Kamis, 10 Maret 2011

Mengapa Artis "Pake" Sabu?

Drummer band Padi Yoyo dan Iyut Bing Slamet tertangkap tangan sedang
menggunakan sabu sehingga terkena garap petugas. Berita artis terjerat
narkoba kembali muncul di permukaan.

Fenomena pemakaian narkoba jenis sabu memang bukan hal baru di kalangan
artis. Alasan memilih narkotika jenis ini mungkin dapat sedikit saya
bagi untuk pembaca sekalian.

*Euforia dan "Ectasy"*

Sabu murni berbentuk kristal putih. Merupakan golongan obat stimulan
jenis Metamphetamine yang satu derivat turunan dengan Amphetamine yang
terkandung dalam pil ekstasi. Banyak orang menggunakan zat ini untuk
mendapatkan efek psikologis .

Efek yang paling diinginkan adalah perasaan euforia sampai /ectasy/
(senang yang sangat berlebihan). Obat ini juga menimbulkan efek
meningkatnya kepercayaan diri, harga diri dan peningkatan libido.
Pemakai sabu bisa tampil penuh percaya diri tanpa ada perasaan malu
sedikit pun dan menjadi orang yang berbeda kepribadian dari sebelumnya.

Salah satu yang mungkin menarik banyak orang untuk memakai zat ini
adalah pemakaian zat ini tidak dibarengi dengan efek sedasi atau
menurunnya kesadaran akibat zat tersebut. Tidak seperti pemakai heroin
atau ganja, pemakai sabu dapat membuat dirinya untuk tetap membuat
terjaga dan konsentrasi.

Selain efek yang menyenangkan di atas, sebenarnya sabu juga membuat
timbulnya gejala-gejala psikosomatik, paranoid, halusinasi dan
agresivitas. Kelebihan pemakaian obat ini akan membuat orang menjadii
mudah tersinggung dan berani berbuat sesuatu yang mengambil risiko.

Jika melihat efeknya yang menyenangkan di atas, terutama berkaitan
dengan percaya diri tampil dan peningkatan keberanian, tidak heran
banyak artis yang senang menggunakannya. Dengan alasan ingin menambah
proses kreatif, maka sabu pun terkadang digunakan.

Satu lagi alasan adalah memakai sabu membuat orang tidak ingin makan.
Tidak heran, jaman dulu obat golongan ini juga banyak digunakan untuk
melakukan diet walaupun saat ini sudah ditinggalkan karena efek
ketergantungan dan kerusakan otaknya.

*Efek terhadap fisik*

Pemakaian sabu apalagi yang berlebihan menyimpan potensi bahaya besar
untuk kesehatan fisik. Efek stimulan pada obat ini menyebabkan kerja
jantung dan pembuluh darah tubuh menjadi berlebihan. Peningkatan tekanan
darah baik sistolik dan diastolik sangat nyata pada penggunaan sabu. Hal
ini akan dibarengi tentunya dengan denyut jantung yang kencang. Tidak
heran jika jenis narkotika ini akan membawa dampak sangat berbahaya bagi
penderita hipertensi atau darah tinggi.

Selain itu, sabu bisa menimbulkan efek kejang sampai perdarahan otak.
Saya sendiri pernah secara langsung melihat di unit gawat darurat pasien
wanita yang mengalami kejang dan perdarahan otak akibat penggunaan
shabu-shabu yang berlebihan. Pasien akhirnya meninggal karena perdarahan
otaknya.

Seringkali juga didapatkan efek peningkatan suhu tubuh yang tinggi
sehingga menyebabkan demam luar biasa pada penggunanya. Peningkatan suhu
tubuh yang berlebihan sangat berbahaya karena juga sangat mempengaruhi
otak dan dapat menimbulkan kejang.

*Ketergantungan*

Adalah pendapat yang sangat salah jika mengatakan pemakaian sabu tidak
membuat pemakaianya ketergantungan. Pendapat yang salah tersebut mungkin
karena didasari pengalaman para pemakai yang tidak merasakan efek putus
zat setelah pemakaian yang hanya sesekali saja. Pemakaian narkotika
jenis sabu kebanyakan pada saat pesta atau /clubbing/ yang biasanya pada
akhir pekan. Namun jangan salah, penggunaan sesekali ini pun bisa
menimbulkan kerusakan otak yang mengarah kepada pemakaian yang terus
menerus dengan dosis yang semakin tinggi.

Pemakaian sabu secara terus menerus pada akhirnya akan menimbulkan efek
putus zat jika si orang tersebut sudah tidak memakai lagi. Apa yang
terjadi jika si orang tersebut tidak memakai lagi adalah efek kebalikan
dari efek psikologis yang tadinya didapatkan. Perasaan lelah berlebihan,
kecemasan yang luar biasa, tidak merasa percaya diri dan terkadang ide
paranoid yang muncul sampai gejala psikosis alias sakit jiwa berat.

*Berhenti Sekarang Juga*

Sebagai psikiater yang berfokus di bidang psikosomatik. Saya banyak
mendapati pasien-pasien yang mempunyai riwayat pemakaian zat sabu di
masa lalu. Walaupun sudah lama tidak memakai lagi, banyak pasien yang
masih merasakan gejala sisa akibat tidak memakai lagi.

Kebanyakan dari mereka merasa sulit merasakan kebahagiaan lagi selain
gejala-gejala psikosomatik yang menetap. Hal ini disebabkan karena
pemakaian shabu-shabu yang lama akan merusak sistem serotonin dan
dopamin di otak yang bertanggung jawab terhadap hal ini.

Penanggulangan pasien dengan kondisi seperti ini memerlukan waktu yang
lebih panjang daripada kondisi psikosomatik yang tidak terdapat riwayat
pemakaian zat sebelumnya. Maka dari itu, saya berharap bagi yang masih
menggunakan shabu-shabu atau zat stimulan lain seperti ekstasi untuk
mulai sadar dan berhenti menggunakannya karena efek yang bukan hanya
sementara tapi juga jangka panjang terhadap otak anda. Tidak ingin kan
merasa sulit bahagia sepanjang hidup anda?


Sumber:
* Dr. Andri SpKj, <http://www.kompasiana.com/psikosomatik_andri>*/
Psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri
Liaison. Penanggung Jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera,
Tangerang./
Editor: Asep Candra
http://health.kompas.com/index.php/read/2011/03/10/13401362/Mengapa.Artis.Pake.Sabu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar