Uang, kekuasaan, dan wanita (juga pria), menjadi kelemahan manusia.
Manusia semakin terlemahkan ketika gaya hidup menjadi fokus dalam
hidupnya. Kelemahan yang manusiawi ini membuat seseorang semakin
terpuruk dalam hidupnya saat karakter dan integritas tak lagi dijaga.
Inilah yang terjadi pada tersangka kasus dugaan pembobolan dana nasabah
Citibank, Melinda Dee (47), maupun dugaan penipuan yang dilakukan Selly
Yustiawati (25).
"Seseorang bisa mencapai puncak dengan kharisma, /skill/, dan
pengetahuan. Namun seseorang hanya bisa bertahan di puncak kesuksesan
karena memiliki karakter dan integritas," jelas /motivator/ termuda di
Asia, Bong Chandra, kepada /Kompas Female/.
Peristiwa dan tindakan kriminal yang dilakukan Melinda dan Selly,
menunjukkan bagaimana kelemahan manusia membawa kedua perempuan ini
terjerat dalam kasus hukum, sekaligus mencoreng reputasinya. Menurut
Bong, individu yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu
cenderung tipikal orang yang senang dengan jalan pintas. Padahal jalan
pintas berisiko tinggi, dan sesuatu yang didapatkan cepat maka akan
cepat juga lenyapnya.
"Cepat di sini bukan ukuran waktu, berapa lama mendapatkan, tetapi lebih
kepada cepat dalam mendapatkan sesuatu tersebut," jelas Bong.
Meskipun memahami bahwa jalan pintas berisiko, menurutnya, seseorang
masih saja menjalaninya karena memang uang, kekuasaan, dan wanita (pria)
bisa melemahkan seseorang. Jalan pintas kerapkali dipilih mencapai
"sukses", karena fokus individu lebih kepada pemenuhan gaya hidup bukan
kepada upaya menjadikan dirinya sejahtera dan bahagia.
"Fokus orang yang menghalalkan segala cara lebih kepada /lifestyle/,
bukan /wealth/," lanjutnya.
Lebih jauh Bong menjelaskan, seseorang yang fokus pada gaya hidup,
cenderung terjebak kesenangan. Sementara, milyuner sejati justru
memiliki gaya hidup yang tak berlebihan. Ia lalu berkisah bagaimana
penulis buku /The Millionaire Next Door/ mewawancara 300 milyuner di
Amerika untuk bukunya. Hasilnya, ditemukan bahwa orang kaya suka menawar
harga, membeli barang diskon, membeli mobil bekas atau mobil Jepang atau
Korea yang lebih murah daripada mobil Eropa.
"Hasil wawancara ini menampar paradigma yang ada, bahwa orang kaya punya
gaya hidup yang tidak bagus. Sementara, mereka yang fokus pada gaya
hidup, terlihat kaya namun berutang, korupsi, dan memiliki utang kartu
kredit. Sebaliknya, orang kaya memiliki gaya biasa saja namun memiliki
banyak properti dan berbagai bisnis," jelas Bong.
Kasus yang terjadi pada Melinda dan Selly, kata Bong, menjadi
pembelajaran bagi semua orang yang punya kelemahan yang sama. Karenanya,
tugas anak muda di antaranya belajar menunda kesenangan dan jangan
terjebak di dalamnya, tegas Bong.
"Kejarlah penderitaan sementara dan tunda kesenangan. Kita harus fokus
dengan hasil akhir sambil menikmati proses, tetapi jangan fokus pada
proses. Misalnya, tak harus mengganti motor ke mobil, tak apa menderita
sementara, asalkan cicilan properti terbayarkan. Berhemat dua tahun,
misalnya, dengan masih berkendara motor tetapi di sisi lain properti
terbayarkan," Bong menyontohkan.
Agar menikmati proses, sesulit apapun kondisinya, seseorang perlu
melihat proses tersebut sebagai cara bertumbuh sebagai manusia.
"Saat Anda merasa tak nyaman dengan suatu kondisi, itulah saatnya Anda
bertumbuh sebagai manusia. Ketidaknyamanan sama dengan pertumbuhan. Ini
caranya menikmati proses. Sementara kenyamanan membuat seseorang tidak
bertumbuh. Korupsi membuat sebagian orang nyaman namun ia tidak
bertumbuh," tandasnya.
Sumber:
http://female.kompas.com/read/2011/04/05/09562554/Ketika.Melinda.dan.Selly.Memilih.Jalan.Pintas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar