Kamis, 03 Juni 2010

Saat Apple Melengserkan Microsoft dari Takhta Teknologi

LAPORAN IPTEK
Saat Apple Melengserkan Microsoft dari Takhta Teknologi

Oleh *NINOK LEKSONO*

Banyak ungkapan menarik terkait berita lengsernya raksasa teknologi
informasi (TI) Microsoft dari statusnya sebagai perusahaan teknologi
paling bernilai di dunia, Rabu (26/5). Dari San Francisco, harian
International Herald Tribune (IHT) pada Jumat (28/5) menurunkan judul
"Dethroning Microsoft with a Swipe of a Finger" atau "Melengserkan
Microsoft dengan Satu Usapan Jari". Kita tahu, perusahaan Apple yang
melengserkan Microsoft dikenal sebagai pembuat gadget iPod, iPhone, dan
terakhir iPad yang menggunakan layar sentuh sehingga perintah cukup
diberikan dengan menggeser jari.

Laporan IHT dibuka dengan mengutip Wall Street bahwa satu era telah
berakhir dan era baru dimulai: bahwa produk teknologi yang paling
penting tidak lagi duduk di atas meja Anda, tetapi pas di genggaman Anda.

Kita tidak lupa, betapa produk-produk Microsoft berjaya dalam dua dekade
terakhir. Setiap kali pasar dan konsumen hanya mendengar betapa
gegap-gempitanya saat generasi baru Windows dan Office muncul. Selain
itu, kita mendengar pula bagaimana pendiri perusahaan ini tampil sebagai
orang paling kaya di dunia, sebelum dibayangi oleh muka baru pada
satu-dua tahun terakhir.

Perusahaan yang menyusulnya justru dikenal sebaliknya. Apple sepuluh
tahun silam justru diberitakan sedang sekarat. Titik balik juga berlaku
bagi pimpinan eksekutif dan salah seorang pendiri perusahaan ini yang
dikenal visioner, yakni Steven P Jobs.

Satu hal yang dapat segera disimpulkan adalah cita rasa konsumen
berhasil mengalahkan faktor kebutuhan bisnis sebagai kekuatan utama
pembentuk teknologi. Namun, kebiasaan klak-klik di papan ketik komputer
yang sudah mewarnai kehidupan TI selama dua dasawarsa harus takluk pada
gesar-geser jari di layar sentuh telepon pintar.

Memang, Apple kini masih menjual komputer, tahun lalu sebanyak 306 juta
unit, sementara ponsel pintar hanya 172 juta unit. Akan tetapi, laju
penjualan ponsel pintar tumbuh lima kali lebih cepat dari komputer.
Penghasilan Apple sendiri dua pertiga berasal dari ponsel pintar dan
penjualan musik.

Boleh jadi tanda-tanda bakal tergesernya Microsoft dari singgasana
teknologi ini dapat kita indera saat munculnya karya terbaru Apple,
yakni iPad. Apple store di berbagai kota di AS diserbu peminat iPad dan
sempat menimbulkan kekecewaan di kalangan pengantre karena stok tak ada
dan harga barang naik sekitar 200 dollar AS.

*Buah inovasi*

IHT mengutip salah seorang pendiri PayPal, Peter A Thiel, menambahkan,
apabila Microsoft lebih banyak mempertahankan status quo, Apple justru
terus bersemangat menghasilkan sesuatu yang baru.

Sebenarnya, menghasilkan sesuatu yang baru terkesan lebih berat karena
pasti membutuhkan penelitian dan pengembangan lebih yang menantang. Di
sinilah Apple memperlihatkan keunggulan, bahkan Steve Jobs sering
disebut sebagai Empu Inovasi.

Seperti pernah disinggung di kolom ini, Apple yang pernah mau tamat
riwayatnya lalu berhasil bangkit dan, lebih dari itu, malah menjadi
perusahaan yang ikonik. Saat melihat iPod, misalnya, kita hanya melihat
nama perusahaan tertulis kecil saja. Akan tetapi, di seluruh dunia,
melihat gambar buah apel yang tampak baru digigit itu orang sudah tahu
bahwa gadget itu buatan Apple.

Steve Jobs sendiri pernah meninggalkan perusahaan yang ikut ia dirikan
bertahun-tahun, tetapi ia kembali pada tahun 1997 dan membuat
langkah-langkah hebat untuk menyelamatkan perusahaan. Dengan itu,
tradisi Apple untuk menjadi perusahaan inovatif tetap terpelihara
setelah ia memunculkan komputer pertama tahun 1977 hingga Macintosh yang
dilengkapi tetikus lahir tahun 1984, sampai pada lahirnya iPod tahun
2001, iPhone tahun 2007, dan terakhir iPad pada 2010.

Menyimak perjalanan itu, majalah Inggris The Economist (9/6/07) menulis,
ada empat pelajaran tentang inovasi yang dapat disimak dari Apple.
Tentang iPod, misalnya, meski Apple masih memelihara tradisi inovasi
yang dikembangkan dari sejak Thomas Alva Edison dan Bell Laboratories,
Apple tak canggung mengadopsi ide dari luar untuk digabung dengan ide
sendiri. Yang penting, hasil akhirnya adalah produk yang cantik dan
mengesankan penggunanya.

Yang tak kalah penting, Apple membuat produk tidak berdasarkan pada
tuntutan teknologi, melainkan kebutuhan pengguna. iPod dan iPhone
menjadi buktinya. Dengan iPod, iPhone, dan iPad, Apple telah membuktikan
dirinya sebagai perusahaan paling inovatif di dunia dan karya-karya
inovasinya bisa dikatakan yang terunggul, inovasi par excellence.

*Tanggal bersejarah*

Dengan rentetan sukses melahirkan inovasi itu, kapitalisasi saham Apple
pada 26 Mei 2010 mencapai 222,12 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.000
triliun! Memang beberapa waktu terakhir harga sahamnya sempat turun dari
posisi tertinggi 270,83 dollar AS per saham menjadi 244,11 dollar AS,
tetapi kapitalisasi saham Apple pada 26 Mei itu masih lebih tinggi
dibandingkan dengan Microsoft yang besarnya 219,18 miliar dollar AS
(Reuters/Kontan, 29/5). Nilai saham Apple melonjak 10 kali lipat selama
10 tahun terakhir dan itu disebut berkat revolusi konsumen elektronik
yang ingin lebih bergaya.

Dari pengalaman Apple ini, semestinya kita pun perlu mempelajari
berbagai hal. Pertama tentu mengembangkan kemampuan di bidang TI yang
masih akan terus mewarnai peradaban meski perkembangan nanoteknologi
mengisyaratkan pergeseran ke arah biologi lebih daripada fisika.

Berikutnya, seni inovasi yang dipraktikkan Apple dengan begitu menawan
haruslah jadi inspirasi bagi bangsa Indonesia yang sedang banyak
mewacanakan program inovasi. Masyarakat Indonesia tak harus menunggu
program pemerintah karena inovasi terbukti sukses manakala ia tumbuh
sebagai satu gerakan, sebagai satu kiprah masyarakat.

Kini, di posisi puncak perusahaan teknologi inovatif, Apple tentu juga
akan berjuang mempertahankan posisi di tengah persaingan sengit
perusahaan lain, termasuk Microsoft, yang baru dilengserkannya.


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/02/04483196/saat.apple.melengserkan.microsoft.dari.takhta.teknologi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar