerapan fitur ini adalah pada situs belanja
www.amazon.com.
Lalu, apa itu Enlarge View? Fitur ini disediakan bagi tunanetra yang
masih memiliki sisa penglihatan (lemah penglihatan atau low vision).
Bila fitur ini diaktifkan, maka tulisan yang tertera dalam sebuah
halaman web akan diperbesar beberapa kali, dan warna background serta
font akan berubah menjadi kontras sehingga lebih mudah dilihat oleh
mereka yang kurang dapat melihat dengan baik.
* Label gambar
Tentu saja tunanetra juga ingin tahu gambar apa yang tertera dalam kolom
berita atau blog. Untuk itu, developer dapat menuliskan deskripsi
singkat mengenai gambar yang tertera dengan menyisipkan kode HTML
khusus, yang mana nantinya deskripsi itu tidak akan muncul di layar,
tapi akan tetap terbaca oleh pembaca layar yang digunakan tunanetra.
Misalnya, kalau developer menaruh gambar orang sedang mengoperasikan
laptop, maka image labelling dapat dituliskan seperti ini, "Gambar
seorang wanita berambut panjang sedang mengoperasikan laptop." Deskripsi
ini mungkin terlihat kurang nyaman kalau tampil di halaman web, oleh
karenanya developer dapat menyembunyikannya, sehingga cuma pembaca layar
yang dapat mengakses informasi tersebut.
3. Akses cepat
Ternyata tidak hanya gamer online dan netter kelas berat yang
mendambakan akses browsing berkecepatan tinggi. Hal ini pun didambakan
oleh tunanetra. Nah, berikut ini hal yang dapat Anda lakukan apabila ada
netter tunanetra di lingkungan Anda yang ingin browsing dengan lebih cepat.
Penulis menyarankan untuk memisahkan browser yang akan dipakai tunanetra
dan orang berpenglihatan, karena trik berikut akan mengubah setting yang
berhubungan dengan visual, sehingga browser yang telah diubah
setting-nya tidak akan dapat menampilkan objek visual (dapat
dikembalikan ke kondisi semula jika diperlukan).
Mungkin netter tunanetra tak perlu menunggu terlalu lama untuk me-load
konten visual pada sebuah halaman web. Dengan menon-aktifkan beberapa
setting pada browser, maka elemen web yang berhubungan dengan visual
(image, video, flash, dll) tidak akan di-load oleh browser, sehingga
proses load sebuah halaman web akan lebih cepat. Selain itu, ini tentu
saja membantu tunanetra menghemat bandwidth internet mereka.
Ada pun browser yang ideal adalah Internet Explorer. Untuk melakukan
setting, buka browsernya, lalu klik Tools dan pilih Internet Options.
Selanjutnya, klik tab Advance dan non-aktifkan entri berikut sesuai
kebutuhan Anda.
Multimedia Play animations in web pages = off
Show pictures = off
Oh ya, netter tunanetra juga dapat menggunakan browser Webbie yang dapat
di-download di www.webbie.org.uk. Browser ini dirancang khusus agar
pengguna tunanetra dapat berselancar di internet dengan nyaman. Tersedia
juga berbagai fitur lain, seperti streaming radio online, kalkulator dan
agenda aksesibel, serta berbagai program lain yang pastinya berguna
untuk menunjang aktivitas komputasi tunanetra.
Bagi Anda yang tertarik memahami lebih mendalam mengenai halaman web
yang aksesibel bagi tunanetra, Anda dapat mengakses situs buatan
Indonesia, tak lain dan tak bukan adalah www.mitranetra.or.id, situs
resmi Yayasan Mitra Netra yang bergerak di bidang pengembangan potensi
dan kemampuan rekan-rekan tunanetra. Website Mitra Netra telah
menerapkan elemen-elemen yang penulis sebutkan di atas.
Sumber:
http://www.detikinet.com/read/2011/02/18/125036/1573612/398/3-masalah-utama-tunanetra-saat-browsing
Ramaditya.
Tentang Penulis: *Eko Ramaditya Adikara adalah blogger tuna netra yang
menggemari dunia digital dan teknologi informasi. Blognya bisa dibaca di
http://ramaditya.multiply.com/.