Selasa, 21 September 2010

Oracle vs Google: Kekayaan Intelektual atau Kekuasaan?

*Penulis: Ahmad Saiful Muhajir* - detikinet

*Jakarta* - Pertengahan Agustus lalu, tiba-tiba terjadi keributan di
dunia Open Source. Dan lagi-lagi, ini soal lisensi. Masalah ini
terbilang cukup besar karena digelontorkan oleh pemain besar, Oracle.
Ya, Oracle menuntut Google atas Android.

Gambaran globalnya adalah Oracle menuntut Google karena dituduh telah
melanggar hak atas kekayaan intelektual milik Java. Java adalah platform
dengan hak paten yang sebelumnya dipegang oleh Sun Microsystems. Karena
Sun Microsystems telah diakuisisi oleh Oracle pada Januari lalu, maka
sekarang Java menjadi hak milik dan tanggung jawab Oracle.

Nah, dalam tuntutan Oracle yang disampaikan juru bicaranya Karen
Tillman, Oracle menuding bahwa dalam pengembangan Android, Google telah
secara langsung dan berulang kali melakukan pelanggaran hak atas
kekayaan intelektual. Pelanggaran yang dimaksud adalah Google
disebut-sebut telah ?mencuri? ide dan kode dari Java untuk digunakan
dalam Android yang sekarang sedang menjadi tren di pasar telepon pintar.

Ada enam paten yang digunakan oleh Oracle untuk menuntut Google, yaitu
(1) proteksi domain dan akses control, (2) metode dan alat untuk proses
dan packaging, (3) model proses dalam runtime, (4) referensi data dan
kode, (5) fungsi dan cara pemanfaatan mesin, dan terakhir adalah (6)
metode inisialisasi.

Pertanyaan yang muncul adalah ada apa sih sebenarnya? Mengapa Oracle
?tiba-tiba? menuntut Google ke pengadilan?

Jika ditilik, memang tidak ada yang baru dari kasus ini. James Gosling,
bapak pembuat Java ini mengatakan ?tidak ada yang mengejutkan? ketika
dimintai tanggapan tentang kasus ini.
*
Awalnya*

Ini semua berawal saat Sun menjadikan Java sebagai open source pada
tahun 2006 lalu untuk mengembangkan sayap dan membesarkan Java. Sejak
saat itu, Java dikembangkan oleh para developer dan teknologi Java
digunakan di berbagai perusahaan hingga pusat-pusat data. Salah satu
perusahaan besar yang turut mengembangkan Java adalah Google. Dalam
kolaborasinya dengan perusahaan lain yang juga menggunakan dan
mengembangkan Java, Google kemudian menjadi bagian dari Java Community
Process (JCP). JCP adalah sebuah badan yang bertugas membuat
standar-standar untuk Java.

Setelah beberapa tahun berjalan, muncullah Java Micro Edition atau lebih
dikenal dengan Java ME. Sama seperti sebelumnya, Sun juga membebaskan
Java ME untuk para pengembang. Namun karena pasar yang bagus, Sun
membujuk perusahaan besar yang ingin mengembangkan Java ME untuk membeli
lisensi dan masing-masing perusahaan bebas untuk membuat produk apapun
dari Java ME. Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain adalah Nokia,
Research In Motion (RIM), Motorola, LG, Samsung, Vodafone dan juga T-Mobile.

Melihat pasar ponsel pintar ke depan cukup bagus, Google tidak mau kalah
sehingga pada tahun 2007 Google membeli Android dan mendirikan Open
Handset Alliance bersama perusahaan besar lain seperti NVidia, Sony
Ericsson, Samsung dan lain sebagainya untuk menaungi Android. Jalan yang
ditempuh Google ini terbilang halus karena meskipun memanfaatkan
teknologi Java, Google tidak berkewajiban untuk membayar lisensi atau
berurusan dengan itu.

Mulai dari sinilah permasalahan timbul dan sejak saat itu Sun-Google
berusaha membuat kesepakatan bersama namun tak juga mendapatkan jalan
keluar walau berlangsung selama lebih dari 3 tahun.
*
Masalah Sebenarnya *

Sebenarnya masalahnya bukanlah pada Android, melainkan pada Dalvik
Virtual Machine (Dalvik). Dalvik adalah sebuah mesin virtual independen,
baru dan dibuat khusus untuk Android. Dalvik ini adalah produk hasil
?turunan? dari Apache Harmony yang notabene berasal dari Java. Nah,
meskipun Dalvik adalah mesin virtual yang sama sekali baru sekaligus
berbeda dengan Java Virtual Machine, namun hampir sebagian besar (kalau
tidak bisa dikatakan semuanya) library dalam Dalvik diambil dari Java.

Ini adalah jalan berbeda yang menguntungkan bagi Google, ditambah kelak
Android menjadi sistem operasi telepon pintar yang mendunia dan hampir
mengalahkan iOS. Hal ini pula yang membuat Sun sakit hati karena Android
membuat produk hasil Java ME tidak laku. Keuntungan dari penjualan
lisensi Java ME pun merosot.

Sayangnya, membawa perkara ke pengadilan untuk menang bukan sifat Sun.
Sun adalah perusahaan yang memfokuskan diri pada pengembangan dan tidak
(terlalu) berorientasi pada bisnis. Nah, ketika akhirnya Sun diakuisisi
oleh Oracle, masalah inipun mendapatkan dukungan dan angin segar. Karena
Oracle adalah perusahaan yang mementingkan bisnis maka Oracle mengangkat
kembali isu ini dan dibawalah ke pengadilan.

Melihat dari sejarah, maka ada dua kemungkinan motif tuntutan Oracle
atas Google. Pertama adalah menegakkan lisensi Java dan kedua adalah
kekuasaan dan uang. Namun jika melihat dari sejarah dan perjalanan kasus
ini, motif terakhir nampak lebih kuat ditambah latar belakang Oracle.
Dengan kekuasaan Google atas Open Handset Alliance dan pesatnya
penjualan atas Android, maka wajar jika akhirnya Oracle merasa iri dan
menginginkan keduanya.

Selain itu, keluarnya James Gosling dan Jonathan Schwartz juga bisa jadi
sebuah pertanda. Kedua sesepuh Sun ini memutuskan keluar dari Oracle
sesaat setelah Sun dibeli. Dalam sebuah kesempatan, masing-masing juga
mengakui saat proses negosiasi akusisi Oracle membicarakan tentang kasus
ini.

Nah, andai kata Oracle berhasil memenangkan kasus ini maka mereka akan
mendapatkan dua hal sekaligus yaitu kekuasaan dan uang. Siapa sih yang
tidak menginginkan kedua hal tersebut?

Saiful Muhajir *Tentang Penulis: */Ahmad Saiful Muhajir adalah penggiat
dan pemerhati Open Source yang pernah aktif di Jawa Tengah Open Source
Center./

* ( wsh / wsh ) *

Sumber:
http://www.detikinet.com/read/2010/09/21/162539/1444944/399/oracle-vs-google-kekayaan-intelektual-atau-kekuasaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar