Senin, 12 April 2010

Peristiwa Kematian Yesus

*A Sudiarja*

Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely, demikian
tulis Lord Acton dalam Letter to Bishop Mandell Creigh- ton (1887).
Raja-raja kecil berkuasa. Ketika kekuasaannya bertambah, muncul ambisi
ekspansi, menaklukkan yang lain. Pejabat kecil melakukan korupsi
kecil-kecilan, pejabat tinggi melakukan korupsi yang lebih besar.

Lahirlah diktator-diktator dunia yang tidak mau turun dari takhta karena
mengira tidak ada orang lain yang mampu menggantikan kedudukannya. Louis
XIV terkenal sebagai raja Perancis yang sewenang-wenang. Kata-katanya
yang keras, 'l'état c'est moi' sudah menjadi adagium yang lazim untuk
absolutisme monarki hingga sekarang. Adapun Louis XV, cucunya, yang
melanjutkan kekuasaannya, tak kalah kejinya dari sang kakek yang tega
menikmati kemewahan di atas penderitaan rakyatnya. Kata-katanya yang
terkenal, 'après moi le deluge' , menyiratkan ramalan munculnya Revolusi
Perancis pada tahun 1789, yang memporak-porandakan negara.

Tentu saja "power tends to corrupt, and absolute power corrupts
absolutely" menjadi problematis untuk teologi, yang meyakini Tuhan
sebagai mahakuasa. Apakah cara berpikir analogis dari Thomas Aquinas,
yang menyiratkan kesamaan kekuasaan Tuhan dan manusia di satu pihak,
tetapi menambahkan awalan 'maha' untuk memperlihatkan sifat superlatif
pada Tuhan bisa diterapkan di sini? Bukankah raja-raja Eropa pada zaman
dulu dianggap mengambil bagian dari pemerintahan Tuhan? Bukankah hal itu
menjadi legitimasi kekuasaan mereka dan menjadi alasan agar rakyat
tunduk kepada pemerintahan raja?

Zaman berubah, legitimasi berubah, dan kekuasaan Tuhan digantikan oleh
kekuasaan manusia 'belaka', teokrasi menjadi demokrasi. Apakah kekuasaan
Tuhan masih diakui di dunia? Lewat fenomen apa? Agama-agama pada zaman
dahulu masih menafsirkan musibah dan gejala alam yang dahsyat sebagai
tanda langsung kuasa Tuhan yang menghukum umat yang berdosa. Namun,
bayi-bayi tak bersalah yang ikut jadi korban menjadi alasan A Camus
untuk meledek pemuka agama yang berpendirian naif (La Peste, 1947).

Kuasa Tuhan di dunia tidak masuk akal, tidak bisa diterima. Bagi A Camus
hal itu berarti Tuhan tidak ada. Akan tetapi, John de Caputo dan banyak
filsuf maupun teolog posmodern lain mencoba memecahkan persoalan ini
secara berbeda.

Secara lugas, dengan menggunakan dekonstruksi Derrida, Caputo
menyatakan, Tuhan tidak berkuasa (cf The Weakness of God, 2006).
Pernyataan ini berbeda dari 'Tuhan tidak ada', bukan dalam hal isi
pernyataannya, melainkan cara memahami. Lebih lanjut Tuhan diterangkan—
andai kata bisa diterangkan—lebih sebagai 'peristiwa' daripada sesuatu
sosok pribadi berkuasa. Maka, ulasannya dia sebut sebagai sebuah
'Teologi Peristiwa' (a theology of the Event), suatu istilah yang tentu
saja tidak lazim.

*Kedudukan Tuhan*

Kedudukan Tuhan menurut cara berteologi ini berbeda jauh dari teologi
lazimnya. Teologi yang lazim berbicara tentang Tuhan, dengan nada
meyakinkan mengenai eksistensinya, keesaan atau kemahakuasaan-Nya, Tuhan
sebagai causa prima, asal- usul segala sesuatu, prinsip abadi dan tak
tergoyahkan, tak ada tandingannya, dan sebagainya. Semuanya serba
superlatif, luar biasa, kuat, dan kuasa. Begitulah cara membaca
peristiwa Tuhan dalam teologi yang kuat. Dalam 'Teologi Peristiwa'
Caputo memperlihatkan sisi-sisi lain dari Tuhan sebagai peristiwa.

Dengan nada berandai-andai, Caputo mempertanyakan: "(Bagaimana)
seandainya kita bayangkan Tuhan sebagai anak jalanan dengan badan dan
bau tertentu, ... andai kata pikiran kita tentang Tuhan tidak dijinakkan
oleh khotbah-khotbah hari Minggu oleh pastor... Malah kita bayangkan
...kita arahkan pikiran tentang Tuhan dari gambaran orang pinggiran yang
paling tak berkuasa dan termarjinalisasi, ... Andai kata Tuhan memasang
tendanya di antara mereka yang tak punya rumah sehingga Tuhan tidak
mempunyai tempat untuk membaringkan kepalanya?...dan sebagainya." (The
Weakness of God, halaman 33).

Tentu saja Caputo tidak bermaksud menjelaskan eksistensi Tuhan di sini,
melainkan peristiwa ketuhanan. Dengan pemahaman semacam itu, Caputo
menghindari penggambaran Tuhan secara ontoteologi, yang diwariskan
pemikiran logosentrisme. Salah satu lagu yang pernah dinyanyikan Joan
Osborne dan populer pada tahun 1995 berjudul One of Us. Liriknya seperti
mengingatkan kembali pada teologi lemah ini. "What if God was one of us?
Just a slob like one of us, Just a stranger on the bus, Trying to make
his way home...".

Teologi lemah membaca peristiwa ketuhanan dalam berbagai kemungkinan.
Pluralitas tafsir dari teologi ini merupakan salah satu ciri
kelemahannya karena tidak mempunyai ortodoksi. Dengan berandai-andai,
Caputo juga memperlihatkan kelemahan lain dari teologi yang tidak
berpijak pada realitas ontis (keberadaan). Tuhan tidak dipikirkan
adanya, ataupun dibuktikan, tetapi dirasakan peristiwanya.

Pada hari Jumat suci ini, orang-orang Kristen mengenangkan kematian
Yesus. Mereka memercayainya sebagai Tuhan, yang menjadi manusia dan
menderita sengsara. Peristiwa tersebut dapat dijelaskan baik oleh
teologi ortodoks yang kuat dengan argumentasi yang kompleks dan rujukan
Kitab Suci. Namun, barangkali bisa juga ditafsir atau dibaca dengan
teologi lemah yang tidak lazim. Maknanya tentu saja menjadi tergantung
pada masing-masing pembaca.

Dalam majalah Time, 29 Maret 2010, Desmond Tutu, Uskup Agung Afrika
Selatan, menjawab seorang penanya berkenaan dengan buku barunya, Made
for Goodness, apakah dia sungguh- sungguh optimistis seperti yang dia
tulis. Dia menjawab, "Saya tidak optimistis... tetapi saya penuh
harapan. Ini berbeda...". Bisa dibayangkan. Optimisme merupakan jargon
modern untuk memandang hasil ke depan berdasarkan kalkulasi dan
pertimbangan akurat, sementara harapan adalah sesuatu yang lain,
mengandalkan relasi dengan orang lain. Optimisme dipromosikan oleh
teologi kuat, harapan oleh teologi lemah. Harapan tidak berorientasi
pada mekanisme sukses dengan perhitungan masuk akal, melainkan dinamika
cinta dan kepercayaan.

Melihat kebobrokan dunia karena penyelewengan-penyelewengan para
penguasa, barangkali kita tidak optimistis. Kata- kata Lord Acton di
atas telah memperingatkan kita. Namun, seperti Desmond Tutu, barangkali
kita masih bisa berharap. Bagi orang-orang Kristen, harapan itu
ditaruhkan pada peristiwa penderitaan serta kematian Yesus di kayu
salib. Ia kelihatan sangat lemah menghadapi penguasa-penguasa agama
ataupun penguasa politik Romawi pada zamannya. Namun, dilihat dari sudut
teologi lemah, barangkali dia adalah Tuhan sebagai "one of us" yang bisa
memberi harapan.

*A Sudiarja */Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma/


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/01/03475163/peristiwa.kematian.yesus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar