Sri Andiani (paling kanan berrjilbab) adalah pemenang penghargaan
Penulis Muda Indonesia 2009 yang diselenggarakan oleh Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Perwakilan UNICEF di Indonesia, serta
YKAI, di Bogor, Kamis (19/11) kemarin. Sri adalah siswa SMP Alam Insan
Mulia Surabaya.
*TERKAIT:*
* "Siluet", Pesan Gabrielle untuk Para Pemimpin Bangsa
<http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/20/11541133/.quot.Siluet.quot...Pesan.Gabrielle.untuk.Para.Pemimpin.Bangsa>
* Pelajar Surabaya dan Cirebon Sabet Penulis Muda Indonesia 2009
<http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/19/18293189/Pelajar.Surabaya.dan.Cirebon.Sabet.Penulis.Muda.Indonesia.2009.>
* Penulis Muda Belum Memperoleh Perhatian
<http://edukasi.kompas.com/read/2009/10/25/20515213/Penulis.Muda.Belum.Memperoleh.Perhatian.>
*KOMPAS.com* - /Tulisan ini adalah karangan Sri Andiani, pelajar SMP
Alam Insan Mulia Surabaya, yang memenangkan penghargaan Penulis Muda
Indonesia 2009 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Anak, Perwakilan UNICEF di Indonesia, serta YKAI. *(Redaksi)*/
SEKILAS, orang-orang yang melihat saya berfikir bahwa tidak ada yang
salah pada diri saya. Saya bisa berbicara dengan lancar, mendengar
dengan baik, fisik saya juga tidak ada yang cacat. Tapi, saya
sesungguhnya adalah seorang tuna rungu.
Percaya atau tidak, inilah saya. Saya seorang tuna rungu sejak lahir.
Saya didiagnosa tuli berat, yang kemampuan mendengarnya di atas 90 db
(desibel). Para dokter menyarankan Mama saya untuk mengajari bahasa
isyarat dan menyekolahkan saya di SLB. Namun, Mama justru melatih saya
untuk mendengar dan berbicara seperti orang normal lainnya, agar saya
bisa bersekolah di sekolah umum.
Menurut Mama, jika bersekolah di sekolah umum, peluang saya kelak untuk
bisa bekerja dan berbaur dengan masyarakat umum semakin luas. Mama
berharap, kelak saya bisa mendapatkan kesempatan untuk memberikan
sumbangsih saya pada masyarakat. Ya, sebagaimana warga negara lain yang
mandiri, berkarya, dan berprestasi di tengah-tengah masyarakat!
Bermodal alat bantu dengar dan semangat tinggi, Mama melatih saya
belajar mendengar dan berbicara. Ia mendampingi saya setiap saat, terus
melatih saya untuk mengembangkan bahasa verbal.
Kurang lebih di usia 3 tahun, saya dioperasi /cochlear implant,/ yaitu
operasi yang bertujuan menanamkan suatu alat atau disebut /implant /ke
dalam /cochlear /atau rumah siput. Tujuannya, agar saya bisa mendengar
lebih jelas.
Setelah dioperasi, Mama semakin intensif melatih saya mendengar,
berbicara, dan berkomunikasi secara verbal. Kerja keras Mama dan
semangat saya belajar akhirnya berbuah. Saya bisa berbicara dan
mendengar dengan baik, bahkan saya mulai belajar mendengarkan radio dan
berkomunikasi lewat telepon.
Selain belajar berbahasa verbal, Mama juga mengajarkan banyak
keterampilan pada saya. Saat duduk di bangku TK, saya sudah lancar
membaca dan menulis. Saya juga diajarkan berbagai kerajinan tangan dan
diikutkan kursus Matematika dan menggambar.
Saat saya duduk di TK A, Mama mulai mencari SD yang cocok dengan kondisi
saya. Mama sengaja mencari SD jauh-jauh hari, untuk mengantisipasi
sulitnya mencari SD yang mau menerima saya.
Dugaan mama terbukti. Keterampilan dan kepandaian saya ternyata tidak
cukup untuk membuat saya diterima. Pada awalnya, sebelum mereka tahu
bahwa saya seorang tuna rungu, mereka mau menerima saya setelah
dilakukan serangkaian wawancara singkat. Saya diberikan beberapa
pertanyaan sederhana sebelum akhirnya diputuskan untuk diterima.
Namun, setelah Mama memberitahu kondisi pendengaran saya, pihak sekolah
mulai ragu-ragu. Memang, ada beberapa sekolah yang secara
terang-terangan menolak. Tetapi, ada juga yang menyatakan keberatannya
secara halus.
Ada saja alasan sekolah-sekolah itu untuk mengatakan tidak pada saya.
Saya tidak boleh masuk sekolah umum, tetapi dianjurkan masuk SLB.
Pendeknya, saya dianggap tidak mampu dan hanya akan menjadi beban di
sekolah umum.
Kiranya, butuh waktu, tenaga dan usaha keras, sebelum akhirnya Mama
menemukan sekolah yang mau menerima saya dengan lapang dada. Mama
bilang, "Butuh waktu hampir 2 tahun untuk mencari SD yang mau menerimamu".
Ada saatnya, Mama hampir putus asa dan menyuruh saya menunjukkan
kebolehan saya. Saya disuruh mama membaca keras di depan mereka, disuruh
menerima telepon hanya sekadar untuk menunjukan, bahwa saya memang bisa
mendengar. Bahkan, ditanya beberapa kosa kata dalam Bahasa Inggris, dan
lain-lain. Tapi, toh, mereka tetap saja kukuh pada pendiriannya; tidak
menerima saya untuk bersekolah di sana.
Menjelang lulus TK B, Mama menerima kabar, ada sekolah yang tidak
mempersoalkan kondisi saya. Sekolah tersebut memberi kesempatan bahwa
siapapun yang lulus tes kepribadian dan kemandirian akan diterima
menjadi siswa.
Dengan penuh percaya diri, Mama mendaftarkan saya. Beberapa hari
kemudian, kami sekeluarga bersyukur setelah mendapat kabar bahwa saya
berhasil diterima. Ya, saya diberi kesempatan oleh sekolah itu.
Lalu, apa yang terjadi kemudian? Apakah saya mengalami kesulitan di
sana? Ya, saya akui, ketika di awal bersekolah, saya agak kesulitan
menyerap pelajaran dan dalam bersosialisasi dengan teman sebaya. Karena,
terkadang guru-gurunya terlalu cepat menerangkan suatu pelajaran.
Situasi kelas agak ribut, sehingga saya harus ekstra konsentrasi untuk
mendengarkan guru.
Teman-teman juga menganggap saya aneh. Itu karena melihat ada alat bantu
dengar di telinga kanan saya.
Seiring perjalanan waktu, akhirnya teman-teman saya mulai mengerti dan
mau menerima saya. Bahkan, mereka mau membantu apabila saya mengalami
kesulitan.
Hari ke hari, saya semakin menikmati sekolah saya. Saya berhasil meraih
beberapa prestasi di sekolah. Dalam pelajaran sains, saya selalu
mendapat nilai tertinggi, sampai akhirnya dijuluki "professor sains"
oleh teman-teman saya.
Saat duduk kelas 3 SD, saya mendapat beasiswa dari AG Bell Foundation
atas prestasi saya di sekolah umum. AG Bell Foundation memberikan
beasiswa bagi anak tuna rungu yang berhasil berprestasi di sekolah umum
dalam bidang akademis, olahraga, atau seni.
Selain itu, saya juga dipercaya menjadi perwakilan kelas dalam lomba Dai
Cilik antar Kelas. Lomba dakwah cilik yang diselenggarakan oleh sekolah
itu memberikan kepercayaan yang luar biasa pada saya, bahwa yang tuna
rungu ini mampu berpidato dan berdakwah di depan guru dan teman-teman
sekolahnya.
Saya juga sering meraih prestasi dan juara yang diselenggarakan oleh
sekolah dalam memperingati suatu momen atau perayaan seperti pada Hari
Kartini dan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Ya, saya berhasil meraih juara 1 dalam lomba menulis riwayat Nabi
Muhammad SAW, juara 2 dalam lomba menggambar wajah Ibu Kartini, dan
juara 3 dalam lomba menggambar kaligrafi. Kebetulan, saya memang senang
menulis puisi, sehingga jika sekolah saya kedatangan tamu, bersama
beberapa teman kami menampilkan kebolehan kami. Kerapkali, sayalah yang
membacakan puisi karangan saya atau diminta untuk menuliskan puisi untuk
ditampilkan.
Saya juga pernah ikut menyanyi bersama teman-teman ketika ada tamu yang
berkunjung. Di rumah, Bapak dan Mama terus memotivasi saya untuk
menggali potensi saya. Saya, yang memang senang menggambar sejak kecil,
diberi kesempatan oleh Mama untuk memajangnya di rumah atau di kantor Mama.
Mama dan Bapak punya sebuah yayasan yang mengajarkan anak tuna rungu
berbicara dan berbahasa verbal. Suatu saat, kantor Mama kedatangan tamu
dari Australia bernama Ms. Vikki dan kebetulan, saat itu saya sedang ada
di kantor Mama.
Saya berbincang-bincang dengan Ms.Vikki. Di akhir pembicaraan, Ms. Vikki
membeli lukisan saya dan memesan dua buah lukisan lagi untuk dibawanya
pulang ke Australia.
Rasanya, saya seperti sedang di atas awan! Sangat senang, hati saya
sangat senang. Ada orang yang membeli lukisan saya, dan menganggap bahwa
karya saya indah.
Ya, saya membuatkan lukisan lagi untuknya, yang gambarnya adalah
anak-anak sedang tersenyum bahagia dengan pelangi di atasnya. Ms. Vikki
juga senang menerima lukisan saya.
Di awal SMP, saya diberangkatkan bersama beberapa teman oleh sekolah
saya untuk menjadi wakil sekolah dalam olimpiade se-Surabaya dan
sekitarnya. Meskipun akhirnya saya tidak menang, tetapi pengalaman
tersebut sangat berkesan buat saya.
Belajar dari pengalaman, pada 1990 orang tua saya bersama orang tua lain
yang senasib sepenanggungan ini membentuk suatu komunitas. Tujuannya,
kami bisa saling membantu dan berbagi cerita tentang pengalamannya
bersama anak-anak yang tuna rungu.
Akhirnya, pada tahun 2004, komunitas ini mulai dilegalkan dengan nama
Yayasan Aurica. Tujuan yayasan ini, seperti yang sudah disebutkan di
atas, untuk mengajarkan anak tuna rungu berbicara, mendengar dan
berbahasa verbal, serta mendorong mereka untuk mampu bersosialisasi
dengan masyarakat luas, serta kelak mampu menjadi warga masyarakat yang
aktif memberikan kontribusinya bagi Negara.
Murid-murid yayasan itu berasal dari berbagai daerah di penjuru
Indonesia, terutama dari Indonesia bagian timur. Ada yang datang dari
Bali, Madura, Yogjakarta, Semarang, bahkan dari Kalimantan. Berbekal
harapan dan semangat, para orangtua yang tidak semuanya mampu itu datang
ke Aurica dan melatih anak-anak mereka agar kelak bisa bersekolah di
sekolah umum dan kemudian meraih mimpi-mimpi mereka.
Tentunya, usaha para orangtua itu tidaklah mudah. Dibutuhkan suatu
proses yang panjang dan sulit. Jadi, jangan menyangka bahwa anak yang
awalnya tuli itu tiba-tiba bisa menjadi seperti orang normal yang bisa
mendengar dan berbicara.
Ada waktu, ada usaha keras, ada semangat yang tidak boleh padam. Ada air
mata, ada tetesan peluh, serta doa-doa berkepanjangan yang menyertai
setiap usaha orangtua.
Hasil memang menyertai usaha yang dilakukan. Banyak anak-anak Aurica
yang kemudian mampu berbicara dan berbahasa dengan baik. Ada yang mampu
menyanyi dengan merdu, ada yang mampu bermain musik, ada juga yang
akhirnya menguasai 2 atau 3 bahasa sekaligus.
Namun ironisnya, kami para tuna rungu tetap saja menjadi kaum minoritas
yang hak-haknya tidak selalu mendapat perhatian. Mereka, anak-anak
tersebut tetap kesulitan mencari sekolah umum yang mau menerima mereka.
Untuk yang berkantong tebal tidak terlalu menjadi masalah, karena
sekolah-sekolah swasta masih banyak yang mau menerima asalkan mereka
bersedia membayar SPP dengan lebih mahal.
Terus terang, saya bisa menjadi seperti ini karena sekolah saya mau
memberi kesempatan pada saya untuk berkarya dan berprestasi. Tetapi,
berapa banyak sekolah yang mau memberi kesempatan seperti itu?
Tentu saja ada, tapi jumlah sekolah yang mau melakukan itu hanya
sedikit. Masih bisa dihitung dengan jari. Sementara itu, anak-anak yang
tidak beruntung tersebut sangatlah banyak, hingga tak bisa lagi dihitung
dengan jari.
Sekolah-sekolah umum biasanya selalu menolak anak-anak seperti saya dan
anak-anak yang cacat lain dengan berbagai alasan. Ada beberapa sekolah
umum yang mau menerima dengan mensyaratkan adanya guru pendamping, yang
biaya untuk membayarnya seringkali lebih mahal dari SPP-nya.
Ada pula beberapa sekolah yang meminta biaya SPP, uang gedung dan uang
ekstra yang jumlahnya 2 kali lipat dibanding teman-temannya yang normal.
Misalnya, normalnya harga SPP senilai Rp 500.000, tetapi karena si anak
ini cacat, maka orangtuanya harus membayar 2 kali lipatnya atau sebesar
Rp 1.000.000.
Jadi, memang hanya orang-orang yang berduit alias kaya saja yang bisa
bersekolah. Sementara itu, orang-orang yang standar hidupnya menengah,
apalagi yang rendah, itu tidak bisa bersekolah lantaran banyak sekolah
umum yang tidak mau menerima mereka.
Terpaksa, anak-anak itu bersekolah di sekolah umum yang kekurangan
murid, yang akhirnya terpaksa menerima. Padahal, tugas anak-anak itu
adalah sebagai penerus bangsa kita yang harus dibekali pendidikan dan
keterampilan sesuai dengan potensinya. Kalau anak-anak itu tidak
mendapatkan ilmu atau tidak diberi kesempatan untuk berprestasi,
bagaimana mereka bisa menggantikan generasi tua?
Ternyata, kami, anak-anak tuna rungu, jika diberi kesempatan juga mampu
mengembangkan potensi diri kami. Alangkah indahnya, seandainya
pemerintah memberi kami kesempatan seluas-luasnya untuk berkarya. Semoga
harapan kami tercapai, agar kami juga mampu mengharumkan bangsa dengan
tangan-tangan istimewa kami.
* Ada 12 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda *
*
SYIFA
Selasa, 24 November 2009 | 19:49 WIB
WAH... pengalamn.a sgat mengharukan smpai" mw nangis,,,, saya
orang normal sja tdak smua prestasi di dapat kpada sya,,, ketika
mmbaca pengalaman kmu sya ingin menjadi ank yang berprestasi kya
kmu,,, smuga kmu bsa menambah prestasi kmu lbih byak lgi ya!!! aq
dkung kmu, kmu dkung aq!! ^_^
*Balas tanggapan <#>*
*
angelcilik
Senin, 23 November 2009 | 08:30 WIB
waawh...LUAR BIASA!!!! bnr2 menggugah..sampe g tau mau bilang apa
lagi. saya sebagai orang normal, merasa tertohok. prestasi apa yg
udah aq peroleh jk dibandingkan dengan Sri ini...
*Balas tanggapan <#>*
*
Bismar Tampubolon
Senin, 23 November 2009 | 06:36 WIB
Pengalaman yang mengharukan menurut saya. hal ini menjadi cerminan
agar pemerintah semakin memperhatikan bagi mereka yang menderita
tuna rungu. mereka layak mendapatkan pendidikan. mereka juga
memiliki potensi. pemerintah harus mengembangkan karakter mereka
dan tanpamembunuh kreativitas mereka...Selamat berjuang..
*Balas tanggapan <#>*
*
kee
Jumat, 20 November 2009 | 17:06 WIB
salut bwt Sri Andiani, kedua orang tuanya dan teman-teman
senasib,..kadang manusia yg sehat fisiknya, malah lebih "tuli"
daripada saudara yg tuna runggu Semoga pemerintah perduli dengan
masa depan anak-anak penerus bangsa dan negara kita.
*Balas tanggapan <#>*
*
lina
Jumat, 20 November 2009 | 16:18 WIB
aspresiasi yang luar biasa buat sang mama, memang kedepan sudah
saatnya sistem pendidikan qt direformasi menjadi lebih bijak dan
merata..
*Balas tanggapan <#>*
Sumber:
http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/20/1005310/Betapa.Susahnya.Saya.Cari.Sekolah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar