Kamis, 27 Januari 2011

Jangan Pragmatis Jika Ingin Sukses Berwirausaha

Jangan Pragmatis Jika Ingin Sukses Berwirausaha


*KOMPAS.com* - Semangat /entrepreneurship/ perlu ditanamkan dalam diri
anak muda sejak dini, baik melalui sistem pendidikan, maupun pola asuh
di rumah. Anak muda perlu ditularkan cara berpikir yang tidak pragmatis.
Orangtua juga perlu membiasakan anak-anak untuk berpikir /out of the
box/. Salah satunya dengan tidak menggiring pola pikir anak, bahwa
begitu lulus sekolah anak harus mencari kerja, menjadi karyawan, dan
bekerja mengumpulkan uang atau aset lainnya. Perubahan /mindset/ adalah
mutlak, jika menginginkan kehidupan yang lebih sejahtera, bukan hanya
untuk diri sendiri namun juga bagi banyak orang.

Tri Mumpuni Wiyatno (46), Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi
Kerakyatan (Ibeka) Subang, mengatakan dari total populasi orang
Indonesia, 2,50 persennya adalah orang yang mampu namun pragmatis.

"Bekerja mengabdi pada kapitalis, memiliki rumah bagus, istri cantik,
sah saja, tetapi pragmatis," kata Mumpuni, dalam diskusi mengenai
lingkungan dan kewirausahaan bersama sejumlah mahasiswa di @america
(pusat informasi dan budaya Amerika Serikat) di Mal Pacific Place,
Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Mumpuni, banyak celah dan potensi bisnis berbasis masyarakat
yang bisa digali oleh anak muda. Mumpuni menyatakan pengharapannya
kepada generasi muda untuk membangun /entrepeneurship/ sosial yang
memberikan manfaat bagi banyak orang. Baginya, tak mudah mengubah
paradigma dan juga cara pandang generasi tua untuk menggali potensi
/entrepreneurship/ sosial ini. Di tangan anak muda, /entrepreneurship/
sosial yang lebih mencari manfaat daripada profit bisa lebih berkembang.
Inovasi bisnis sosial yang dijalankan Mumpuni dengan suaminya, Ir
Iskandar Budisaroso Kuntoadji, menjadi contoh sukses.

Mumpuni dan suami serta tim Ibeka membangun fasilitas listrik tenaga air
(mikrohidro) di Desa Cinta Mekar, Subang. Melalui bisnis berbasis
masyarakat ini, Mumpuni tak hanya berhasil memberikan pasokan listrik
desa secara mandiri. Namun, upayanya ini juga membuat desa dengan 445
kepala keluarga ini mampu meningkatkan kesejahteraannya.

"Setelah beroperasi satu tahun, desa punya tabungan senilai Rp 50 juta.
Desa punya pendapatan karena membangun pembangkit listrik yang dijual ke
Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dari pendapatan ini, desa bisa
meminjamkan modal usaha mulai Rp 500.000 hingga Rp 2 juta kepada
masyarakat, memberikan biaya pendidikan dan kesehatan," jelas ibu dua
anak yang dinobatkan World Wildlife Fund for Nature (WWF) sebagai
Climate Hero pada 2005 lalu, karena usahanya melistriki puluhan desa di
seluruh Indonesia.

/Entrepreneurship/ sosial memberikan manfaat yang jauh lebih besar.
Selain itu juga mengajarkan, bahwa hidup lebih bermakna dan bermanfaat
dengan berbagi. "Paradigma bisnis harus diubah. Dari bisnis komersial
yang memaksimalkan profit menjadi bisnis sosial yang memaksimalkan
manfaat," jelasnya.

Mengambil contoh dari bisnis sosial yang digelutinya sejak 18 tahun
lalu, Mumpuni mengajak generasi muda untuk tidak menjadi bagian dari
golongan yang berpikir pragmatis. Tidak juga menjadi bagian orang mampu,
namun miskin moral yang jumlahnya mencapai 45 juta di seluruh Indonesia.
Apalagi menjadi bagian dari golongan tidak mampu dan miskin yang
jumlahnya 185 juta. Mumpuni mengajak generasi muda menggali berbagai
potensi bisnis sosial, dan menjadi bagian dari kurang dari satu juta
orang yang mampu, dan mau berbagi dengan orang lain.

"Banyak orang yang mampu namun miskin moral. Mereka egois, serakah, dan
rakus. Mengejar rejeki adalah kesalahan. Yang betul adalah menata diri,
berbuat baik, dan berbagi. Lalu yakin, bahwa Tuhan memberikan jaminan
berupa rezeki," jelasnya penuh semangat.


Sumber:
Editor: Dini
http://female.kompas.com/read/xml/2011/01/27/17171790/Jangan.Pragmatis.Jika.Ingin.Sukses.Berwirausaha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar