Ibu selalu menyertaimu. Ibumu adalah bisikan daun-daun, ketika kau
mencari angin berjalan-jalan. Ia adalah aroma segar yang keluar dari
kaus kakimu yang putih tercuci bersih. Ibumu hidup dalam tawamu, dan
mengkristal dalam tetes air matamu.
Ibumu adalah tempat tinggalmu yang pertama. Dari sana kamu datang, dan
dia adalah terang yang menuntun setiap langkah hidupmu. Dialah cinta
pertamamu, takkan ada yang dapat memisahkanmu darinya. Waktu, jarak,
bahkan kematian takkan memisahkan kamu dari ibumu. Kamu akan membawa dia
di dalam dirimu selalu.
Begitulah kurang lebih isi sajak yang ditulis oleh Sherry Martin. Ibu
adalah hidup kita, dia akan menyertai kita ke mana-mana. Itu berlaku
untuk siapa saja. Tak terkecuali juga pemain bola. Bagi pemain bola,
ternyata ibu juga segala-galanya.
Ibu, dialah yang pertama kali ditelepon oleh Ramires (23), ketika dalam
pertandingan uji coba menjelang Piala Dunia 2010, Brasil menaklukkan
Tanzania 5-1. Tanzania memang bukan lawan yang sepadan bagi Brasil.
Namun, itu bukan soal. Yang penting, Ramires ingin membuat Yudith,
ibunya, bangga dan bahagia. Apalagi dalam pertandingan uji coba itu,
Ramires sendiri memborong dua gol. Oleh karena itu, ia segera membagikan
kebahagiaan kepada ibunya yang tinggal jauh di seberang sana.
Demikian juga halnya dengan Samuel Eto'o. Pada masa kecil Eto'o hidup di
perkampungan kumuh wilayah Douala, kota terbesar di Kamerun. Hidupnya
sangat miskin dan ibunya harus mati-matian mencari uang untuk menghidupi
keluarganya.
"Setiap kali saya mencetak gol, apalagi gol yang amat menentukan, saya
selalu memikirkan ibu saya. Gambar ibu selalu terbayang di mata saya.
Ketika saya mencetak gol, saya terkenang, bagaimana pada pagi-pagi buta,
ibu pergi meninggalkan rumah, untuk menjual ikan, agar ia bisa
menghidupi keluarga. Tanpa dia, tak ada saya sekarang," aku Eto'o kepada
penulis Christian Ewers yang mewawancarainya.
Eto'o bilang, setiap pertandingan adalah pertarungan. Ia tak ingin
mengalah. Ia ingin bertahan seperti ibunya, yang demikian tabah bekerja
di pasar, sampai mendapatkan uang untuk keluarganya. Jadi bagi Eto'o,
setiap gol yang ia peroleh bagaikan sekeping mata uang, yang dulu dicari
dengan susah payah oleh ibunya. Gol itu terasa sebagai pembebasan dari
belenggu kemiskinannya.
Cacau ternyata juga mempunyai pengalaman yang mirip dengan Eto'o. Cacau
asli Brasil, dilahirkan dari keluarga amat miskin di desa kecil, 40
kilometer dari Sao Paulo. Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Dan Cacau sendiri pernah menjadi pedagang asongan di jalan-jalan raya
Sao Paulo.
"Waktu saya mencetak ke gawang Australia, ibulah yang datang pertama
kali ke dalam pikiran saya. Lalu saya teringat akan kedua saudara saya
dan bersamaan dengan itu timbullah segala kenangan akan kemiskinan dan
penderitaan yang pernah saya lalui," kata Cacau.
Ia tak tahu, mengapa gol itu serasa sebagai sebuah kebahagiaan yang
dapat menutupi penderitaan yang dulu harus ditanggung oleh ibunya.
Kenangan akan kasih ibu semacam itu juga terjadi pada gelandang Inggris,
Frank Lampard. Menurut bibinya, Sandra Redknapp, Lampard sangat terpukul
ketika dua tahun lalu ibunya meninggal karena pneumonia. "Ia sangat
membutuhkan dukungan ibunya sehingga dalam Piala Dunia kali ini, ia
pasti merasa sangat kehilangan dukungan itu," tutur Sandra Redknapp,
yang merupakan istri Harry Redknapp—paman Lampard—pelatih Tottenham
Hotspurs.
Kata Sandra, Pat, ibu Lampard, selalu hadir setiap kali Lampard
bertanding sejak Lampard masih anak-anak. Pada Piala Dunia di Jerman,
empat tahun lalu, Pat juga datang menyaksikan pertandingan anaknya. "Pat
sangat bangga akan anaknya. Sekarang Pat sudah tiada, padahal Frank
selalu membutuhkannya. Jadi saya yakin, dalam Piala Dunia kali ini, Pat
juga datang dan menjaga Frank, serta berharap, Frank memperoleh hasil
yang terbaik," kata Sandra pada awal perhelatan Piala Dunia 2010.
Dan bagaimana dengan Arjen Robben? Setelah Bayern Muenchen keluar
sebagai juara Liga Jerman, lalu bersiap-siap menghadapi final Liga
Champions melawan Inter Milan, Robben pernah bilang demikian, "Andaikan
nanti saya bisa menikmati juara Liga Champions dan kemudian menjadi
juara di Piala Dunia 2010, tak ada lagi yang akan saya buat, kecuali
meninggalkan semuanya lalu pulang ke rumah ibu saya."
Bagi pemain bola, ibu ternyata adalah tempat, yang selalu mengajak
mereka pulang. Ibu adalah naungan, di mana mereka merasa aman dan
tenteram. Ibu juga selalu mengikuti mereka ketika mereka bersusah payah
merebut dan memainkan bola. Juga ketika ibu telah tiada, mereka tetap
percaya akan kehadirannya.
Ibu melebihi kemampuan dan kehebatan mereka. Kalau ibu mengawal mereka,
mereka merasa pasti bahwa mereka akan menemukan jalan menuju kemenangan.
Ibu, yang lemah lembut dan penuh kasih itu, adalah puisi di tengah
lapangan bola yang keras dan penuh pertarungan. Dan gol adalah
persembahan cinta yang ingin mereka haturkan kepada ibunya. /Mother, how
are you today/? Ibu, bagaimana kabarmu? Lagu ini ternyata adalah
kata-kata cinta, yang juga menjadi isi hati para pemain bola.
Sumber:
<a
href="http://bola.kompas.com/read/xml/2010/07/12/09144253/Ibu..Bagaimana.Kabarmu-12">bola.kompas.com</a>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar