Jumat, 18 Februari 2011

Ratnawati menggandeng para tunarungu untuk membuat aneka kerajinan

SOCIAL ENTREPRENEUR RATNAWATI SUTEDJO


Di bawah bimbingan Ratnawati Sutedjo, para tunarungu berkreasi
menciptakan aneka kerajinan. Mulai dari alat peraga cerita, boneka, tas,
hingga tempat tisu. Pesanan pun banyak mengalir ke mereka, baik
perorangan maupun perusahaan.

Ratnawati terus mencari para tunarungu untuk diajak bergabung dan
berkarya dalam Yayasan Precious One (P-One) yang didirikannya. Tak
pernah terlintas di benak Ratnawati Sutedjo untuk membagi hidup kepada
para tunarungu, sampai ia sadar bahwa hidupnya berarti bagi banyak orang.

Cerita berawal saat Ratnawati mengidap hepatitis A pada 2001. Selama dua
tahun ia istirahat total, tidak bekerja. Di tengah sakitnya itu, ia
terpikir bahwa dirinya butuh orang lain. "Saya merasa tidak berguna.
Duduk saja selama 15 menit saya tidak bisa, ingin tidur lagi. Saat itu,
saya berpikir bagaimana dengan orang-orang berkebutuhan khusus," papar
perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini.

Selama merenung, Ratnawati berniat membagi kemampuannya kepada
orang-orang berkebutuhan khusus. Karena tertarik dengan bahasa isyarat,
ia memfokuskan diri untuk membagi apa yang ia punya kepada para
tunarungu. "Pertama kali, saya pikir saya harus bisa berkomunikasi
dengan mereka," katanya.

Ratnawati kemudian belajar bahasa isyarat selama dua tahun kepada Baron
Sastradinata, bekas diplomat di Kedutaan Besar Indonesia untuk Amerika
Serikat. Ketika belajar, Ratnawati bertemu seorang perempuan tunarungu.
Wanita ini lulus sekolah luar biasa tapi belum juga mendapat pekerjaan.
Lantas, ia kembali bersua dengan tunarungu lain, kali ini seorang pemuda.

Keduanya berbincang soal nasib si pemuda yang berkali-kali ditolak
perusahaan saat melamar pekerjaan. "Saya sedih sekali. Mengapa dia tidak
diberi kesempatan kerja? Itulah yang semakin mendorong saya untuk
membantu para kaum tunarungu," ujar Ratnawati.

Pikir punya pikir, Ratnawati akhirnya berniat menciptakan lapangan kerja
bagi para tunarungu. Dia ingin membagikan kemampuannya membuat bermacam
kerajinan kepada mereka. Lalu, Ratnawati mengajak para tunarungu yang
pernah ia jumpai. Dia mengajari mereka membuat kartu ucapan dari kain.

Ide ini didapatnya saat pergi ke Pasar Senen untuk membeli karpet
plastik pesanan bosnya. "Di depan toko karpet plastik, saya lihat toko
kain jok kursi. Ada banyak kain beraneka warna dan motif. Saya datangi
dan diberi dua dus besar sisa kain oleh pemilik toko, gratis," papar
Ratnawati.

Tidak hanya kartu ucapan, Ratnawati juga mengajari mereka membuat jepit
rambut, dompet, sarung bantal, penutup galon air, boneka jari, dan
pelbagai kantong. "Saya menjual karya mereka ke kawan dan kerabat,
ternyata responnya bagus," imbuh Ratnawati. Tapi, sejak 2005, Ratnawati
mengajak kawan-kawan tunarungunya untuk fokus membuat alat peraga cerita
dan buat berhitung.

Berbahan kain flanel, para tunarungu membuat alat bantu cerita dan untuk
berhitung bagi anak-anak sekolah. Mereka berada di bawah bendera Yayasan
Precious-One (P-One).

Rupanya, banyak orang yang kagum dengan karya-karya P-One. Beberapa
orang menyarankan agar para tunarungu juga membuat tas dan bingkai foto.
Bingkai-bingkai foto ini juga berbahan flanel berhiaskan sulam. "Pesanan
mengalir deras. Ada pesanan untuk pesta pernikahan, acara perusahaan,
dan acara keluarga," kata Ratnawati. Ia membanderol beraneka produk
kerjainan P-One mulai dari harga Rp 6.000 sampai Rp 350.000.

Ratnawati mencatat, karya yang paling banyak dipesan yakni tas dan
tempat tisu. Saat ini saja, Ratnawati tengah mengerjakan ribuan pesanan
dari sebuah perusahaan berupa tas, alat permainan, dan tempat tisu.

Di tangan 33 tunarungu, karya-karya itu tercipta. Produk-produk
kerajinan mereka juga dapat ditemui di ruang pamer di Sunter Garden,
Jakarta Utara.

Pada 4 Januari lalu, P-One pindah ke kawasan ini. Sebelumnya, P-One
berada di Permata Buana, Jakarta Barat. Ratnawati bilang, penghasilan
penjualan karya-karya P-One kemudian digunakan untuk biaya operasional
dan sumbangan bagi keluarga para tunarungu.

Para tunarungu yang bernaung di P-One berusia antara 20 tahun sampai 38
tahun. "Paling tua tunarungu asal Kupang. Cara dia berkomunikasi masih
kurang bagus," beber Ratnawati.

Menerapkan cara berkomunikasi yang baik antar-tunarungu merupakan
pekerjaan utama Ratnawati saat mendidik mereka. "Saya keras dalam
mendidik dan mengajari mereka, agar mereka paham cara berkomunikasi dan
etika bekerja," kata Ratnawati.

Saat ini, P-One punya satu divisi baru melengkapi dua unit lama. Divisi
baru itu yaitu, Temui Paper Craft. Divisi yang dipimpin Agus Winarto ini
khusus membuat boneka tiga dimensi.

Divisi yang sudah lebih dulu adalah The Silent Art dan Dancing with
Heart. The Silent Art adalah divisi kerja untuk pewarnaan batik.
Ratnawati bekerjasama dengan seorang pembatik untuk mengajari para
tunarungu. Adapun Dancing with Heart merupakan divisi pelatihan tari.
Kehadiran divisi baru dan derasnya pesanan membuat Ratnawati berupaya
mencari tunarungu lain untuk berkarya di P-One.

Di usianya yang ke 37 tahun, Ratnawati masih berkeinginan kuat
mengumpulkan lebih banyak tunarungu untuk bergabung di P-One. Ia ingin
para tunarungu bisa membagi kemampuan lewat buah karya mereka kepada
orang lain.

Keinginan Ratnawati agar para tunarungu mandiri tidak hanya diterapkan
pada diri penderita tunarungu. Ia juga tidak pernah mencari seorang
sponsor pun bagi yayasannya. "Kami hanya punya seorang donatur tetap.
Itu pun dia yang menawarkan diri," kata Ratnawati.


Sumber:
Jumat, 18 Februari 2011 | 14:47 oleh Gloria Natalia
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/59310/Ratnawati-menggandeng-para-tunarungu-untuk-membuat-aneka-kerajinan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar