Selasa, 08 Maret 2011

Ingat Lagi Minyak Nabati

Ada yang bilang bangsa Indonesia adalah bangsa pelupa. Tuduhan lain,
bangsa ini tidak pernah serius. Bekerja hanya setengah-setengah, tidak
pernah bekerja tuntas. Baru mau bekerja setelah muncul persoalan; saat
sebuah masalah sudah telanjur akut. Bak pemadam kebakaran.

Tudingan ini benar adanya, sedikitnya terlihat dari program bahan bakar
nabati yang dicanangkan pemerintah sejak Januari 2006. Kebijakan ini
sudah tepat. Bahan bakar minyak dari fosil yang banyak dipakai saat ini
semakin mahal dan sebentar lagi habis.

Bahan bakar nabati yang berbasis tumbuhan jelas bisa terus diperbarui.
Dan, Indonesia berpotensi untuk itu. Pemerintah lewat Menteri
Koordinator Perekonomian bahkan sudah menetapkan Tim Koordinasi dan
Pemanfaatan Energi Alternatif.

Tidak hanya itu, PT Pertamina (Persero) juga sudah mulai memasarkan
produk bahan bakar nabati (biofuel) sedikitnya di empat stasiun
pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta dan Surabaya. Bahan bakar
nabati ini berasal dari minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Minyak nabati dari CPO sangat tepat, di mana Indonesia kini menghasilkan
21,2 juta ton per tahun. Indonesia adalah penghasil CPO terbesar di
dunia dengan potensi produksi mencapai lebih dari 30 juta ton.

Produktivitas dari 7,9 juta hektar perkebunan kelapa sawit masih belum
dipacu optimal. Penghasilan CPO per hektarnya masih di bawah 3 ton CPO
per tahun. Padahal, produktivitas lahan di Malaysia sudah di atas 4 ton
per hektar per tahun.

Dari data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia diketahui,
kontribusi minyak nabati dunia dari kelapa sawit mencapai 32,2 persen
dari total produksi minyak nabati dunia yang mencapai 148 juta ton.
Konsumsi minyak nabati dunia sudah 149,5 juta ton.

CPO sejauh ini sudah punya pasar di dunia internasional. Karena itu,
pasokan untuk bahan bakar nabati sangat rendah, terutama saat harga
sawit lagi menarik seperti sekarang ini. Sekitar 1.000-1200 dollar AS
per ton.

Pemerintah juga mengembangkan bahan bakar nabati dari jarak pagar
(Jatropha curcas). Jarak pagar ini juga sudah sukses dicoba pada mesin
diesel. Di sisi lain, jarak pagar ini cocok tumbuh di daerah yang
relatif kering sebagaimana di Indonesia Timur. Bisa menjadi pilihan bagi
pengembangan kehidupan sosial ekonomi masyarakat di sana.

Di saat harga minyak mentah dari fosil meningkat tajam sebagaimana
mencapai 146 dollar AS per barrel pada Juli 2008, pengembangan minyak
jarak untuk mesin diesel ini pun diingat. Pemerintah mengampanyekannya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ikut meresmikan pabriknya.

Bahan bakar nabati termasuk dari minyak jarak kini didengungkan. Soalnya
harga bahan bakar minyak mencapai 115 dollar AS per barrel. Krisis
keamanan di Iran yang hendak diserbu AS tahun 2008 membuat harga minyak
melompat tinggi. Kini krisis politik di Libya dan Timur Tengah membuat
harga minyak mentah kembali menggila.

Semestinya, pemerintah tidak menjadi bagian dari tudingan pelupa, tidak
serius, setengah-setengah yang ditudingkan bagi bangsa ini. Artinya,
kampanye mengembangkan bahan bakar nabati untuk mesin diesel di negeri
ini tidak hanya habis pada surat keputusan presiden atau menteri.

Yang terjadi, pemerintah hanya memberikan insentif Rp 2.000 per liter
untuk produksi bahan bakar nabati, baik itu minyak jarak maupun berbasis
CPO. Tidak menarik. Padahal, pemerintah rela mengeluarkan triliunan
rupiah untuk subsidi bahan bakar minyak yang sebentar lagi habis.
Mengapa tidak serius soal minyak nabati sejak kini. Lupa. (ppg)


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/08/0613422/ingat.lagi.minyak.nabati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar