Terpicu tayangan /Ipin dan Upin/, profesi animator menadah rezeki
berlimpah. Tak cuma datang dari televisi lokal yang mulai mau
menayangkan film animasi lokal, tapi juga dari perusahaan film serta
proyek /outsourcing /dari luar negeri.
Seekor kunang-kunang terbang mendekati anak kecil bersarung. Kabayan,
nama anak tersebut, berkata kepada kunang-kunang. "Waduh, aku capek
sekali Lip Lap, bagaimana ini?" ujar Kabayan. Melihat cucuran keringat
Kabayan, Lip Lap pun memberi semangat sambil terbang memutari kepala
Kabayan.
Bagi para penggemar film animasi, adegan tersebut pasti tak asing.
Betul, itu adalah salah satu cuplikan episode "Kabayan dan Lip Lap" yang
sempat diputar di beberapa stasiun teve lokal, /Indosiar /dan /Global TV. /
Sayang, pamor film animasi yang 100% bikinan para animator lokal ini
kurang /moncer/. Kalah jauh dengan pamor film animasi karya negeri
jiran, Malaysia, yakni si kembar /Ipin dan Upin. /
Meski belum banyak film animasi lokal yang beken, toh, banyak animator
lokal yang bilang bahwa bisnis animasi di Indonesia mulai menunjukkan
gairah perkembangannya. "Serial teve animasi lokal sedang /booming/,
terdorong /Ipin dan Upin," /ujar Ahmad Rofiq, seorang pembuat animasi
sekaligus pemilik K-Deep Animation.
*Menggarap film, klip video, sampai iklan*
Dibilang /booming/, sih, belum, namun pamor profesi pembuat animasi
alias animator ikut terangkat. Banyak animator baru lantas bermunculan.
Salah satunya Ahmad Rofiq. Pria asal Malang ini mengaku baru menggeluti
profesi sebagai animator sejak 2008 silam. Meski belum lama berkecimpung
di bisnis ini, Rofiq, sapaan akrabnya, kini mengantongi Rp 40 juta saban
bulan dari pemutaran serial televisi animas/i Catatan Dian /di stasiun
televisi /Spacetoon./
Itu belum seberapa, Rofiq menghitung, jika /Catatan Dian /jadi mengudara
di /Global TV /beberapa bulan mendatang, penghasilannya bakal lebih
berlipat. Rofiq menyebut, duit yang masuk ke kantongnya diperoleh dari
hasil iklan dan /sponsorship /serial animasi /Catatan Dian./
Ada juga Daniel Arief Budiman. Lewat bendera usaha Geppetto Animation
Studio, Daniel meraup rezeki dari animasi di televisi. Salah satu karya
Geppetto adalah videoklip band Samsons bertajuk Hey Gadis. Harga klip
berdurasi lima menit itu dia banderol Rp 100 juta.
Selain klip video, Geppetto juga memproduksi animasi untuk berbagai film
Indonesia yang di dalamnya mengandung animasi. Misalnya saja film
bertitel /Madame X/ yang disutradarai oleh Nia Dinata. Layar televisi
juga dimanfaatkan Geppetto untuk membesut iklan komersial, semisal Semen
Gresik, Sari Ayu, Sharp Plasmacluster, dan sebagainya yang juga
mengandung animasi. "Jadi, profesi animator sangat menjanjikan karena
bisa menghasilkan beragam /output /produk," tandas Daniel.
Pandangan serupa juga meluncur dari Ardian Elkana, pemilik Castle
Production. Castle adalah perusahaan animasi lokal yang bekerjasama
dengan Kementerian Perdagangan (Kemdag) memproduksi serial animasi
Kabayan dan Lip Lap. Meski enggan menyebut keuntungan yang dia peroleh
secara mendetail, Ardian yakin bahwa animasi merupakan bisnis kreatif
yang mampu menghasilkan nafkah gendut.
Mengutip data dari situs http://www.salary.com, penghasilan rata-rata
animator di New York, Amerika Serikat, mencapai US$ 55.270 per tahun
atau setara dengan Rp 495 juta. Ardian yang pernah bekerja di Amerika
Serikat selama tujuh tahun bilang, animator yang baru lulus saja bisa
bergaji US$ 20 per jam.
Asyiknya lagi, animasi juga merupakan industri yang borderless alias
tanpa batas. Alhasil, animator bisa menggarap pasar lokal dan pasar
mancanegara sekaligus. Ini penting dilakoni untuk jika ingin mendapat
pemasukan nan mumpuni.
Tengok saja, saat ini sebagian besar pemasukan Castle (70%) berasal dari
proyek-proyek di luar negeri. Sederet proyek luar negeri yang pernah
digarap Castle, antara lain Dino Tale, Kingkong, Carlos Caterpillar, dan
masih banyak lagi. "Inilah enaknya animator, bisa ikut menggarap proyek
animasi luar negeri," ujarnya.
Pesatnya industri animasi di Negeri Uwak Sam kerap membutuhkan bala
bantuan tenaga animator di luar Amerika. Apalagi, upah animator Asia,
termasuk Indonesia, jauh lebih murah ketimbang sejawatnya di AS.
Jelasnya begini. Ardian bilang harga proyek animasi dengan standar
teknologi tercanggih di kawasan Asia semisal Taiwan dan Korea dibagi ke
dalam beberapa tingkat. Kelas A, misalnya, dipatok tarif US$ 150.000-US$
300.000. Kelas B US$ 50.000–US$ 75.000 dan kelas C mulai dari US$
25.000. "Tarif animasi lokal bisa sepersepuluh tarif luar negeri,"
ungkap dia.
Oh, iya, tarif tersebut dipatok untuk satu episode serial televisi
dengan durasi tayang sekitar 15 hingga 30 menit. Catatan saja, tiap
episode membutuhkan kerjasama 25 animator, tergantung tahapan
pengerjaan. Pada tahap awal, tenaga animator yang dibutuhkan semakin
banyak lantaran harus membangun modelling atau karakter.
Nah, agar order pembuatan animasi dari luar negeri lancar, Ardian
menyarankan agar animator rajin memajang karyanya di internet sebagai
portofolio. Ardian sendiri mengaku kemajuan dunia maya sangat
membantunya mengembangkan pasar hingga ke luar negeri.
Namun, bila ikut menggarap proyek luar negeri yang biasa disebut proyek
/outsource/, animator harus rela namanya tidak tercantum di /credit title. /
Maklum, proyek /outsource /sering disebut sebagai tukang jahit lantaran
hanya membikin sesuai dengan pesanan saja pada bagian tertentu dalam
film. "Tapi risiko yang ditanggung animator lebih minim di proyek
pesanan dibandingkan dengan proyek /full. /Duitnya juga besar," ujar Ardian.
Lihat saja biaya produksi film Amerika berjudul /Avatar/. Kantor berita
/Bloomberg /mencatat, film animasi itu disebut-sebut menghabiskan biaya
produksi mencapai US$ 200 juta lantaran ongkos pembuatan animasinya yang
membengkak.
Para animator juga bisa mendiversifikasi produk ke ranah lain, misalnya
/games/. Animator bisa beroleh untung dari penjualan karakter. Rofiq
mengaku mematok royalti 20% dari penjualan aksesori berupa boneka, tas
dan /merchandise /lain dari karakter Dian, tokoh utama serial
animasinya, /Catatan Dian. /"Serial televisi bisa berhenti tapi bila
tokoh masih dikenal masyarakat, bisnis /merchandise /animasi akan
berlangsung lama seperti tokoh Tom and Jerry," imbuh Rofiq.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar