Jumat, 16 April 2010

Pesan Gabrielle untuk Para Pemimpin Bangsa

KOMPAS/RATIH P SUDARSONO
Gabrielle Tatia (kedua dari kanan) adalah pemenang penghargaan Penulis
Muda Indonesia 2009 di Bogor, Kamis (19/11). Gabi adalah siswi SMA Santa
Maria Cirebon.
*TERKAIT:*

* Betapa Susahnya Saya Cari Sekolah

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/20/1005310/Betapa.Susahnya.Saya.Cari.Sekolah>
* Pelajar Surabaya dan Cirebon Sabet Penulis Muda Indonesia 2009

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/19/18293189/Pelajar.Surabaya.dan.Cirebon.Sabet.Penulis.Muda.Indonesia.2009.>
* Penulis Muda Belum Memperoleh Perhatian

<http://edukasi.kompas.com/read/2009/10/25/20515213/Penulis.Muda.Belum.Memperoleh.Perhatian.>

*JAKARTA, KOMPAS.com-* /Tulisan ini adalah karya Gabrielle Tatia, siswi
SMA Santa Maria Cirebon, yang memenangkan penghargaan Penulis Muda
Indonesia 2009 yang diselenggarakan oleh Kementerian Negara Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak, Perwakilan UNICEF di Indonesia, serta
YKAI. *(Redaksi)*/

PERJALANAN terasa sangat panjang bagi Panji Anggara, seorang calon
legislatif. Duduk termenung di dalam mobil, memandangi hijaunya
pepohonan serta indahnya pemandangan sawah. Sebuah spanduk besar
membentang; "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Bersama Panji
Anggara, kita raih gemilangnya masa depan".

Kini, Panji sedang menepati sebuah janji kepada sang istri, yang
memintanya mendatangi sebuah desa terpencil jika kelak terpilih menjadi
calon legislatif. Dan, perjalanan ini adalah dalam rangka menepati janji
tersebut.

Setelah hampir tujuh jam perjalanan, Panji beserta beberapa rekan dan
istrinya sampai ke sebuah desa yang terletak di pinggiran Kota Solo,
Jawa Tengah. Panji langsung terpana dengan keadaan sekelilingnya. "Ini
sangat jauh dari yang kau bayangkan Panji," jelas sang istri.

Panji hanya menghela napas panjang dan mencoba menerima yang sedang
terjadi. Tiba- tiba, seorang anak kecil datang ke arah rombongan Panji
dan memberi ucapan selamat datang. "Apakah anak ini kepala desanya?"
tanya Panji kebingungan.

Tentu saja, bukan. Karena dari kejauhan, tampak seorang pria separuh
baya berlari ke arah Panji, lalu segera menjabat tangannya.
"Perkenalkan, saya Joko, Kepala Desa Sukoharjo," kata pria itu.

"Saya Panji Anggara, ini istri saya Ayubi, dan ini rekan-rekan saya,"
jawab Panji.

Kemudian, Pak Joko beserta rombongan Panji berjalan menuju rumahnya.
Bagi Panji, inilah kali pertama ia melangkahkan kaki di pedesaan. Dan,
untuk kesekian kalinya ia kembali kebingungan akan pemandangan yang
dilihat di sekitar desa itu. Banyak sekali anak kecil yang bermain atau
hanya berdiri di depan pintu rumah.

"Pak, apakah di sini memang banyak anak kecil?" tanya Panji.

"Ya, banyak Pak, di sini hampir setengah penduduknya adalah anak kecil.
Makanya, tadi kita disambut anak kecil," sela Joko.

Setidaknya, hal itu menjelaskan sedikit dari pertanyaan dalam benak
Panji. Setelah beristirahat sejenak, Ayubi dan rekan-rekan Panji
berpamitan untuk kembali ke Ibu Kota. Hanya Panji yang akan menetap di
sini selama seminggu.

"Ji, kamu akan tahu jawaban bagaimana nantinya kamu akan menjalankan
pemerintahan di sini," ucap Ayubi, sebelum meninggalkan Panji.

*Hari ke hari*

Panji melepaskan kepergian istri dan rekan-rekanya dengan hati yang
gelisah. Penduduk di sini berjumlah 1.679 jiwa, terdiri dari 821
laki-laki dan 858 wanita. Setengahnya adalah anak-anak.

Raka, putra Pak Joko, mencoba menjelaskan. Panji kagum akan pengetahuan
Raka tentang desanya. Ia meminta Raka untuk menjadi asisten pribadinya,
yang akan menemani hari-harinya selama berada di desa itu.

Keesokan harinya, Panji terbangun oleh suara ayam berkokok. Ia bersiap
lagi menjalani hari keduanya di Desa Sukoharjo. Tampak Raka sudah
berdiri dengan tegapnya di depan kamar. Ia sudah siap menemani Panji,
menjelajahi kembali pedesaan ini.

Kebetulan, Raka sedang menjalani liburan sekolah. Ia bebas
berjalan-jalan, apalagi ayahnya pun sudah memercayai Panji.

Kemudian, keduanya melangkahkan kaki menyusuri pedesaan. Namun, belum
lama kaki keduanya melangkah, pandangan Panji terarah pada anak-anak
perempuan yang sedang melenggak-lenggok menari di sebuah pondok kecil.

"Kakak!" seru Raka, memanggil Seruni.

Ternyata, di antara anak-anak itu ada Seruni, kakak perempuan Raka.
Panji, yang baru menyadarinya, hanya bisa tersenyum menyapa Seruni.

"Tarian apa ini?" tanya Panji penasaran.

"Ini adalah /Tari Golek Tirto Kencono /yang berasal dari Surakarta.
Paman, kami ini sedang mencoba melestarikan kebudayaan Indonesia, supaya
tidak diakui Negara tetangga lagi," ucap Raka, menyela dengan polosnya.

Panji terhentak mendengar ucapan yang keluar dari anak yang baru berusia
7 tahun itu. Panji lalu memilih untuk tinggal sejenak di pondok tempat
berlatih tari itu. Ia mengagumi setiap gerakan dari tarian tersebut.

Sore harinya, Panji memilih untuk berada di rumah. Rupanya, ia masih
menyimpan perasaan tidak nyaman berada di pedesaan itu, tetapi entah apa
alasanya. Ia merenung seorang diri di pelataran rumah, sampai tiba-tiba
ponselnya berdering. Ternyata Rico, teman Panji yang menelpon.

"Halo Panji, lagi di mana, /lu/? Gue ada di Desa Sukoharjo. Dari pada
/lu /di situ, mendingan ikut /gue/, /have fun/. Mumpung lagi di Solo,
/gue /jemput, ya?" kata Rico.

"Jangan! Nggak usah, nggak apa-apa. /Lu/ tadi ada di desa mana?" tanya
Panji, sambil langsung menutup ponselnya.

*Sebuah jawaban*

Kini, Panji memikirkan keadaannya. Berada di kediaman sederhana, dengan
lingkungan sekitar yang jauh dari kata mewah. Jika ia masih memilih
untuk bertahan, semua itu ia lakukan untuk Ayubi.

Pagi hari datang lagi. Mentari telah menyambut Panji untuk yang ketiga
kalinya. Setelah sarapan, ia dan Raka kembali bersiap menjelajahi
pedesaan. Kali ini, yang menjadi pusat perhatian Panji adalah kehidupan
masyarakat sekitar yang ternyata dipenuhi oleh kekurangan.

Hati Panji sangat tersentuh ketika melihat seorang ibu yang sedang
menyusui bayinya. Bayi itu menangis, karena anak-anaknya yang lain
meminta makan. Namun, sang ibu mengatakan, mereka tak mempunyai beras
sama sekali.

Perlahan, Panji menghampiri ibu tersebut dan dan memberikan sejumlah
uang, sambil berkata, "Ibu, ini sedekah, mohon diterima, anggap ini
adalah rejeki dari Yang Maha Kuasa".

Ibu tersebut menerima uang dengan senyum yang memancarkan kebahagiaan.
Ia mengucapkan banyak terima kasih kepada Panji. Sebaliknya bagi Panji,
hari itu membuatnya tersadar akan kehidupan rakyat kecil.

Hari berlalu begitu cepat. Tak terasa, Panji telah melewati lima hari
berada di Desa Sukoharjo. Dan secara tiba-tiba, Raka meminta pertolongan
Panji untuk membetulkan saluran air di desanya.

Akhirnya, Panji pergi bersama Raka ke tempat yang dituju. Sesampainya di
sana, Panji langsung berbaur dengan penduduk yang sedang bergotong
royong memperbaiki saluran air. Di situ, Panji melihat arti kebersamaan
dan kerja sama dalam bergotong royong.

Dua jam berlalu, pekerjaan tersebut terselesaikan dengan baik. Panji,
yang lelah segera kembali ke rumah dan beristirahat, rupanya masih
mempertanyakan tujuannya di tempat ini dalam kegundahan hati dirasakannya.

Namun, ia mengingat ucapan sang istri, bahwa ia akan menemukan jawaban
untuk menjalankan pemerintahan di sini. Maka, Panji mencoba untuk
menemukan setiap jawaban itu.

Ketika berganti pakaian, Panji baru tersadar bahwa tidak terdapat dompet
di saku celananya. Namun, sebelum ia sempat melaporkan kejadian itu pada
pak Joko, terdenga suara ketukan pintu. Panji langsung membuka dan
melihat sesosok anak lelaki.

"Pak, saya menemukan dompet. Benarkah Bapak ini adalah Panji Anggara,
dan ini dompet Bapak?" tanya anak itu, sambil menyerahkan dompet tersebut.

"Ya, benar ini dompet saya," jawab Panji.

Panji menghembuskan napas lega. Panji lalu membuka dompet itu dan
memeriksa isinya. Ternyata, semuanya masih sangat lengkap.

Anak tersebut langsung pergi dari hadapan Panji. Dan serta-merta, Panji
memberhentikan langkahnya. "Siapa namamu, Nak?" tanya Panji.

"Saya Adi," jawab anak itu.

Panji langsung mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan memberikannya
pada Adi.

Adi ternyata menolak. Ya, walaupun sudah dipaksa oleh Panji sekalipun,
anak itu tetap menolaknya. Akhirnya, Panji hanya bisa mengucapkan terima
kasih.

"Tadi paman hampir saja kehilangan dompet, namun ada seorang anak yang
mengembalikan dompet ini. Kau, kenal Adi?" tanya Panji pada Raka.

"Ya, dia teman baikku, Paman. Dia memang sangat jujur, mungkin karena
cita-citanya ingin menjadi Presiden yang jujur dan adil," ujar Raka.

Melalui percakapan tadi, Panji menyadari sesuatu yang akan menjadi
jawaban akan pertanyaannya. Dia merenungkan setiap kejadian dari hari ke
hari dan semakin menemukan banyak pelajaran.

*Sebuah Hikmah*

Malam itu, adalah malam terakhir Panji berada di tengah penduduk Desa
Sukoharjo. Pak Joko mempersiapkan acara perpisahan untuknya, yaitu
dengan menggelar acara makan malam bersama seluruh penduduk desa.
Sepertinya, kebersamaan mereka sangat membekas di hati Panji.

Di akhir acara, Pak Joko memberikan kenang-kenangan berupa papan nama
yang berukirkan namanya. Mereka berharap, dengan benda itu Panji dapat
mengenang mereka.

Melihat itu, Panji sadar akan satu hal, bahwa mereka adalah orang-orang
yang tulus, memberi tanpa mengharap pamrih.

"Pak, saya ucapkan terima kasih banyak. Saya mendapatkan pelajaran
berharga dari sini," ucap Panji.

"Sama-sama, Nak Panji, saya juga senang akan keberadaan Nak Panji.
Terima kasih banyak telah membantu penduduk di sini," balas Pak Joko.

"Itu tidak seberapa Pak, dibandingkan hikmah yang bisa saya ambil dari
setiap kejadian di desa ini," balas Panji, lagi.

"Syukurlah kalau begitu. Saya dan keluarga hanya bisa berdoa untuk
keselamatan dan kesuksesan Nak Panji. Amin," kata Pak Joko.

"Seruni, Paman bangga denganmu. Tarianmu sangat indah. Paman janji,
suatu hari kamu akan menari di depan pejabat. Lanjutkan misimu untuk
melestarikan budaya Indonesia!" pesan Panji pada Seruni.

"Ya, paman, saya akan selalu berusaha yang terbaik untuk Indonesia,"
ujar Seruni.

Sebelum Panji pergi, ia masih menanti kedatangan Raka yang menghilang
entah kemana. Langkahnya terhenti ketika dari kejauhan terdengar
teriakan Raka memanggil Panji.

Bersama Adi, Raka berlari ke hadapan Panji. " Paman, ada yang ingin dia
sampaikan," kata Raka. "Baik, katakanlah, Nak!" kata Panji.

"Semoga Paman dapat memerintah Negara ini dengan baik. Kami berharap,
Paman bisa membuat Negara ini menjadi lebih baik," kata Adi.

"Apa yang menjadi tujuan Paman merupakan ketentuan nasib bagi bangsa
kita. Paman yakin, suatu hari nanti kamu akan duduk di kursi
pemerintahan dengan kerja keras dan ketulusan hati. Kau anak yang
hebat," kata Panji

Seketika, mata Panji berlinang air mata. "Paman, selamat jalan. Semoga
apa yang paman cita-citakan tercapai," ucap Raka.

"Raka, Paman kagum dengan sosokmu. Kau mengajarkanku banyak hal, terima
kasih atas segalanya. Dan, kalian semua, anak-anak di desa ini,
merupakan cermin manusia yang baik, tulus, jujur, dan rendah hati.
Semuanya menjadi pelajaran untuk Paman," ujar Panji.

Dua tahun kemudian, Panji telah duduk di kursi pemerintahan selama
hampir dua tahun lamanya. Tak ia pungkiri, terkadang cobaan datang untuk
membuat kecurangan dalam pemerintahan.

Namun, Panji selalu sadar, bahwa yang ia lakukan akan menentukan nasib
rakyat. Jika ia melihat papan nama di mejanya, ia akan selalu mengingat
Raka, Seruni, Adi, serta seluruh warga Desa Sukoharjo. Dan selama itu
pula, ia membangun Desa Sukoharjo.

Kini, keadaan desa tersebut sudah jauh berbeda berkat hasil kerja Panji.
Bahkan, bukan hanya Desa Sukoharjo, melainkan juga desa-desa lainnya di
Indonesia.

Panji pun telah menepati janjinya pada Seruni. Panji mengundang kelompok
tari anak tersebut untuk pentas pada berbagai acara kenegaraan.

Kiranya, semua memang akan kembali pada kesadaran diri masing-masing.
Seorang pejabat pemerintah, selayaknya melakukan segala sesuatu untuk
nasib kesejahteraan bangsanya. Karena segalanya adalah dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat.


* Ada 8 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda *

*

roesdan
Sabtu, 21 November 2009 | 10:45 WIB
Luar biasa. Sederhana tapi sangat menyentuh.
*Balas tanggapan <#>*
*

D.Marulloh H.Y
Jumat, 20 November 2009 | 13:45 WIB
cerita yang sangat nyentuh di hati..... semoga pejabat2 pemerintah
baca cerita ini dan sadar ...untuk selalu memikirkan rakyat kecil
aminn
*Balas tanggapan <#>*
*

puja
Jumat, 20 November 2009 | 13:19 WIB
cerita yang mengkisahkan sebuah cita-cita sekaligus menyindir
kondisi indonesia saat ini.. saya sangat menikmati cerita ini...
*Balas tanggapan <#>*
*

Witya
Jumat, 20 November 2009 | 13:05 WIB
mari dimulai dari kita dulu...dilingkungan sehari-hari...dan dalam
kegiatan sehari-hari
*Balas tanggapan <#>*
*

Watcher
Jumat, 20 November 2009 | 13:03 WIB
Cerita yg menarik. Seandainya semua pejabat bisa meniru Panji
pasti negara ini akan maju. Itu semua tergantung dr hati nurani yg
kuat dan dpt menolak cobaan2x. Diantara 10-15 orang paling2x hanya
ada 1 yg baik dan jujur.
*Balas tanggapan <#>*

Sumber:
http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/20/11541133/.quot.Siluet.quot...Pesan.Gabrielle.untuk.Para.Pemimpin.Bangsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar