Rabu, 14 Juli 2010

Cinta yang Menyehatkan

*JAKARTA, KOMPAS.com *— Cinta cenderung bermakna luar biasa bagi
seseorang. Luar biasa indah rasanya menurut mereka yang hidup dalam
pelukan cinta, tetapi dapat juga luar biasa menyakitkan bagi mereka yang
merasa dikhianati atau dikecewakan oleh cinta. Entah itu terhadap
orangtua, anak, lawan jenis (pasangan), dan lainnya, cinta memang luar
biasa.

Seorang guru besar Psikologi Klinis dari Fakultas Psikologi UGM yang
telah melanglang buana di berbagai penjuru dunia untuk mengajar, Prof
Yohana E Prawitasari, dalam sebuah semiloka psikologi mengungkapkan,
"Apa sih sebenarnya yang dibutuhkan oleh setiap orang? Pada dasarnya
dalam hidup ini yang diperlukan oleh setiap orang adalah cinta."

Ungkapan di atas mungkin terasa melankolis. Lho, kok, seorang profesor
psikologi menyatakan sesuatu yang tidak berbeda dengan para seniman? Ya,
memang tidak berbeda dengan para seniman. Secara empiris, psikologi
menemukan bahwa untuk dapat sehat secara mental, yang diperlukan
seseorang adalah cinta. Lebih dari itu, dengan transendensi, kita dapat
menemukan kebenaran universal bahwa memang kita ini hidup dari cinta,
hidup oleh cinta, dan juga untuk cinta.

Viktor Frankl, seorang psikiatris yang riwayat dan karyanya luar biasa
mengagumkan, dalam bukunya /Man's Search for Meaning/ berkata: "Suatu
pemikiran mengubah saya: Untuk pertama kali dalam hidup, saya menyadari
kebenaran dalam syair kebanyakan penyair, kebijaksanaan akhir para ahli
pikir. Kebenaran bahwa cinta adalah tujuan utama dan tertinggi yang
dapat dicapai manusia. Lalu, saya menangkap makna rahasia terbesar yang
melingkar dalam syair, dalam pikiran dan keyakinan manusia, yaitu
penyelamatan manusia diperoleh lewat cinta dan di dalam cinta."

Seorang psikolog lain, Meninger, menulis: "Cinta itu menyembuhkan. Cinta
menyembuhkan mereka yang memberikan cinta, dan juga mereka yang
menerimanya."

Berikut ini kita belajar mengenai cinta yang menyembuhkan, cinta yang
sehat, yang diungkapkan oleh para ahli psikologi pada masa lampau.

*Cinta tak bersyarat*
Dalam mencinta, yang terjadi adalah: cinta bersyarat atau cinta tak
bersyarat. "Tidak ada kemungkinan ketiga!" kata John Powell, konselor
dan penasihat spiritual.

Bila untuk mencintai kita memerlukan syarat, maka cinta itu bukan cinta
sejati. Cinta sejati adalah harus dan merupakan hadiah yang diberikan
secara cuma-cuma.

Kita benar-benar cinta bila orang yang kita cintai mendapatkan cinta
kita, bukan karena ia pantas menerima cinta kita. Disebut pantas karena
cantik, anggun, ganteng, baik hati, dan sebagainya. Kita sadar bahwa
orang yang kita cintai bukanlah orang yang terbaik, bukan orang yang
paling hebat, bukan yang paling cocok.

Namun, itu semua tidak menjadi persoalan. Yang penting adalah bahwa kita
telah memilih untuk memberikan kepada orang yang kita cintai berupa
cinta kita, dan juga telah memilih untuk mencintai kita. Dalam kondisi
inilah cinta dapat tumbuh dengan baik.

Erich Fromm, psikolog yang terkenal dengan bukunya,/ The Art of Loving/,
menulis tentang cinta tak bersyarat. Menurut Fromm, cinta tak bersyarat
berhubungan langsung dengan kerinduan yang paling dalam, bukan hanya
kerinduan pada anak, melainkan kepada setiap manusia.

Sebaliknya, orang yang dicintai karena alasan pantas atau dianggap
berhak menerima cinta selalu menimbulkan keraguan: mungkin saya tak
dapat membahagiakan orang yang saya inginkan dapat mencintai saya atau
mungkin selalu ada rasa cemas, jangan-jangan suatu waktu cinta akan lenyap.

Selain itu, cinta yang didapat karena alasan pantas menerimanya selalu
meninggalkan rasa getir dalam kesan bahwa orang dicintai bukan karena
dirinya, melainkan karena kemampuannya membuat orang lain senang. Ini
bukan cinta, melainkan manipulasi!

*Seperti binatang sirkus*
John Powell menegaskan bagaimana cinta tak bersyarat mendukung
perkembangan pribadi. Cinta yang banyak terjadi adalah cinta yang
membelenggu. Tanpa sadar, banyak orangtua memperlakukan anak seperti
binatang sirkus, yang dihukum atau diupah agar berperilaku persis
seperti yang diinginkan tuannya.

Demikian pula suami terhadap istri atau sebaliknya. Cinta seperti ini
berisiko menimbulkan luka batin dan bersifat merusak (destruktif).
Powell mengungkapkan sebagai berikut:

Kita telah lama menganggap bahwa koreksi, kritik, dan hukuman dapat
mendorong perkembangan dan pertumbuhan. Kita terbiasa membenarkan
cara-cara destruktif untuk menutupi ketidakbahagiaan dan
ketidaklengkapan kita. Contohnya, penelitian yang dilakukan akhir-akhir
ini mengungkapkan bahwa 80 persen narapidana di negeri ini menerima
perlakuan keras dan kejam ketika masa kecil.

Baru akhir-akhir inilah ilmu perilaku mengungkapkan bahwa cinta tak
bersyarat merupakan satu-satunya cara yang memungkinkan orang
mengembangkan kepribadian yang manusiawi.

Kehendak bebas merupakan salah satu faktor dalam hidup manusia. Setiap
orang harus menyatakan "ya" untuk pertumbuhan dan integritas pribadinya,
tetapi ada prasyarat: harus ada orang yang mendorong kita untuk percaya
pada diri sendiri dan menjadi diri sendiri. Ini hanya dapat dilakukan
oleh orang yang benar-benar mencintai kita.

Kalau kita bicara tentang cinta tak bersyarat, kita akan teringat
orangtua yang bersikap manipulatif. Ada orangtua yang hanya memberikan
kasih sayang dan penguatan kepada anak bila keinginannya terpenuhi: bila
nilai rapor bagus, patuh, dapat menimbulkan rasa bangga orangtua, dan
lainnya. Kita juga teringat bahwa banyak hubungan suami atau istri
seperti demikian.

Begitulah yang sering terjadi. Hubungan suami-istri atau orangtua-anak
tak lebih dari saling tukar: yang satu menjual, yang lain membayar;
bukan lagi cinta tak bersyarat.

Kita sering kali tidak menghiraukan cinta tak bersyarat yang mendasar.
Orang yang kita manipulasi kita beri hadiah tertentu karena telah
memenuhi keinginan kita. Kita meletakkan kepada mereka identitas pribadi
yang kita pilihkan. Kita letakkan mereka di sudut sempit dalam kehidupan
ini dengan hanya membolehkan mereka menjadi seperti yang kita inginkan.
Padahal, cinta tak bersyarat bersifat membebaskan. @

*M.M Nilam Widyarini M.Si
Kandidat Doktor Psikologi*

Sumber:
http://kesehatan.kompas.com/read/2010/07/14/1323066/Cinta.yang.Menyehatkan-8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar