"/What's in a name? That which we call a rose, By any other name would
smell as sweet/," kata tokoh Juliet dalam drama legendaris Romeo & Juliet.
Kurang lebih, kutipan itu mengatakan bahwa nama tak selalu penting,
karena sebuah mawar jikapun disebut dengan nama lain akan tetap sewangi
mawar.
Tapi kenyataannya, nama suatu produk bisa jadi penentu laris atau
tidaknya produk tersebut. Paling tidak, nama bisa jadi faktor yang
sangat besar dalam membujuk calon pengguna / pembeli.
*BlackBerry Bukan Sekadar Nama Buah *
Kisah yang cukup menarik dialami Research In Motion saat mau menentukan
nama untuk produknya yang akhirnya dikenal luas sebagai BlackBerry.
Awalnya, produk RIM itu tidak terlalu laris di pasaran. Sang pendiri,
Mike Lazaridis, konon curiga hal itu karena namanya yang kurang oke.
Nama produk itu adalah RIM 950 Inter@ctive Pager.
Bisa dibayangkan, tak semua orang akan cepat membaca kata 'interaktif'
yang huruf a-nya diganti simbol @. Nama tersebut juga terkesan berat dan
sulit, belum lagi panjang.
RIM ketika itu memutuskan memakai jasa perusahaan spesialis branding
bernama Lexicon. Perusahaan yang sama yang menemukan nama PowerBook
(Apple) dan Pentium (Intel).
Sebelum BlackBerry, Lexicon sempat bermain-main dengan ide nama LeapFrog
atau HipTop. Namun, melihat bentuk perangkat yang 'mirip buah', muncul
ide untuk menggunakan nama buah-buahan.
Tak sembarang buah, nama yang dipilih juga harus memberi kesan
'kecepatan' dan 'ketangguhan' saat diucapkan. Para ahli di Lexicon
menemukan bunyi huruf 'b' mewakili ketangguhan, sedangkan 'e' mewakili
kecepatan.
Maka lahirlah BlackBerry. Black mewakili 'b', yang keras dan tangguh.
Sedangkan Berry mewakili 'e' yang ringan dan cepat.
*Nama yang Meninggalkan Kesan *
Sejarah industri teknologi banyak diwarnai oleh nama-nama yang
mengagumkan. Asal-usulnya seringkali dibarengi filosofi yang cukup dalam.
* *Acer*, misalnya, adalah perusahaan Taiwan yang tadinya bernama
Multitech. Nama 'Acer' berasal dari kata latin yang artinya antara
lain adalah 'tajam'.
* *Apple*, konon merupakan buah favorit Steve Jobs. Nama itu dipilih
untuk membedakan dari pesaingnya kala itu, yang terkesan kaku dan
membosankan seperti IBM atau DEC.
* *Google*, adalah plesetan dari kata Googol yaitu bilangan 1 yang
diikuti seratus angka 0 (10^100 ). Nama yang mencerminkan ambisi
mengorganisir data dalam jumlah sangat besar
* *Oracle*, nama ini berakar pada mitologi klasik yang merujuk pada
orang bijak yang mampu 'melihat' masa depan. Nama perusahaan Oracle
berawal dari sebuah proyek bernama Oracle yang digarap pendirinya.
Ada juga nama yang awalnya merupakan singkatan atau akronim, tapi
kemudian berkembang jadi merek yang mudah diingat. Kemudian hari,
kata-kata penyusun singkatan itu mungkin jadi tidak penting lagi:
* *IBM*: International Business Machines
* *AMD*: Advance Micro Devices
* *Intel*: Integrated Electronics
* *Sega*: Service Games
* *Qualcomm*: Quality Communication
Nama yang juga cukup umum adalah yang berasal atau mengandung nama
pendirinya:
* *HP *alias Hewlett-Packard dari Bill Hewlett dan David Packard
* *Dell *dari Michael Dell
* *Debian *dari Ian Murdock (pencetus) dan pacarnya yang bernama Debra
* *Linux *dari Linus Torvalds (pencetus)
* *Garmin *dari Gary Burrell dan Dr Min Kao
Beberapa nama bahkan berasal dari lokasi.
* *Nokia*, dari sebuah kota bernama Nokia di Finlandia
* *Cisco*, dari kota San Francisco
* *Texas Instruments*, dari nama negara bagian Texas
*Namamu Harimaumu *
Tentunya adalah hal yang berbeda antara membuat nama perusahaan dengan
nama produk. Kadang sebuah nama perusahaan yang awalnya 'tak enak' bisa
diselamatkan bila berhasil membuat produk yang nempel di telinga masyarakat.
Tak jarang juga sebuah perusahaan mengadopsi nama produk unggulannya,
seperti yang dilakukan oleh Oracle atau Motorola.
Sebelum sebuah produk dikenalkan ke publik, di internal perusahaan
biasanya produk itu memiliki julukan atau sebutan. Istilah yang dikenal
dengan nama sandi, codename atau project name ini kerap melekat pada
produk hingga sampai ke pasaran.
Jajaran handset BlackBerry, misalnya, sering diingat dengan nama
sandinya daripada nama resminya. Nama-nama seperti Gemini atau Onyx bisa
jadi contoh.
Intel juga punya tradisi mengenalkan nama sandi produk sebelum nama
resminya dikeluarkan. Ini berakibat pada lebih diingatnya istilah Sandy
Bridge, Oaktrail, Nehalem atau Conroe.
Di pertengahan Juli 2011, Dell pun membuat heboh publik di Indonesia,
terutama di Jakarta dan sekitarnya, saat rancangan salah satu tablet
mereka bocor. Nama sandi tablet ini adalah Dell Peju.
Nama tersebut bisa disalahartikan dengan sebuah istilah yang berakar
dari bahasa daerah. Tak perlu disebutkan di sini apa yang dimaksud.
(Untuk interpretasi humoris yang cukup mengena, lihat karya teman-teman
kreatif di *MalesBanget.com <http://mlsbgt.de/nTvvOL>*. )
Akankah produk ini hadir di pasaran dengan nama tersebut? Bisa ya, bisa
tidak. Jika akhirnya digunakan, tentunya akan butuh energi ekstra dari
pihak /marketing communication/ Dell untuk bisa menjauhkan padanan
negatif itu dari produknya.
Kalau berhasil, bukan tidak mungkin nama produk itu justru akan melekat
(/eh/!) di benak penggunanya. /Toh/, sampai berapa lama /sih joke /soal
nama itu akan bertahan di masyarakat?
Sumber:
Wicak Hidayat telah menulis seputar teknologi informasi di kanal
teknologi detikcom, detikINET.com, sejak 2003. Ia juga telah menyusun
beberapa judul buku dengan tema teknologi. Penggemar game bertubuh
gempal ini sekarang dipercaya sebagai Managing Editor detikINET.com.
Blog-nya ada di wicakhidayat.blogdetik.com, sedangkan account
Twitter-nya adalah @wicakhidayat
http://www.detikinet.com/read/2011/07/13/144702/1680561/1206/nama-gadgetmu-harimau-penjualanmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar